Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
139


__ADS_3

Aku sudah berada di salah satu meja yang telah di tunjukkan oleh pelayan hotel, seperti nya memang setiap tamu yang reservasi disini di perlakukan dengan sangat sopan dan ramah tamah oleh para petugas hotel dan pelayan yang ada.


Aku juga sudah memesan makanan apa yang aku inginkan. Dan di depan ku juga sudah ada secangkir mocaccino hangat. Tapi bukannya makanan yang aku tunggu yang datang, malah seseorang yang sama sekali tidak ingin aku temui yang datang.


"Sendirian saja? oh... sudah pasti. Karena Samuel memang sedang ada janji dengan ku!" ucap seorang wanita yang sama sekali tidak ingin ku lihat wajahnya pagi ini.


'Astaga, kenapa malah dia yang datang. Aku lapar sekali, jika tidak aku lebih baik pergi dari sini!' gumam ku dalam hati.


Aku juga heran pada wanita ini, dia bicara seolah sedang menyanjung dirinya. Apa dia tidak sadar kalau dia menyanjung dirinya yang berhasil merayu pria yang sudah beristri, bukankan sama saja dengan dia bangga jadi perusak hubungan orang lain. Bukankah seharusnya dia malu, kenapa dia malah bangga sih. Dasar wanita aneh.


Aku masih terus diam dan memalingkan wajahku.


"Ck... aku tahu kamu pasti tidak senang padaku. Dan aku juga tidak perduli akan hal itu. Kejadian di Singapura waktu itu aku mengira kami adalah wanita yang hanya di sewa oleh Samuel untuk memuaskan...!"


Aku langsung berdiri dari kursi ku, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semua kata-kata pedas yang keluar dari mulut wanita bernama Caren itu.


"Hei, tunggu. Mau kemana? aku belum selesai!" pekiknya saat aku pindah ke meja yang lain.


Caren bahkan mengikuti ku pindah meja, rasanya aku ingin melemparkan vas bunga yang ada di depan ku ke arah tembok. Aku sangat kesal. Kenapa ke arah tembok dan tidak ke arahnya, itu karena kalau aku melempar ke arahnya maka aku akan melukainya dan kalau aku melukainya, dia bisa menuntut ku dan dimana aku akan berakhir. Pastinya di dalam penjara. Samuel tidak akan membantuku. Karena yang aku lukai adalah wanita yang dia cintai. Mungkin saja Samuel juga akan marah-marah padaku, dan mungkin dia akan berbuat hal yang tak terpikir oleh ku.


Aku kembali melihat ke arah wanita itu.


"Aku mau sarapan dengan tenang. Tolong jangan ganggu aku!" ucap ku masih dengan nada yang ramah.


"Sebenarnya aku juga tidak mau bicara lama-lama dengan mu. Tapi aku punya saran ya, sebaiknya jangan sarapan berat di pagi hari. Lihat tubuh mu itu. Terlihat gendut!" ucapnya santai.


Aku mengernyitkan kening ku mendengar apa yang dikatakan oleh Caren. Apa maksudnya bilang aku gendut, aku ini hanya sedikit berisi. Justru dia itu yang terlalu kurus, aku saja yang wanita tidak suka melihat badannya itu. Tapi aku malah ingat ucapan Samuel semalam, kalau dia kasihan pada Caren karena dia kurus. Huh, kenapa aku jadi ingat itu lagi. Membuat selera makan ku hilang saja.


"Kamu tahu, Sam tidak suka wanita gendut. Dia suka pada wanita yang pinggang nya ramping dan yang bisa duduk di pangkuan nya...!"


"Sebentar sebentar, kamu sedang membicarakan dirimu?" tanya ku kesal.

__ADS_1


Caren terdiam dan menunjukkan senyum sinis nya padaku.


"Memangnya kenapa? itu kenyataan! kamu tahu tidak kalau semalam itu Samuel dan aku...!"


"Permisi Nyonya Virendra, apakah saya harus meletakkan makanan ini di meja ini atau di meja itu?" tanya pelayan yang ditangannya sudah memegang nampan berisi makanan.


Aku dan Caren yang menghentikan kalimat yang ingin dia ucapkan menoleh ke arah pelayan itu. Aku langsung berdiri dan berkata.


