
Author POV
Samuel terlihat sedikit kecewa karena Naira tiba-tiba memutuskan panggilan telepon nya. Riksa melihat raut wajah Samuel yang seperti pakaian lece'k yang belum di setrika segera menghampiri nya dan bertanya.
"Bos, ada apa? apa Naira baik-baik saja?" tanya Riksa yang sebenarnya juga penasaran kenapa Naira menghubungi Samuel malam-malam begini.
Samuel tidak langsung menjawab, malah dia memicingkan matanya pada sekertaris pribadinya yang sejak tadi menemaninya itu. Sebenarnya bukan mereka saja yang lembut sampai dini hari begini, beberapa karyawan pria bagian administrasi juga ikut lembur.
Hanya karyawan wanita yang di perbolehkan pulang jam sepuluh malam tadi, dan Dina dia harus di jemput oleh kakak iparnya karena pulang sekitar setengah satu malam tadi. Itu pun karena kakak nya sangat cemas dan meminta agar kakak iparnya menjemput Dina. Karena kakak iparnya sudah datang, mau tak mau Samuel pun mengijinkan Dina untuk pulang.
Kembali lagi pada sikap Samuel yang sepertinya tak menyukai pertanyaan dari Riksa itu, dia membuat Riksa sedikit menjauh karena merasa kalau Samuel sedang menantangnya.
"Bos, aku tidak maksud apa-apa. Aku hanya khawatir...!"
"Khawatir pun tidak boleh, ingat dia adalah nyonya bos mu. Jangan macam-macam padanya!" seru Samuel lalu kembali ke meja kerjanya.
Dia tidak langsung melanjutkan pekerjaannya, melainkan malah melamun dan menyandarkan dirinya di sandaran kursi kebanggaan nya sambil melihat ke arah jendela.
'Apa dia memang tidak menyukai ku? apa sebenarnya dia hanya menuruti semua keinginan ku karena dia merasa aku ini suaminya dan harus dia hormati dan turuti sebagai kewajiban nya saja!' batin Samuel yang terus melihat ke jendela kaca yang menunjukkan kelap kelip lampu yang menghiasi kota.
Sementara Samuel masih larut dalam lamunannya, Riksa kembali memperhatikan bos nya itu.
"Apa dia belum membalas perasaan mu?" tanya Riksa spontan hingga Samuel juga menjawab dengan spontan.
"Ck... belum, aku tidak tahu... !" Samuel langsung menoleh ke arah Riksa.
__ADS_1
"Hei, kamu sengaja ya!" protes Samuel yang baru menyadari kalau dia sudah menjawab pertanyaan pribadi yang seharusnya tidak dia katakan pada siapapun.
Karena mengatakan kalau Naira belum membalas perasaan nya, sama saja dengan mengakui kalau dirinya belum berhasil menaklukkan hati wanita yang sudah menjadi istri dan calon ibu dari anaknya itu. Itu merupakan sebuah kemunduran bagi Samuel, dan dia tidak mau sampai ada yang tahu tentang hal itu.
Namun karena Riksa bertanya saat dirinya sedang tidak siap, saat dirinya sedang melamun. Itu membuat Samuel keceplosan dan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat itu.
Tapi Riksa malah tidak perduli dengan sikap Samuel, seolah dia sengaja membuat Samuel makin kesal. Riksa malah terlihat membelakangi Samuel dan terkekeh kecil. Apa yang di lakukan oleh Riksa itu terlihat jelas oleh Samuel, hingga pria tinggi dan tampan itu berdiri dari posisi duduk nya dan bergegas berjalan mendekati Riksa.
Samuel langsung menarik lengan Riksa hingga membuat Riksa yang tadinya posisinya membelakangi Samuel jadi berhadapan dengannya. Samuel bahkan memasang tatapan seperti seorang raja rimba yang sedang menunjukkan wilayah kekuasaan nya pada anggota kelompok yang lain.
"Kamu tertawa? apa yang kamu tertawa kan?" ucap Samuel dengan nada dingin.
