Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
76


__ADS_3

Aku sedang berada di bandara, menunggu Samuel mengurus sesuatu. Dia meminta ku untuk duduk menunggu nya disini dan tidak boleh kemana-mana sampai dia kembali.


Sebenarnya tanpa dia mengatakan itu pun, aku memang tidak akan kemana-mana, aku bahkan baru pertama kali ini pergi ke bandara. Aku dan keluargaku belum pernah naik pesawat. Kami biasanya naik bis atau kereta saat akan menghadiri acara di luar kota. Kalau di luar pulau, kami akan naik kapal Ferry.


Selain lebih hemat, kami juga bisa sekalian jalan-jalan, nama lainnya tuh cuci mata di jalan gitu.


Beberapa orang mengobrol di sebelah ku, aku hanya diam. Karena mereka bicara bahasa yang tidak ku mengerti, bukan bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggris sih, sedikit sedikit aku tahu, kan di sekolah juga belajar.


Seorang pemuda dengan mantel tebal yang baru saja keluar menghampiri ku, dan duduk di sebelah ku.


"Komt er hier iemand zitten?" kata pemuda itu.


(Bahasa Belanda: Apakah akan ada yang duduk di kursi ini?)


Aku mengernyitkan dahi ku.


'Nih orang ganteng ngomong apaan sih?' tanya ku dalam hati.


Karena tak mengerti aku pun berinisiatif untuk tersenyum dan mengangguk. Tapi setelah aku bersikap seperti itu, pemuda itu malah berdiri lagi dari duduknya, dan seperti menghindari ku.


'Eh, kok malah pergi. Aku salah ngomong apa ya? tapi kan aku gak ngomong apa-apa. Aku tadi cuma ngangguk sambil senyum doang!' batin ku dalam hati.


Jujur saja aku bingung, tapi kemudian dia kembali duduk di sebelah kursi yang tadi dia tinggalkan. Aku jadi semakin bingung saja, dia hanya pindah kursi ternyata.


Aku dengan cepat memalingkan wajah ku dari orang itu, berharap dia tidak lagi bicara padaku. Tapi dia kembali tersenyum dan segera membuka suara lagi.


"Waar ga je heen, juffrouw? Als je naar een land op het Europese vasteland gaat, moet je een jas of dikke kleren dragen, het is daar winter. Juffrouw!" kata pria itu lagi.


(Anda akan pergi kemana nona? jika anda akan pergi ke negara yang terletak di benua Eropa, sebaiknya anda memakai mantel dan pakaian yang tebal, disana sedang musim dingin. Nona!)


Aku lagi-lagi harus tersenyum canggung, aku tidak tahu arti dari satu kata pun yang pria itu ucapkan, tapi dia memegang mantelnya. Jadi aku pikir pasti dia sedang menanyakan tentang penampilan nya, mungkin dia sedang menanyakan apakah dirinya cocok dengan pakaian yang dia pakai.


Aku tersenyum dan mengangguk lagi. Aku mengangkat jempol tangan kanan ku ke hadapan nya.


"Good mister, you look so good!" ucap ku mengatakan kalau penampilan nya sangat bagus.


"Hoh, jadi begini kelakuan mu. Aku tinggal sebentar dan kamu sudah memuji lelaki lain?" sebuah bentakan terdengar dari arah belakang ku.


Aku langsung diam mematung, aku kenal betul suara itu. Itu suaranya si lidah tajam. Aku berdiri dan berbalik perlahan.


"Tu..tuan!" ucap ku gugup.


"Tuan apa??" tanya nya dengan membentak dan mata yang melebar.


Samuel bukan hanya melotot ke arah ku, tapi dia juga melotot ke arah pria yang tadi mengajak ku bicara.

__ADS_1


"Excuse me sir, which country are you from?" Samuel sepertinya sedang bertanya pada pria itu dia berasal dari negara mana.


Sudah ku katakan kalau bahasa Inggris, aku sedikit sedikit paham dan mengerti. Tapi kalau bahasa lain, bahasa dari negara lain. Aku angkat tangan. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak mengerti sama sekali. Padahal aku sering nonton drama Korea, tapi yang aku tahu hanya ghamsahamida dan anyeongaseo saja. Selain itu aku tidak mengerti sama sekali.


Pria yang sedang di tanya oleh Samuel tadi juga menjawab dengan sopan.


"I'm from Holland!" jawabnya cepat.


Aku ikut mengangguk kan kepalaku, ternyata pria itu dari Holand. Oh seperti nya aku pernah dengar, tapi dimana ya itu.


"Dus ik begrijp het, maar ik zal u iets vertellen meneer, deze vrouw heeft al een man. Je kunt beter niet bij hem in de buurt komen!" ucap Samuel yang membuat ku melongo.


(Jadi begitu, tapi aku akan memberitahu mu, wanita yang kamu ajak bicara ini sudah punya suami. Jadi jangan mendekatinya!)


Aku benar-benar seperti sedang terdampar di sebuah planet, omongan mereka berdua tidak ada yang aku mengerti.


Pria bule itu seperti nya tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Samuel. Dia lantas berdiri, meraih tasnya dan pergi meninggalkan kami dengan raut wajah tidak suka.


"Tuan, kenapa dia pergi? kenapa juga wajahnya seperti itu. Tuan bilang apa padanya?" tanya ku pada Samuel karena aku benar-benar penasaran.


