
Stella terduduk lemah tak berdaya di kursi yang ada di sebelah ranjang pasien Adam. Mendengar kalau ada yang mengajukan tuntutan pada putrinya yang jelas-jelas menurut penyelidikan polisi adalah pelaku penabrakan dan bisa disebut sebagai tersangka dalam kecelakaan tersebut, hal itu sudah membuat Stella merasa kalau kedua kakinya lemas dan merasa kalau tidak ada lagi darah yang mengalir sampai ke kedua kakinya tersebut untuk berdiri saja dia sudah berpegangan pada suaminya Damar Virendra.
Apalagi ditambah penjelasan Riksa, bahwa Samuel baru saja menandatangani dokumen bertanggung jawaban atas tindakan operasi pengangkatan rahim pada wanita yang menjadi korban kecelakaan tersebut.
"Ya Tuhan, apa yang akan terjadi?" lirih Stella yang terlihat benar-benar putus asa.
Sementara Naira memeluk lengan suaminya itu dengan erat. Dia memang tidak mengerti banyak masalah hukum. Tapi barusan ketika Riksa selesai menjelaskan tentang yang dilakukan oleh Samuel tersebut yang dengan berani menandatangani dokumen penting tersebut maka sama artinya dengan Samuel yang akan bertanggung jawab kalau keluarga dari korban tidak terima dan mengajukan tuntutan kepada pihak rumah sakit ataupun pada Samuel. Naira menjadi sangat takut ketika Adi mengatakan kalau bisa saja Samuel di tuntut dan hal terburuk nya adalah masuk ke dalam penjara.
"Tenang sayang, tidak akan terjadi apa-apa. Aku melakukan itu untuk menyelamatkan wanita itu." ucap Samuel dengan nada lembut pada Naira yang terlihat sangat cemas dan matanya pun sudah berkaca-kaca.
Sementara Puspa dan Riksa saling pandang, mereka berdua juga terlihat sangat sedih dan merasa sangat bersalah. Karena secara tidak langsung, Adam melakukan semua ini juga karena marah pada keputusan mereka untuk segera menikah.
"Adi, kamu pasti punya cara kan? agar kedua anak ku tidak masuk penjara?" tanya Damar pada pengacara nya.
Karena Damar tahu kalau dengan materi tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Karena keluarga Rahardja bahkan lebih kaya daripada mereka. Kevin Rahardja tidak akan mau bernegosiasi dengan uang. Damar sudah tahu betul akan hal itu maka dia bertanya kepada pengacaranya agar mencari jalan keluar yang lainnya.
Adi yang memang saya dari tadi sudah memikirkan hal itu pun angkat bicara.
"Satu-satunya orang yang bisa kita ajak bernegosiasi adalah Vina Rahardja!" jawab Adi dengan wajah yang sangat serius.
Semua orang tercengang. Mana mungkin wanita itu akan mau diajak bernegosiasi agar tidak menuntut kedua putra Damar itu. Karena notabene nya wanita itulah yang paling dirugikan dalam hal ini. Dia mengalami kecelakaan, terluka parah bahkan harus kehilangan rahimnya. Tidak mungkin kalau wanita itu akan mau membatalkan tuntutan yang dibuat oleh kekasihnya itu.
Stella yang lemas langsung berdiri, dengan mata yang terlihat masih berkaca-kaca dan pandangan yang masih sedikit linglung.
__ADS_1
"Aku... aku akan memohon pada Vina. Aku akan lakukan apapun agar dia membatalkan tuntunan hukum pada Adam!" ucap Stella yang mulai melangkah menuju keluar kamar rawat Adam.
"Ibu, tunggu. Tenang dulu!" ucap Samuel yang tangannya menahan Stella agar tidak keluar
"Biarkan ibu ke sana nak, kamu dan adik mu bisa saja masuk penjara karena hal ini. Ibu akan memohon padanya...!"
