Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
55


__ADS_3

Naira mengenal suara itu, dia tahu kalau orang yang sedang memanggil namanya itu adalah orang yang mungkin bisa menjadi tempatnya bersandar saat ini karena kesedihannya akibat perkataan dan juga perlakuan yang menurutnya sangat kasar dari Samuel.


Naira berbalik dan menabrakkan dirinya pada Riksa yang sedang berdiri sambil masuk ke dalam lift.


Bruk


Riksa terkejut, dia terdiam mematung saat pintu lift tertutup dan Naira yang tiba-tiba sudah berada di dadanya dan memegang jasnya dengan kuat sambil menangis.


"Hiks... hiks... Riksa. Aku mohon biarkan aku menangis sebentar saja!" lirih Naira yang saat ini benar-benar merasa sangat lemah dan sedih.


Dia hanya ingin menangis dan bersandar pada seseorang, jika selama ini dia selalu mengadu dan mencurahkan keluh kesahnya pada sang ayah, tapi kali ini dia tidak bisa melakukan hal itu, karena jika ayahnya tahu apa yang sebenarnya terjadi dan menimpa putrinya itu. Ayahnya akan semakin sedih. Dia sudah mengambil keputusan tanpa bicara pada ayah dan ibunya karena tidak ingin membawa mereka dalam masalah yang sedang di hadapi oleh Naira, maka saat ini dia juga tidak bisa mengadu dan berkeluh kesah pada sang ayah tentunya.


Riksa juga sepertinya telah menebak apa yang telah terjadi pada Naira. Sebab terakhir kali Naura bersama dengan Samuel. Penyebab Naira seperti ini pasti bos nya itu.


'Bos, apa yang harus aku lakukan padamu! tidak kamu tahu dengan bersikap seperti ini pada Naira, kamu juga tidak akan bahagia!' batin Riksa sedih.


Riksa mengusap punggung Naira perlahan, dia ingin menenangkan calon istri bos nya yang belum menjadi istri nya saja sudah menangis seperti ini. Apalagi nanti mereka sudah hidup bersama. Pikiran Riksa jadi macam-macam dibuatnya. Tapi bagaimana pun Riksa hanya bisa menuruti setiap perintah dari bos nya itu.


Setelah beberapa detik, Naira menarik dirinya.


"Maafkan aku Riksa, aku jadi mengotori kemeja mu!" ucap Naira menyesal setelah melihat hasil dari apa yang sudah dia lakukan. Karena air matanya membuat kemeja Riksa jadi basah.


Riksa hanya bisa tersenyum sambil mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jasnya.


"Ini, bersihkan air mata di wajah mu!" ucap Riksa dengan lembut.


Ketika Naira masih menyeka tangisnya, Riksa menghela nafas panjang.


"Maafkan bos Samuel ya, kamu adalah gadis yang kuat Naira. Aku yakin kamu akan bisa menghadapi semua ini. Kamu pasti bisa, dan...!" Riksa menjeda kalimat nya.

__ADS_1


Naira juga masih terus mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Riksa sambil menghapus air matanya. Untung saja make up yang dipakai oleh Naira waterproof, jadi aman lah dari air mata nya.


"Kalau kamu butuh seorang teman untuk bercerita, atau sebuah tempat untuk menangis. Maka aku dan rumah ku akan selalu ada untuk mu!" ucap Riksa dengan suara lembut dan terdengar sangat tulus.


Naira langsung menatap wajah sejuk dan menenangkan Riksa. Matanya berkaca-kaca, Naura sungguh sangat terharu atas apa yang baru saja dikatakan Riksa padanya.


Pernyataan tulus dari seseorang yang bahkan baru di kenalnya beberapa hari, terdengar seperti sebuah sandaran bagi Naira. Dia yakin kalau dirinya punya seseorang yang akan memegang tangannya saat dia akan jatuh, dan menjadi tempatnya bercerita saat hatinya sudah penuh.


Naira tersenyum, dia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan nya.