"Kenapa juga kamu harus begitu perduli padanya! jangan-jangan tadi kamu ya yang menggoda dia?" tanya Samuel main tuduh saja.


Aku langsung membulatkan mata ku saat dia mengatakan itu. Bagaimana dia bisa punya pikiran seperti itu.


"Kenapa malah melotot?" tanya nya lagi memprotes apa yang aku lakukan.


"Tidak tuan, tapi aku memang tidak menggodanya. Dia duduk disini, bicara sesuatu yang aku tidak mengerti lalu dia memegang jasnya, aku kira dia sedang bertanya padaku, dia pantas atau tidak memakai jas itu. Aku hanya bilang kalau dia pantas, jas itu sangat cocok dengannya, dia kelihatan tampan, hanya itu tuan!" jelas ku panjang lebar pada Samuel tapi dia terlihat makin kesal.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya nya dengan sebelah alisnya yang terangkat tinggi.


Nyali ku jadi menciut lagi, dia yang menampilkan ekspresi seperti ini. Benar-benar mirip Deddy Corbuzier ketika menunjukkan ekspresi wajah marah.


Tapi menurutku pertanyaan nya itu ambigu, aku jadi bingung mau jawab apa.


"Aku bilang aku tidak menggodanya tuan!" akhirnya aku menjawab apa yang ada di pikiran ku saja.


Dia mengangkat telunjuknya dan menggerakkan ke kanan dan ke kiri.


"No no, bukan yang itu, yang terakhir, kalimat mu yang terakhir!" serunya tidak senang.


Aku makin bingung, yang mana sih yang dia maksud. Akhirnya aku tahu kalimat terakhir ku tadi.


"Pria itu terlihat tampan...!"


"Ck... ku tambahkan 10 persen lagi hutang mu, berani menyebut pria lain tampan di depan ku. Kurasa nyali mu memang cukup besar!" serunya kesal.

__ADS_1


"Tuan.. tuan.. maaf. Aku janji tidak akan menyebut pria lain tampan lagi. Jangan tambahkan hutang ku tuan, aku saja tidak tahu sekarang jumlahnya sudah berapa, tolong lah tuan!" pintaku memelas pada Samuel.


Aku tidak mau sampai aku berhutang terlalu banyak padanya, bisa-bisa pesangon ku setelah bercerai dengannya habis untuk membayar hutang.


"Enak saja, kamu sudah membuat ku kesal. Untung saja tadi aku katakan kamu itu wanita tidak waras!" ucap nya sambil duduk.


"Hah, apa tuan!" pekik ku terkejut karena aku sungguh percaya pada apa yang di katakan oleh Samuel.


Aku tidak tahu apa yang dia katakan pada pria itu, dan dia bilang dia mengatakan pada pria itu kalau aku tidak waras.


"Kenapa berteriak? mau ku tambah saldo hutang mu?" tanyanya dengan nada suara yang kian meninggi.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak tuan, maaf!" ucap ku pelan.


Aku memalingkan wajah ku dan menundukkan kepala ku. Melihat ke arah sepatu yang aku pakai.


'Pantas saja pria bule tadi langsung pergi, rupanya dia percaya kalau aku ini tidak waras. Dia pasti takut tadi!' batin ku sedih.


Bukan hanya kesalahpahaman pria bule itu sja sebenarnya yang membuat aku sedih. Tapi apa yang dikatakan Samuel. Apa dia harus berkata seperti itu tentang ku. Rasanya menyedihkan sekali mendengar dia bicara seperti itu pada orang lain.


Aku jadi berfikir, apa yang akan aku lakukan nanti di Singapura. Apakah aku akan diam saja di dalam kamar hotel.


"Tuan, apa hanya ada kita berdua disana nanti?" tanya ku pelan setelah sebelumnya aku melirik Samuel. Saat dia sudah tidak lagi melotot, baru aku berani bertanya padanya.


"Lalu kamu mau siapa lagi yang ada disana? Riksa?" tanya Samuel kembali mengangkat alisnya.


"Bukan tuan, maksud ku. Tuan kan akan bersenang-senang dengan pacar tuan. Lalu bagaimana dengan ku, apa akan ada yang menemani ku jalan-jalan?" tanya ku pada Samuel.


Plak


"Aduh!" pekik ku karena Samuel memukul lengan ku dengan tiket dan boarding pass yang ada di tangannya.


"Tuan, kenapa...?"


"Kalau bicara harus pakai otak juga dong! kamu pikir kamu siapa? hah? kamu mau aku sewa seorang pemandu wisata untuk mu begitu? memang kamu punya uang?" tanyanya malah semakin terlihat kesal daripada sebelumnya.


"Bukan begitu tuan..!"


"Lalu apa? kamu pikir aku akan membawa sekertaris ku Dina dan membayar semua belanjaan dan liburan kalian?" tanya nya lagi semakin menyindir ku.


"Bayar dulu hutang mu, baru aku akan lakukan itu!" tegasnya.


Aku yakin ini adalah akhir dari perdebatan kami. Kalimat terakhir Samuel benar-benar menegaskan kalau aku memang tidak akan melakukan apa-apa disana. Baiklah sekarang aku sudah dapat kan jawaban nya. Aku hanya akan di dalam kamar dan bermain game di ponsel ku. Hanya itu, aku tidak akan protes atau bertanya lagi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2