
Pekerjaan di meja kerja Vina sudah sangat menumpuk, karena memang dia sudah meninggalkan semua pekerjaan itu selama beberapa hari, dan pada akhirnya dia melupakan jam makan siangnya.
Kevin Rahardja yang baru saja kembali setelah melakukan pertemuan dengan klien di luar kantor tidak sengaja bertemu dengan sekertaris Vina saat dia akan berjalan kembali ke ruang kantornya.
"Selamat sore pak Kevin!" sapa sekertaris Vina.
"Sore, apa Vina sudah makan siang?" tanya Kevin yang sebenarnya hanya sambil lalu saja.
"Belum pak Kevin, Bu Vina sudah saya ajak makan siang tapi Bu Vina bilang masih kenyang, dan sampai sekarang malah belum keluar dari ruangannya!" jelas sekertaris Vina tersebut dengan sedikit takut karena Kevin sepertinya tidak senang mendengar apa yang telah dia sampaikan barusan.
"Ya sudah, kamu kembalilah bekerja!" seru Kevin Rahardja lalu segera berbalik dari arah yang sebelumnya ingin dia tuju.
Kevin tidak jadi masuk ke dalam ruangannya, dan malah bergegas menuju ruangan Vina. Begitu dia membuka pintu ruang kerja anaknya itu, dia melihat Vina yang sedang begitu sibuk mengerjakan semua pekerjaan yang sudah dia tinggalkan selama beberapa hari. Bahkan sangking seriusnya, dia tidak menyadari kalau saat ini Kevin sudah berdiri tepat di depan meja kerjanya.
"Sibuk boleh, tapi kamu juga tidak boleh lupa makan Vina!" seru Kevin yang langsung membuat Vina melihat ke arah depan lalu tersenyum.
"Ayah!"
"Tinggalkan semua pekerjaan mu itu, sekarang minta pada Adam untuk membelikan kita makan siang!"
"Ayah juga belum makan siang?" tanya Vina yang terlihat mencemaskan ayahnya.
"Belum, cepat telepon Adam!" lanjut Kevin yang langsung menuju ke sofa dan langsung duduk di sana.
Kevin Rahardja sebenarnya sudah makan siang bersama kliennya di luar perusahaan tadi. Namun karena dia mengerti bagaimana keras kepalanya Vina, dan putrinya itu pasti akan menunda waktu makannya lagi kalau pekerjaan nya belum selesai. Maka Kevin mengatakan kalau dia belum makan siang, karena Kevin tahu kalau Vina tidak akan tega membiarkan ayahnya tidak makan tepat waktu.
__ADS_1
Vina lalu menghubungi Adam.
"Halo Adam, tolong pesan makanan dari kantin ya. Katakan saja pada petugas di kantin kalau makanan itu untukku dan ayah. Mereka sudah tahu menu yang biasa kami makan!" ucap Vina dengan nada datar pada Adam.
"Kamu jangan semakin tidak tahu aturan ya, kamu sudah memintaku memfotokopi semua dokumen yang bahkan tahunnya saja sudah tahun kemarin, sekarang kamu minta tolong pesankan makanan di kantin, apa kamu pikir aku pelayan mu?" tanya Adam di seberang telepon dengan nada suara yang makin meninggi.
Vina sampai menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya karena merasa nada suara Adam yang semakin meninggi membuat telinga nya berdengung.
"Kenapa marah-marah begitu, memangnya kamu pikir apa tugas asisten itu, baiklah tidak usah kerjakan semuanya. Aku juga tidak akan memaksamu, aku hanya akan pulang dan memberikan rekaman saat kita bicara di rumah sa...!"
"Tunggu dan diam lah, aku akan segera antar kan makanannya ke ruangan mu!" ucap Adam menyela apa yang baru saja Vina ingin katakan.
Setelah mengatakan semua itu, Adam langsung menutup panggilan telepon nya. Vina hanya terkekeh mendengar Adam yang akhirnya setuju juga dengan permintaan nya.