"Terimakasih banyak Riksa, terimakasih!" ucap Naira lalu tanpa sadar kembali memeluk Riksa.


Riksa hanya tersenyum dan kembali mengusap punggung Naira perlahan, dia senang dan merasa cukup lega. Karena Naira sudah berhenti menangis dan mau kembali tersenyum. Setidaknya dia yakin kalau apapun itu yang sudah Samuel katakan dan menjadi penyebab kesedihan Naira, hal itu perlahan berkurang dari hati Naira dan tak lagi menjadi beban baginya.


Ting


"Kalian!!" pekik seseorang yang membuat Naira dan Riksa menoleh ke arah orang itu secara bersamaan.


Pria itu terlihat sangat kesal, dan menarik tangan Riksa agar keluar dari dalam lift.


"Apa yang kalian lakukan, kamu..!!" geram Adam pada Riksa.


Benar, pria itu adalah Adam. Seperti nya Adam telah salah paham tentang apa yang baru saja di lihatnya.


Saat Adam sudah mengangkat tangan dan seperti nya akan memukul Riksa yang hanya diam dan tidak menjelaskan apapun, Naira dengan cepat menahan tangan Adam.


"Kamu mau apa?" tanya Naura setengah berteriak dengan wajah yang terlihat panik.


"Diam kamu wanita bodoh, entah apa yang dilihat kak Samuel darimu. Aku rasa dia buta karena selalu salah memilih wanita!" teriak Adam di depan wajah Naira.

__ADS_1


Naira hanya memejamkan matanya saat Adam berteriak padanya.


"Lepaskan dulu Riksa, kenapa kamu mau memukul nya?" tanya Naira lagi. Dia sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Adam.


Naira hanya tidak ingin Adam memukul Riksa, karena dia juga tidak mengerti kenapa Adam akan melakukan itu.


"Kenapa? kamu mau membela selingkuhan mu ini. Setidaknya kalian bisa cari waktu dan tempat lain, tidak pada jari pernikahan dan tidak di tempat ini!" kesal Adam yang mata dan wajahnya sudah memerah.


Naira terkejut, tapi dia juga akhirnya bisa mengetahui penyebab kemarahan Adam pada Riksa.


"Selingkuhan?" tanya Naira.


"Adam kamu salah paham, kamu berfikir aku berselingkuh dengan Riksa?" tanya Naira kesal.


"Kamu bilang aku bodoh hah? aku rasa ucapan mu itu lebih tepat untuk dirimu sendiri, kamu pasti lebih mengenal Riksa daripada aku kan? kamu pasti tahu betapa setianya dia pada Samuel. Bahkan kalau pun aku mau dengannya, dia tidak akan mau dengan ku. Karena apa? karena lebih baik dia mati daripada dia harus mengkhianati Samuel!" pekik Naira sangat kesal.


Bagaimana bisa orang yang seharusnya lebih mengenal siapa Riksa sebenarnya memberikan tuduhan itu padanya. Dan kenapa Riksa juga malah diam saja, bagiamana kalau dia dipukul oleh Adam. Naira benar-benar tidak habis pikir.


"Lalu kenapa kalian berpelukan di dalam lift?" tanya Adam masih mencoba mencari tahu kebenaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku sedih, menangis. Karena itu dia berusaha menenangkan aku, hanya itu. Seperti yang dilakukan oleh seorang kakak untuk adiknya!" jelas Naira pada Adam.


Adam terdiam dan melepaskan tangannya yang satu lagi yang sejak tadi masih menarik kerah kemeja Riksa. Adam melihat ke arah Riksa, dia terpengaruh untuk sesaat pada apa yang dia lihat tanpa tahu kebenaran dan tanpa bertanya terlebih dahulu pada Riksa.


Naira sendiri terlihat kesal pada sikap diam dan seperti nya pasrah yang di tunjukkan oleh Riksa. Walaupun Adam juga adalah adik dari bosnya, Naira merasa sikap Riksa terlalu naif jika tidak mau membela dirinya sendiri.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2