"Di situ saja, terimakasih!" ucap ku pada pelan itu.


Lalu aku menoleh ke arah Caren.


"Permisi, nona Caren. Nyonya Virendra mau sarapan dulu!" ucap ku dan langsung berbalik lalu meninggalkan nya dan kembali ke meja awal ku tadi.


Aku duduk dan menyantap makanan ku tanpa menoleh ke arah Caren. Aku tak mau melihat ekspresi wajah kesal nya, itu pasti kan. Mau bagaimanapun dia memuji dirinya karena Samuel mencintai nya. Tapi tetap saja, akulah istri sah Samuel. Tidak ada orang lain yang tahu kalau aku istri kontrak nya selain aku, Samuel dan Riksa.


Cukup lama aku makan dengan tidak tenang karena wanita itu tidak juga pergi. Tapi setelah seseorang datang dan memintanya untuk pergi, dia lalu pergi. Dan orang itu malah ikut duduk di depan ku.


Aku menghela nafas pajang. Tadi tunangannya yang percaya dirinya luar biasa sekali itu, padahal dia hanya berhasil menggoda Samuel saja bangga. Samuel itu pria beristri. Dan setelah wanita itu pergi, Kenzo malah yang datang. Bukankah itu sama saja. Mereka berdua selalu mengganggu ketenangan ku.


"Maaf tuan muda Hasigawa, tapi di sana masih banyak meja kosong!" ucap ku.


"Ini pengusiran secara halus rupanya, tapi Naira. Aku sungguh tidak ingin mengganggu mu. Aku hanya mencemaskan mu! apa yang sudah Caren katakan padamu. Apa dia mengatakan sesuatu yang membuat mu sedih atau kesal?" tanya Kenzo padaku.


Dari ucapannya dia terlihat begitu perduli padaku, dia juga pasti sangat kesal melihat kejadian kemarin malam kan. Tapi dia tidak bersikap kasar pada Caren. Apakah karena sikapnya yang lembut ini, Caren mengkhianati Samuel.


Karena Samuel kan kasar dan lidahnya itu tajam sekali kalau bicara. Bahkan sampai sekarang dia tidak mencari atau menyusul ku kemari.


'Aih, apa yang aku pikirkan, tadi kan Caren bilang dia janjian dengan Samuel. Sudah pasti pria itu tidak akan mencari ku!' gerutu ku dalam hati.


Tapi apa Kenzo tahu kalau Caren ada janji dengan Samuel. Apa aku tanya saja ya? ah tidak... tidak... akan terkesan aku terlalu kepo.

__ADS_1


"Sedang memikirkan apa?" tanya Kenzo.


Mungkin aku terlalu lama diam, jadi dia bertanya begitu. Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.


"Tidak ada, kamu juga mau sarapan?" tanya ku yang mulai berusaha bersikap baik pada Kenzo.


Menurut ku kami punya nasib yang sama, di tinggalkan pasangan kami untuk janjian sama orang lain yang mungkin lebih mereka cintai.


"Tentu saja, tapi kalau kamu mengijinkan aku duduk disini dan memesan?" tanya nya dengan sopan.


Aku rasa pria ini memang baik dan sopan. Dia juga pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi ku pikir tidak masalah satu meja dengannya. Aku langsung mengangguk pelan.


"Silahkan saja!" ucap ku lalu melanjutkan sarapan ku.


Dia tersenyum senang lalu memanggil salah seorang pelayan dan memesan makanan.


"Kamu suka nasi goreng?" tanya nya padaku karena yang aku pesan dan yang sedang aku makan adalah nasi goreng.


"Iya, ibu suka membuatkan nasi goreng kalau di rumah untuk sarapan!" jawab ku terus terang.


"Aku juga suka, tapi aku tidak makan makanan berat saat sarapan. Boleh aku coba sedikit?" tanya nya.


Aku terkesiap, kenapa dia malah bilang begitu. Kalau dia mau nasi goreng kenapa dia tidak pesan sendiri saja.


"Ini sudah aku makan, kamu bisa pesan...!"


Belum juga aku selesai bicara, dia meraih sendok dari tangan ku dan menyendok sedikit nasi yang ada di atas piring di depan ku lalu dia makan. Aku masih terdiam, aku tertegun.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2