
Meninggalkan Samuel yang sedang mandi, aku keluar dan membantu bibi Merry menyiapkan makan malam. Bibi Merry masak banyak sekali. Sepertinya dia sengaja menyiapkan semua hidangan ini untuk menyambut kakek Virendra dan yang lainnya.
"Em, bibi Merry. Bagaimana kakek Virendra itu?" tanya ku pada bibi Merry.
Aku menanyakan itu pada bibi Merry karena aku sama sekali tidak tahu seperti apa kakek Virendra itu, bagus kalau seperti ayah Damar yang perhatian dan ramah. Tapi kalau seperti Adam dan Samuel saat pertama kali bertemu, aku kan harus siapkan mental ku lahir dan batin nanti saat bertemu dengannya.
Mendengar pertanyaan ku, bibi Merry yang sedang mengaduk sup dalam sebuah pot yang terbuat dari porselen mahal pun tersenyum dan berhenti mengaduk sup itu, dia mengangkat spatula yang di gunakan untuk mengaduk sup lalu menutup pot itu dan menghadap ke arah ku.
"Nyonya muda jangan cemas, kakek Virendra itu orangnya memang tegas...!"
Glug
Begitu mendengar kata tegas, aku langsung menelan saliva ku dan sedikit mengangkat alisku melihat ke arah bibi Merry.
Dan melihat reaksiku, bibi Merry malah terkekeh pelan.
"Nyonya muda jangan seperti itu, wajah nyonya muda jelas sekali terlihat panik. Selain tegas, kakek Virendra itu juga jahil loh, kalau beliau melihat wajah nyonya muda yang seperti itu, dia kan mengerjai nyonya muda nanti!" terang bibi Merry.
Aku malah makin merasa tertekan, bagaimana pun kakek Virendra adalah orang yang paling di tuakan di rumah ini dan di keluarga ini. Aku takut sekali menyinggung nya. Mendengar apa yang dikatakan oleh bibi Merry malah membuat ku semakin tegang saja.
"Mengerjai? bibi Merry benarkah?" tanya ku yang hanya fokus pada kata jahil dan mengerjai saja.
Dari semua yang bibi Merry katakan tadi, aku benar-benar hanya fokus pada dua kata itu. Mungkinkah orang seusia kakek Virendra masih suka mengerjai orang.
Dan lagi-lagi mendengar pertanyaan ku dan melihat ekspresi wajah ku. Bibi Merry tersenyum dan mengusap lembut lengan ku.
"Nyonya muda jangan panik seperti ini, tuan besar sangat baik. Nyonya muda tidak perlu bersikap berlebihan untuk mengambil hati Ryan besar, dengan sikap nyonya muda yang apa adanya seperti ini saja, tuan besar pasti akan sangat senang pada nyonya muda!" jelas bibi Merry.
Meski sedikit lega, tapi jujur saja aku masih deg-degan karena ucapan pertama bibi Merry tadi. Di tambah lagi kakek baru saja siuman dan melewati masa kritisnya. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Aku kemudian memikirkan satu hal, dan aku rasa ini sangat penting untuk aku tanyakan pada bibi Merry.
__ADS_1
"Oh ya bibi Merry, apa saja yang kakek Virendra sukai dan tidak?" tanya ku kembali memasang ekspresi wajah serius pada bibi Merry.
Kali ini bibi Merry menanggapi nya dengan serius juga, dia tidak terkekeh seperti sebelumnya. Malah, dia melihat ke arah atas seperti orang-orang yang sedang memikirkan hal penting lainnnya.
"Em, kalau apa yang disukai tuan besar dan tidak itu sih... !"
Bibi Merry menjeda kalimatnya, membuatku makin penasaran dengan apa yang akan dia katakan.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Bibi Merry tak kunjung bercerita, dan terus terang saja itu membuatku ingin bertanya lagi. Tapi aku takut kalau bibi Merry malah merasa aku terlalu menekannya dan dia malah enggan menjelaskan segalanya padaku.
