Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
84


__ADS_3

"Aku bisa sendiri, berikan padaku. Aku akan mengoleskan salep nya di kamar mandi!" ucap ku sambil meraih kotak obat yang ada di pangkuan Samuel.


Aku berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi.


"Naira...!" panggil Samuel tapi aku tidak mau berhenti dan menoleh ke arahnya.


Aku terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi, aku menjatuhkan diriku di lantai setelah menutup pintu. Tubuhku memang terasa sangat sakit, tapi hatiku rasanya lebih sakit. Setelah apa yang dia lakukan padaku semalam, dia bahkan dengan tenang mencium wanita itu di hadapan ku. Apa lelaki itu sama sekali tidak punya hati.


Wanita bahkan telah menyiksa ku, menyakitiku padahal mengenalnya pun tidak. Tapi sebagai seorang suami paling tidak dia bisa kan membela ku. Kenapa malah begitu lembut pada wanita itu.


Aku terdiam, cukup lama aku mengeluarkan segala keluh kesah dan rasa kesal ku dengan menangis. Tapi beberapa saat kemudian aku sadar, aku ini hanyalah istri kontrak nya, mana mungkin dia akan membela ku.


'Apa yang aku harapkan?' tanya ku dalam hati.


Aku berdiri perlahan dan membilas wajah ku dengan air, aku melihat wajah ku yang terlihat begitu menyedihkan di depan cermin di dalam kamar mandi.


"Inilah resiko yang harus kamu ambil Naira, sekarang kamu harus lebih kuat dari sebelumnya!" gumam ku menyemangati diriku sendiri di depan cermin.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar mandi, membuat ku menoleh.


"Naira, kamu lama sekali di dalam? apa semua baik-baik saja?" tanya Samuel dari luar pintu.


Setelah menyeka wajah ku dengan handuk kecil di dalam kamar mandi, aku membuka pintu kamar mandi. Dan ternyata Samuel masih berdiri di depan pintu.


"Maaf tuan!" ucap ku dan melewatinya begitu saja.


Aku masih berjalan pelan, menuju ke arah sofa untuk duduk. Tapi belum juga sampai Samuel sudah menarik tangan ku dan membuat ku menabraknya.


"Agkh!" pekik ku merasakan sakit di sekujur tubuh terutama di pergelangan tangan ku. Secara refleks air mata ku bahkan kembali menetes.

__ADS_1


Aku tahu mungkin saja Samuel akan marah dan menyindir ku cengeng atau apalah, tapi aku tidak perduli. Karena rasanya memang sangat sakit.


Tapi sepertinya apa yang aku kira salah, dia dengan cepat melepaskan genggaman nya di pergelangan tangan ku.


"Naira, aku tidak tahu kalau di situ sakit!" ucapnya dengan nada suara yang datar.


Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.


"Lihat ini!" seru ku sambil memperlihatkan ruam merah kebiruan di pergelangan tangan ku.


"Ini yang kamu lakukan semalam, apa kamu pikir dengan bekas seperti ini tidak terasa sakit. Aku ini manusia biasa tidak seperti mu yang begitu kuat, aku juga punya perasaan. Aku memang berhutang padamu, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan apapun semau mu padaku!" aku berteriak, aku mencurahkan semua beban dan kekesalan yang ada dalam hatiku.


Aku menangis sejadi-jadinya, sambil berjongkok di lantai dan menutupi kepala ku, aku sudah tidak perduli mau di tinggalkan atau apapun itu oleh Samuel.


Samuel tidak bereaksi, dia hanya diam. Dan aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.


"Baiklah, bereskan barang-barang kita. Siang ini juga kita pulang!" ucapnya dengan nada yang sangat biasa lalu keluar dari kamar hotel.


"Apa yang harus kulakukan hiks.. hiks.. pria itu benar-benar tidak punya hati!" gumam ku sambil meratapi nasib ku.


***


Sudah lebih dari dua jam Samuel tidak juga kembali. Aku sudah selesai mengemas barang-barang kami di dalam koper kami masing-masing.


Aku menunggu Samuel datang sambil menonton acara televisi. Tidak sulit memahami bahasa Inggris, aku bisa sedikit-sedikit, jadi aku masih mengerti apa yang di bicarakan di talk show yang aku tonton.


Tak lama kemudian Samuel masuk kembali ke dalam kamar, dan segera memakai jaketnya.


"Ayo, mobil yang akan membawa kita ke bandara sudah menunggu di bawah!" ucapnya lalu membawa dua koper kami keluar dari dalam kamar.


Aku langsung mematikan televisi dan pergi mengikuti Samuel. Langkahnya sangat cepat, aku susah payah berusaha mengikuti nya.

__ADS_1


'Apa pria itu benar-benar tidak punya hati, kenapa harus berjalan secepat itu!' keluh ku dalam hati.


Kami sudah berada di depan hotel, dan supir yang sama waktu itu sudah berdiri di samping mobil. Melihat kami keluar, dia langsung menghampiri Samuel dan membawakan koper yang tadinya di bawa oleh Samuel. Lalu memasukkan ke dalam bagasi, Samuel lalu masuk ke dalam mobil. Aku hanya bisa menghela nafas, saat supir itu yang membukakan pintu mobil untuk ku.


"Please madam!" ucap supir itu dengan sopan sambil tersenyum.


"Terimakasih!" sahut ku lalu masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan menuju ke bandara, kami hanya saling diam dan saling memalingkan wajah ke arah lain. Benar-benar seperti dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal. Tapi itu cukup bagus, setidaknya aku benar-benar tahu dia memang sama sekali tidak menganggap ku.


Beberapa saat kemudian kami pun tiba di bandara, ternyata penerbangan kami memang tidak dalam waktu yang lama lagi. Saat kami tiba, kami langsung ke bagian bording pas dan kami segera masuk ke dalam pesawat.


Aku berfikir, mungkin saja ini yang menyebabkan Samuel begitu terburu-buru saat meninggalkan hotel tadi. Suasana masih sama, sangat hening. Samuel bahkan menolak setiap apa yang di tawarkan oleh pramugari yang menghampiri nya, tidak seperti saat kami akan berangkat kemarin.


Aku hanya bisa menghela nafasku, memandang ke arah jendela, memandang sekumpulan awan putih yang terlihat membentuk berbagai rupa. Aku berusaha untuk melupakan apapun yang telah terjadi kemarin. Aku memejamkan mataku hingga sampai ke alam mimpi.


"Hei... Naira bangun!" ucap seseorang yang membuat ku terbangun dari tidur ku.


Orang itu menepuk-nepuk pipiku dan menggoyangkan lengan ku beberapa kali. Aku membuka mataku perlahan, dan aku melihat orang itu adalah Samuel.


"Sudah sampai tuan?" tanya ku pelan.


"Sebentar lagi sampai, aku membangunkan mu agar kamu tidak kaget saat kita mendarat nanti!" ucapnya memberikan penjelasan untuk alasan kenapa dia membangun kan aku.


Aku tertegun, karena setelah itu dia langsung memalingkan wajahnya lagi. Lagi-lagi aku harus menghela nafasku berat.


'Apa yang aku pikirkan sih, mana mungkin dia perduli padaku. Dasar Naira bodoh, kamu sudah bangun, tapi masih bermimpi!' seru ku dalam hati.


Aku pun kembali memalingkan wajahku melihat ke arah lain seperti yang selalu dilakukan Samuel.


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2