
Author POV
Setelah Naira masuk ke dalam, pak Urip yang sedang menikmati ayam goreng yang diberikan oleh Naira tadi di pos para supir di sebuah ruangan di dekat garasi mobil. Terkejut karena ponsel yang ada di dalam saku baju seragamnya tiba-tiba berdering.
Asep, supir lain yang juga sedang makan ayam goreng pemberian Pak Urip sampai terkekeh melihat reaksi Pak Urip hanya karena bunyi ponsel berdering.
"Pak Urip, itu hanya suara ponsel. Kenapa bapak berjingkat begitu?" tanya Asep sambil terkekeh.
"Kaget Sep, maklum lagi hikmat makannya. Jadi kaget!" jawab pak Urip apa adanya.
Pak Urip dengan cepat mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya lalu meletakkan ayam goreng itu ke dalam bungkusan lagi, dia makin terbelalak dan makin kaget karena yang tertera di layar ponselnya sebagai pemanggil adalah Tuan Samuel.
"Tuan muda!" seru pak Urip dan langsung geser tombol hijau.
"Selamat siang tuan!" sapa pak Urip dengan cepat jadi kesannya bukannya sopan malah seperti orang yang menegur.
"Hei pak Urip, aku masih muda. Tidak perlu berbicara sekeras itu kepadaku. Telinga ku masih normal!" protes Samuel.
"Maaf, maaf tuan!" sahut pak Urip dengan cepat.
Setelah bekerja selama belasan tahun dengan keluarga ini, pak Urip cukup mengerti sekali tapi lihat dari tuan mudanya. Jadi dengan cepat dia meminta maaf agar tuan mudanya itu tidak marah.
"Sudahlah, katakan apakah kalian sudah sampai di rumah?" tanya Samuel.
"Sudah tuan!" jawab Pak Urip sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Asep yang melihat reaksi Pak Urip sambil menelpon itu hanya bisa terkekeh sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Pak Urip juga melihat sedari tadi Asep tertawa terus, tapi dia mencoba untuk tidak memperdulikan itu dan memunggungi Asep.
"Ku dengar di jalan tadi ada demonstrasi apa kalian baik-baik saja?" tanya Samuel lagi.
"Baik tuan!" jawab pak Urip.
"Kalian langsung pulangkan atau perempuan ceroboh itu mampir-mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Samuel yang terdengar seperti sedang menyelidiki kemana saja Naira pergi.
Pak Urip terdiam sejenak sepertinya dia memang harus mengatakan itu pada Tuan mudanya.
__ADS_1
"Tadi nyonya muda ke gerai ayam goreng, untuk membeli ayam goreng...!"
"Pak Urip, aku juga tahu kalau orang pergi ke gerai ayam goreng pasti mereka membeli ayam goreng tidak mungkin mereka membeli pakaian kan?" tanya Samuel yang terkesan jengah.
"Iya tuan... !" ucap pak Urip sambil tersenyum canggung.
"Oh ya tuan, tadi nyonya muda juga sempat pergi ke apotek!" seru pak Urip.
"Ke apotek?" tanya Samuel dengan nada suara yang mulai naik dari nada suara sebelumnya.
"Apa yang dilakukan di apotek?" tanya Samuel lagi. Sepertinya dia terdengar kesal.
"Mungkin membeli obat tuan!" jawab pak Urip sesuai dengan apa yang ada di kepalanya.
"Iya aku tahu, tapi obat apa?" geram Samuel.
"Maaf tuan, saya tidak tahu!" jawab pak Urip dan tiba-tiba saja panggilan itu sudah terputus.
Pak Urip sempat memandang ponselnya beberapa saat, mungkin karena Pak Urip ini memang sudah berumur jadi dia bingung kenapa tuannya, memutuskan panggilan dengan tiba-tiba.
"Pak Urip, kenapa bingung seperti itu. Pak Urip akan membuat ponsel pak Urip takut nanti jika dipandang seperti itu!" kelakar Asep.
