
Mendengar kalimat terakhir dari ayah sebelum menutup panggilan telepon nya. Membuat ku menelan saliva ku dengan susah payah. Masalahnya setelah itu tatapan Samuel mulai berubah menjadi seperti seorang yang sangat menginginkan hal itu.
Aku langsung berdiri dari duduk ku.
"Mas aku ganti baju dulu ya!" ucap ku.
Aku segera berjalan ke arah kamar, tapi kemudian aku sangat terkejut. Karena Samuel yang tiba-tiba mengunci pintu kamar dan meletakkan ponselnya di atas meja.
Aku pura-pura tidak melihatnya dan langsung membuka lemari, meraih satu setel pakaian.
"Eh!" aku terkejut dan pakaian yang aku ambil tadi jatuh kelantai.
Samuel sudah menggendongku dan membaringkan aku di tempat tidur.
"Tidak usah ganti baju, akan di lepas juga kan!" ucapnya dan langsung melancarkan aksinya.
Keesokan harinya...
Kruyukk kruyukk
Samuel menghentikan aktifitas nya dan melihat ke arahku.
"Sayang, kamu lapar?" tanya nya lalu turun dari atas dan berpindah ke samping kanan ku.
Aku langsung melirik ke arah jam di dinding, ini sudah dua jam sejak aku tadi ingin sarapan.
"Mas, aku boleh makan dulu tidak?" tanya ku pada Samuel.
Mendengar pertanyaan ku, Samuel malah terkekeh sambil mencium pipi kiri ku.
"Makan lah, aku akan mandi!" ucapnya lalu turun dari tempat tidur tanpa memakai apa-apa dan berjalan dengan santainya ke arah kamar mandi.
Aku mengusap wajah ku kasar, lalu turun juga dari tempat tidur dan mengambil pakaian yang tadi terjatuh di lantai. Aku langsung memakainya dan berjalan dengan perlahan ke arah ruang tamu kamar hotel.
__ADS_1
Aku duduk dan memakan makanan yang tadi disiapkan oleh Samuel. Memang sudah dingin tapi tetap enak, makanan hotel bintang lima memang berbeda.
Ketika aku sedang asik makan sarapan yang rasanya lezat ini, ponsel Samuel tiba-tiba bergetar. Aku hanya melirik sekilas. Tidak berani untuk mengangkat nya.
Tapi ponselnya bergetar lagi, dan terus menerus. Karena penasaran aku membaca tulisan di layar ponsel. Dan ternyata Riksa yang menghubungi mas Sam.
'Kalau Riksa, mungkin tidak apa-apa kalau aku mengangkat nya' gumam ku dalam hati.
Aku memasukkan potongan roti terakhir yang aku pegang dengan tangan kananku. Aku lalu menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas. Karena mulutku penuh dengan roti, aku tidak bisa menyapa terlebih dahulu. Jadi aku mengambil minum dan menyalakan speaker ponsel untuk bisa mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Riksa.
"Bos, ternyata mobil yang di pakai untuk menabrak Naira adalah mobil sewaan bos. Dan penyewa pada hari dan tanggal kejadian atas nama...!" Riksa menjeda kalimatnya.
Aku yang sudah minum, sebenarnya ingin bicara tapi ketika Riksa bicara lagi, aku langsung terdiam.
"Adam Virendra!" lanjutnya dengan nada suara yang terdengar aneh.
Aku langsung diam mematung.
Aku terus berpikir apa yang membuat Adam bisa melakukan hal itu, tapi sekeras apapun aku berpikir aku tidak menemukan jawaban nya. Jika Samuel tahu tentang hal ini, maka dia pasti akan sangat marah pada Adam, dan hubungan mereka yang sudah sangat renggang akan menjadi semakin renggang.
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat, Samuel tidak boleh tahu tentang hal ini.
"Halo Riksa, ini Naira!" ucap ku setelah cukup lama terdiam.
"Nai!" Riksa terdengar kaget.
"Nai, tadi itu... bos minta...!" Riksa bahkan berusaha menjelaskan, tapi jelas dia mengatakannya dengan gugup.