Melihat Vina terkekeh setelah bicara pada Adam, Kevin merasa cukup tenang. Dia yakin kalau suami anaknya itu juga tidak memperlakukan nya dengan buruk karena Vina sering terlihat terkekeh setelah bicara dengan Adam. Meskipun saat Vina terkekeh, Adam terlihat kesal dan tidak senang sama sekali.
"Tunggu sebentar ayah, Adam sedang memesan makanan untuk kita!" ucap lalu duduk di sebelah Ayahnya.
"Bagaimana kehidupan mu setelah tinggal di ruang suami mu? apa semua baik-baik saja?" tanya Kevin dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
Vina diam sejenak, dia harus memilah-milah apa yang akan dia katakan. Dia takut dia malah membahas apa yang terjadi pada Adam, dan dia khawatir kalau ayahnya mengetahui jika Adam mengidap bipolar, maka ayahnya akan memintanya untuk berpisah dengan Adam, sementara Vina masih butuh bantuan Adam dan juga keluarga Virendra untuk memberi pelajaran pada Jodi dan juga Caren.
Dengan senyuman yang dia buat senatural mungkin, Vina tersenyum dan melihat ke arah ayahnya.
"Semuanya baik-baik saja ayah, semua orang di kediaman Virendra sangat baik padaku, apalagi ibu mertuaku. Dia begitu baik, sampai dia selalu menyalahkan Adam dan terus membelaku!" ujar Vina sambil terkekeh karena mengingat kejadian saat Stella malah membela Vina dan menyalahkan Adam, padahal Vina yang membuat masalah kala itu.
__ADS_1
Kevin cukup mengenal baik putrinya itu, dan dia tahu kalau Vina memang berkata jujur.
"Baguslah kalau begitu, tapi nak. Masih ada yang mengganjal di pikiran ayah. Kenapa kamu memutuskan untuk menikah dengan Adam, sementara kamu dulu begitu mencintai Jodi bahkan kamu minta perusahaan ayah ini merger dengan perusahaan Jodi, kamu bahkan minta dia menjadi wakil ayah. Apa ada yang kamu sembunyikan dari ayah nak?" tanya Kevin yang sebenarnya dari awal sudah merasa kalau ada yang di tutupi oleh Vina darinya.
Vina sebenarnya ingin sekali jujur pada ayahnya, tapi Jodi sudah berhasil membuat para pemegang saham lain mempercayainya dan telah menjadi wakil CEO perusahaan ayahnya.
'Semua itu memang kesalahan ku ayah, karena itu sekarang aku akan berusaha mengungkap semua kelicikan dari Jodi. Aku yang membuatnya masuk ke perusahaan ini, aku juga yang akan membuatnya pergi dari perusahaan ini bahkan dari kehidupan kita ayah!' batin Vina.
"Vina!" panggil Kevin karena Vina masih terus diam.
"Ayah, sebenarnya ada hal ingin aku ceritakan pada ayah dan ibu. Tapi nanti saja, aku akan ceritakan pada kalian kalau aku sudah punya buktinya...!"
"Kamu putri ayah Vina, tanpa bukti pun ayah akan tetap percaya padamu!" ucap Kevin yang mencoba meyakinkan anaknya agar percaya pada Kevin dan menceritakan segalanya sekarang juga.
"Ayah... !" Vina menjeda kalimatnya karena tiba-tiba saja Jodi mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan Vina.
"Boleh aku masuk?" tanya Jodi.
"Silahkan Jodi, ada apa?" tanya Kevin.
Vina yang awalnya sudah mau cerita pada ayahnya kemudian hanya bisa menghela nafasnya saja.
Ternyata Jodi tidak sendirian, dia bersama dengan Caren dan Jenny, asistennya. Mereka membawakan makanan untuk Vina dan juga Kevin.
"Om Kevin, tadi aku dengar Adam memesan makanan di kantin. Kebetulan kami juga akan makan siang, jadi kami pikir akan lebih menyenangkan kan kalau kita makan bersama?" tanya Jodi dengan senyuman yang begitu lebar di wajahnya membuat Vina mual melihat nya.
__ADS_1
***
Bersambung...