"Oh, jadi benar keluar Virendra yang terhormat lah, yang telah mencelakai sahabat ku, Vina?" tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Pandangan semua orang awalnya terkejut mendengar ada suara dan orang yang masuk ke dalam kamar rawat Adam. Tapi sepersekian detik kemudian, pandangan semua orang berubah menjadi kesal dan jijik pada wanita yang bicara sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kamu! urusan apa dengan mu?" tanya Stella dengan kesal pada wanita itu.
Benar, wanita itu adalah Caren. Wanita yang paling tidak disukai oleh Stella. Namun sayangnya wanita yang begitu tidak disukai oleh Stella itu adalah sahabat dari Vina Rahardja.
"Dia sahabat Vina!" sebuah suara bariton menjawab dari arah belakang.
"Jodi!" ucap Riksa pelan membuat Puspa menoleh ke arah Riksa yang saat itu berdiri tak jauh darinya.
"Kamu mengenalnya?" tanya Puspa.
"Dia saingan bisnis keluarga Virendra. Cukup sulit orangnya, dan yang pasti jika dia kekasih wanita itu... kita akan berada dalam masalah serius!" ucap Riksa pelan menjawab pertanyaan dari Puspa.
Awalnya Puspa tidak terlalu khawatir pada kedatangan Caren dan lelaki itu, tapi setelah tahu siapa yang mereka hadapi Puspa mulai menghela nafas berat. Karena jujur saja, dia juga sedang mempunyai masalah dengan keluarga nya. Dia tidak akan bisa ikut campur terlalu banyak dalam hal ini.
__ADS_1
Jodi menoleh ke arah Samuel.
"Dan aku adalah kekasih Vina, aku dengar dari perawat tuan Samuel Virendra telah menandatangani dokumen pertanggungjawaban atas tindakan operasi yang begitu penting. Apa kamu tahu artinya itu, Vina tidak akan pernah memiliki keturunan. Kamu tahu kan kalau Vina itu anak tunggal, kalian semua tidak akan lolos!" gertak Jodi membuat Stella makin geram.
"Apa kamu tidak mengerti, apa perawat itu hanya memberitahu mu soal itu saja? apa dia tidak mengatakan padamu kalau anak ku tidak tanda tangan secepatnya maka nyawa kekasih mu itu tidak akan selamat. Apa kamu tahu itu?" tanya Stella yang begitu kesal pada sikap arogan yang di tunjukkan oleh Jodi.
Tapi bukan nya mendengarkan penjelasan dari Stella, Jodi malah terlihat menatap tajam wanita yang sebenarnya harus dia hormati karena sudah seusia ibu nya sendiri itu.
"Memangnya kenapa hal ini bisa terjadi pada Vina, putra mu itu yang telah menabraknya!" bentak Jodi pada Stella.
Samuel dan Riksa sudah melangkah maju karena tidak terima Stella di bentak seperti itu oleh Jodi.
"Jaga bicaramu saat bicara dengan ibuku!" bentak Samuel tak kalah meninggikan suaranya.
Jika Samuel hanya bicara, maka Riksa lebih tidak terima lagi orang yang sudah merawatnya sejak kecil di bentak oleh Jodi. Riksa bahkan sudah mencengkeram kerah baju Jodi dan nyaris memukulnya karena tangannya sudah terkepal di depan pria perlente itu.
Kalau saja Adi tidak menahan tangan Riksa, maka pemuda berwajah oriental itu pasti sudah mendaratkan bogem mentahnya di wajah Jodi.
"Riksa, jangan menambah masalah, Adam dan Samuel saja belum tentu bisa lolos, apa kamu mau menambah tuntunan mereka juga?" bisik Adi bertanya pada Riksa setelah menahan tangan Riksa.
Riksa masih mengeraskan rahangnya, tapi dia menurunkan tangannya yang terkepal dan melepaskan kerah baju Jodi.
"Sudah ku duga, nyali kalian belum cukup besar melawan keluarga Rahardja. Kalian tunggu saja saat calon mertua mu pulang dari luar negeri. Kalian akan habis!" gertak Jodi lalu meninggalkan ruangan rawat Adam di susul oleh Caren yang masih terus melihat ke arah Samuel yang terlihat sangat kesal pada Jodi.
__ADS_1
***
Bersambung...