***
Sementara di kantor nya, Samuel terlihat sangat kesal. Dia mengobrak-abrik semua dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
"Wanita itu, wanita itu benar-benar...!" geram Samuel sambil mengepalkan tangannya dan meletakkannya menekannya di atas meja.
Riksa yang ruangan nya berada di sebelah ruangan Samuel pun bisa melihat apa yang dilakukan oleh Samuel. Dia mencemaskan Samuel dan akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Samuel.
"Bos, ada apa?" tanya nya khawatir.
"Apa tidak ada yang pernah mengajarkan kepada mu kalau mau masuk ke ruangan seseorang harus mengetuk pintu, Riksa!" bentak Samuel dengan tatapan tajam.
"Maaf bos, tapi ini semua..?" Riksa masih belum menyelesaikan pertanyaannya karena dia terkejut melihat ruangan Samuel yang berantakan.
Tapi Samuel sudah menyela nya.
__ADS_1
"Keluar!" teriak Samuel.
Riksa menelan saliva nya dengan susah payah, sepertinya bos nya kali ini benar-benar marah akan sesuatu hal tapi dia tidak tahu itu. Tapi dia punya firasat tidak baik akan hal ini.
Riksa lalu keluar dari ruangan Samuel dan kembali ke ruangan nya. Dia mengingat apa yang yang mungkin membuat Samuel kesal, tapi dia tidak tahu. Mereka tadi meeting dengan PT Asuransi dan semua berjalan baik-baik saja, jadi Riksa memang tidak bisa menemukan penyebab kemarahan dari bosnya itu. Masalahnya adalah setelah meeting tadi mereka belum bertemu dengan siapapun.
Samuel yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi pun menghubungi bawahannya yang lain, untuk menyiapkan satu mobil kantor untuk dia pakai. Samuel mengambil kunci mobil dari bawahan nya dan langsung meninggalkan perusahaan nya.
Sementara itu di kediaman Samuel, setelah makan siang. Stella dan Damar pamit kepada Naira, karena mereka harus kembali ke luar negeri dan kembali merawat kakek Virendra di sana. Dan Adam, dia akan kembali ke kediaman Virendra. Naira memeluk erat ibu Stella.
"Semoga kakek lekas sembuh seperti sediakala!" ucap Naira dengan lembut.
"Iya sayang, itu lah yang kami semua harapkan juga!" balas Stella sambil mengusap punggung Naira.
Mereka semua sudah pergi, bahkan bibi Merry pun ikut ke kediaman Virendra untuk mengurus segala keperluan Adam. Naira menghela nafasnya, dia cukup sedih karena harus berpisah dengan ayah dan ibu mertuanya yang begitu baik padanya. Setelah beberapa menit di luar, Naira memutuskan untuk masuk ke dalam, tapi baru saja ingin menutup pintu, terdengar suara klakson mobil yang kencang dan berulang, Naira melangkah keluar lagi.
Dia melihat dari arah gerbang, sebuah mobil melaju dengan kencang dan berhenti tepat di depan teras, tepat di depannya berdiri.
Citttt
Suara rem mobil itu sampai sekeras itu berdecit, karena pengemudinya sepertinya menginjak pedal rem dengan mendadak dan cepat.
Naira semakin terkejut ketika melihat yang keluar dari dalam mobil itu adalah Samuel, Naira bahkan sampai terjingkat saat Samuel membanting pintu mobil itu saat menutup nya, suaranya begitu kencang.
Naira merasakan firasat yang tidak baik, ketika langkah Samuel begitu cepat menghampiri nya, benar saja Samuel yang berada di hadapan nya langsung mencengkeram lengan Naira dengan sangat kuat.
Naira meringis kesakitan, tapi dia tidak berusaha untuk memberontak.
"Dimana obat yang sudah kamu beli tadi?" bentak Samuel.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena menahan sakit di lengannya, Naira berusaha untuk bicara.
"O.. obat apa mas?" tanya Naira tidak mengerti.
"Dimana obat yang baru saja kamu beli di apotek tadi?" bentak Samuel lagi membuat Naira memejamkan matanya dan air mata yang sudah menggenang pun tumpah.
***
__ADS_1
Bersambung...