Pasti Samuel yang memintanya untuk menyelidiki masalah ini secara diam-diam. Tapi kalau hasilnya adalah itu mobil yang di sewa Adam. Ini sangat tidak baik.
"Riksa, apa semua itu sudah pasti?" tanya ku pada Riksa.
"Rekaman CCtv hanya memperlihatkan nomor polisi dan juga jenis mobil. Kami sudah menyelidiki ke semua rekaman CCtv di perusahaan, area parkir dan CCtv jalan raya, di hari dan tanggal kejadian kecelakaan yang menimpa kamu Nai, dan saat kami datang ke tempat penyewaan mobil, secara diam-diam kami mencari informasi!" ucap Riksa.
__ADS_1
Aku masih mendengarkan penjelasan Riksa. Aku rasa dia memang tidak akan mengatakan dan melaporkan apapun kalau memang belum pasti.
"Karena mereka selalu merahasiakan dengan sangat rahasia penyewa mobil mereka, tapi kami berhasil mengetahui setelah membobol komputer pusat informasi mereka, dan pada hari itu kelas Adam Virendra yang menyewa mobil itu. Kamera CCtv juga memperlihatkan Adam datang ke tempat penyewaan mobil itu pada hari dan tanggal tersebut!" jelas Riksa panjang lebar.
Aku mulai panik, masalahnya sepertinya akan menimbulkan masalah besar kalau sampai Samuel mendengar semua penjelasan Riksa ini.
"Riksa, bolehkah aku minta tolong padamu?" tanya ku ragu pada Riksa.
Aku tahu kalau Riksa sangat setia pada Samuel, dia tidak mungkin menutupi kebenaran ini dari Samuel. Tapi kalau dia mengatakan yang sebenarnya pada Samuel, maka suami ku yang sekarang sudah mulai tenang itu akan mulai arogan dan menjadi sangat marah lagi pada Adam.
Sementara ayah dan ibu mertua ada di luar negeri. Aku juga tidak tahu harus menceritakan tentang masalah ini pada mereka atau tidak. Karena mereka sudah punya masalah yang lebih pelik.
"Apa itu Nai, aku sudah katakan kalau kamu butuh bantuan. Tangan ku akan selalu terbuka!" jawab Riksa membuat ku menghela nafas lega.
Aku lalu berdiri dan melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup dan masih terdengar suara air mengalir dari shower, yang artinya Samuel masih belum selesai mandi.
"Tolong jangan katakan semua ini pada Samuel!" ucap ku.
"Apa Nai? maafkan aku, tapi aku tidak pernah berbohong pada bos...!"
"Riksa dengarkan aku, tidak usah berbohong. Katakan saja kamu belum menemukan orangnya, setelah itu tolong pastikan lagi. Bukannya aku tidak percaya padamu, kamu tahu kan aku sangat mempercayai mu. Tapi masalahnya adalah hubungan antara Samuel dan Adam baru saja membaik. Aku tidak mau sampai hubungan mereka kembali menjadi merenggang karena masalah ini. Tolong Riksa!" pinta ku pada Riksa.
"Tapi dia sudah berniat mencelakai mu Nai!" ucap Riksa yang seperti nya juga sangat perduli padaku.
"Masalahnya adalah, tidak ada bukti yang benar-benar menunjukkan kalau Adam ada di dalam mobil itu, dia hanya datang ke tempat penyewaan mobil dan namanya tercatat disana, tapi siapa yang mengendarai mobil itu kita belum tahu pasti!" ucap ku.
Aku bahkan tak percaya aku bisa mengatakan kalimat sepanjang dan se masuk akal ini.
"Nai... kamu benar. Aku akan menyelidiki nya lagi. Aku tidak berpikir sampai ke situ. Tapi kalau boleh aku mengatakan sesuatu, semakin lama kamu bersama bos, seperti nya jalan pikiran mu semakin mirip dengannya!" ucap Riksa membuat ku hampir tersedak saliva ku sendiri.
***
Bersambung...
__ADS_1