"Sebenarnya tuan besar itu mirip sekali dengan tuan Samuel!" jawab bibi Merry membuat ku membelalakkan mataku.
"Apa bi, mirip Samuel?" pekik ku.
Bibi Merry malah terkejut melihat reaksi ku, tapi beberapa detik kemudian dia mengangguk kan kepala nya.
Aku hanya bisa menghela nafas ku, bibi Merry malah bertanya balik padaku. Aku saja harus makan hati beberapa kali menghadapi kelakuan Samuel dulu, baru baru ini saja dia sangat baik padaku. Dan soal apa yang disukai olehnya dan tidak, aku belum begitu mengerti.
Saat aku dan bibi Merry sedang mengobrol di dapur, dari depan terdengar suara bel rumah berbunyi. Aku langsung beranjak dari tempat ku dan berjalan ke arah depan bersama dengan bibi Merry.
"Sepertinya itu nyonya dan tuan, ayo nyonya muda!" ajak bibi Merry yang terlihat begitu senang.
Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah bibi Merry yang terlihat sangat bersemangat menyambut kedatangan ibu Stella dan juga ayah Damar. Wajar sih kalau bibi Merry sangat senang dengan kedatangan majikannya, meskipun hubungan mereka hanya majikan dan asisten rumah tangga, tapi ibu Stella selalu bersikap baik pada bibi Merry dan semua asisten rumah tangga nya. Hingga para asisten rumah tangga nya juga sangat perduli dan menyayangi keluarga ini.
Saat aku tiba di ruang tamu, ibu Stella terlihat sedang memapah seorang pria paruh baya yang rambutnya sebagian besar sudah memutih. Meskipun demikian tapi dapat terlihat jelas bahwa dia masih sangat berkharisma dan wajahnya dan pandangan nya benar-benar teduh.
"Naira!" panggil ibu Stella padaku.
Aku pun segera bergegas mempercepat langkah ku menghampiri ibu Stella.
__ADS_1
"Selamat malam kakek, Ibu, Ayah!" sapa ku ramah dan tersenyum sambil menyalami ketiganya.
"Ayah, ini Naira. Istrinya Samuel!" ucap ibu Stella memperkenalkan ku pada kakek Virendra.
Aku tersenyum, rasanya gugup tapi aku cukup lega. Karena saat aku mengulurkan tangan untuk menyalami kakek, dia juga langsung memberikan tangannya. Aku merasa kalau kakek Virendra juga adalah orang yang baik.
Kakek Virendra bahkan langsung mengembangkan senyumnya padaku.
"Naira, bagaimana kabar mu nak?" tanya kakek Virendra.
Aku langsung mengangguk kan kepalaku.
"Sangat baik kakek, selamat datang kembali ke rumah!" ucap ku kemudian.
"Kita duduk dulu ya, nanti ayah bisa bicara banyak pada Naira!" ucap ayah Damar yang ikut memapah kakek Virendra.
"Biar Naira saja yang membantuku!" ucap kakek Virendra.
Dan ketika mendengar apa yang kakek Virendra katakan, aku langsung berjalan ke dekatnya dan membantunya menggantikan ayah Damar yang ada di sebelah kanan nya. Ibu Stella tersenyum melihat ku.
"Bagaimana dengan kandungan mu nak?" tanya kakek Virendra sambil kami berjalan menuju sofa ruang tamu.
Aku langsung menoleh ke arah ibu Stella yang mengedipkan kedua matanya dua kali padaku.
"Alhamdulillah, baik juga kakek!" jawab ku sedikit gugup.
Kami lalu duduk bersama di sofa, kakek memintaku untuk duduk di sebelahnya.
"Berapa usia kandungan mu, kakek sudah tidak sabar melihat hasil USG nya!" kata kakek Virendra yang membuat ku langsung berkeringat dingin.
***
__ADS_1
Bersambung...