Riksa langsung mengangkat tangannya ke arah depan nya, hingga menutupi pandangan nya pada wajah Samuel yang sebenarnya membuatnya sangat merinding.
"Bos, bukan begitu. Aku adalah orang yang paling bahagia kalau bos dan Naira bisa bersatu dan saling menyayangi!" ucap Riksa membuat amarah Samuel sedikit mereda.
"Ck... dasar pandai bicara!" kesal Samuel lalu memalingkan pandangannya dari Riksa.
Riksa yang mengenal baik kedua sahabatnya itu pun merasa dirinya perlu bicara pada Samuel agar Naira bisa menerima Samuel sepenuh hatinya. Riksa lalu mendekati Samuel dan menepuk bahu bos sekaligus sahabatnya itu.
"Bos, percayalah. Jika cintamu pada Naira tulus. Cepat atau lambat Naira akan merasakan ketulusan mu itu, dan pasti juga akan mencintai mu. Naira adalah wanita yang baik, aku yakin saat dia jatuh cinta padamu nanti, kamu lah satu-satunya pria dalam hati dan hidupnya!" ucap Riksa secara diplomatis kepada Samuel.
Riksa bahkan mengatakan kalimat itu sambil tersenyum, membuat Samuel memperhatikan apa yang dikatakan oleh Riksa dan ekspresi tenang dan penuh ketulusan dari pria yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda darinya itu.
"Kenapa aku merasa kalau kamu lebih mengenal istriku daripada aku?" tanya Samuel dengan tatapan penuh selidik pada Riksa.
__ADS_1
Riksa langsung menarik tangannya dari Samuel dan mengangkat bahunya sekilas.
"Memang aku lebih dekat dengan nya dari pada bos kan, sebelum kalian menikah!" jawab Riksa santai.
Sebenarnya apa yang di katakan oleh Riksa itu memang benar, akan tetapi hal itu membuat Samuel menjadi lebih kesal dari yang sebelumnya.
"Dasar, menjauh lah dariku dan kerjakan pekerjaan mu. Jangan bicara melebihi umur mu! menikah saja belum, berani menceramahi ku!" kesal Samuel dan kembali ke meja kerjanya.
Setelah Samuel duduk di kursi kebanggaan nya Riksa juga kembali ke meja panjang yang sebenarnya adalah meja tamu. Tapi Riksa menggunakan nya sebagai meja kerja dengan kertas dan dokumen yang berserakan di atas meja. Juga dua buah laptop yang kedua masih sama-sama menyala. Yang satu di pakai untuk melakukan zoom dengan beberapa karyawan bagian administrasi dan yang satunya lagi digunakan untuk mengetuk dan menyusun laporan yang akan di gunakan untuk presentasi besok pagi dengan perusahaan Rizaldi.
Setelah Riksa di sibukkan kembali dengan pekerjaan nya, Samuel kembali menoleh ke arah Riksa dan memperhatikan sekertaris pribadi nya sekaligus sahabatnya itu.
'Sebenarnya apa yang dia katakan tadi ada benarnya juga, sikap ku dulu pasti membuat Naira berpikir kembali untuk bisa menerima ku sepenuhnya! baiklah aku akan lebih berusaha lagi, aku tidak ingin kehilangan wanitaku itu, tidak ingin dan tidak akan pernah!' batin Samuel.
Tapi tanpa Samuel sadari, kalau Riksa juga ternyata bisa melihat gerak-gerik Samuel dari pantulan laptop nya.
Dan tanpa melihat ke arah Samuel, Riksa berkata.
"Jangan memandang ku seperti itu bos, mentang-mentang Naira tidak membalas cintamu, kamu mau berpaling padaku?" tanya Riksa yang membuat mata Samuel membelalak sempurna.
Samuel langsung meraih pulpen yang ada di atas meja dan melemparkannya dengan kencang ke arah Riksa. Untung saja Riksa yang terbiasa bergerak dan merespon cepat, dapat menghindari lemparan pulpen Samuel itu.
"Sebaiknya selesaikan pekerjaan mu sebelum jam enam, atau aku akan memotong gaji mu!" bentak Samuel.
***
__ADS_1
Bersambung....