Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
06


__ADS_3

"Bukan urusan mu!" sahut nya dingin.


Aku langsung memundurkan tubuhnya dari posisi yang sedikit aku condong kan padanya ketika aku bertanya tadi.


"Ih, pelit amat. Di tanya gitu doang!" gerutu ku namun dengan suara yang sangat pelan.


Aku yakin seratus persen, jika pria kaya yang tampan tapi arogan di samping ku ini adalah orang yang tidak beres. Kurasa dia punya niat terselubung.


'Oh Tuhan apa salah dan dosaku? kenapa aku terlibat dengan manusia seperti ini. Benar kata ko Acong, urusan sama orang berduit itu ribet dan gak ada ujungnya!' keluh ku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di sebuah rumah yang sangat besar, pagarnya saja seperti gapura di depan gang rumah ku. Dan dari pintu gerbang ke teras rumahnya, itu sama seperti dari rumah ku ke rumah Bu Tanti, warung sembako tempat dimana ibu biasa ngerumpi.


Aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki ku di tempat sebagus dan semewah ini pun memasang ekspresi seperti orang awam pada umumnya. Aku ikut turun dari mobil ketika pak Urip membukakan pintu mobil untuk Samuel.


"Tutup mulut mu itu, dasar kampungan!" celetuk Samuel begitu saja lalu berjalan menuju ke pintu utama.


Aku menutup mulut ku dan langsung melirik ke arahnya dengan tajam.


"Ih, salah aja terus. Lagian mulutnya di depan ayah tadi manis bener, tapi sekarang tajem banget setajam silet" gerutu ku membuat pak Urip menggaruk kepalanya bingung.


"Eh neng, buruan masuk. Nanti di marahin tuan lagi lho!" seru pak Urip.


Aku hanya nyengir dan ikut menggaruk kepala ku padahal tidak terasa gatal.


"Iya, pak!" sahut ku dan berjalan mengikuti si lidah tajam itu masuk ke dalam rumahnya.


Makin masuk ke dalam, aku makin di buat takjub dengan segala pemandangan yang ada di dalam rumah si lidah tajam itu. Rasanya benar-benar seperti menginjak kan kaki di sebuah istana.


"Wah, bagus banget rumahnya!" gumam ku sambil menyentuh sofa berwarna putih berhias lilitan tali berwarna emas.


"Ini emas asli kali ya?" gumam ku lagi sambil tersenyum-senyum sendiri.


Brak


Aku mendengar sebuah suara dari arah belakang ku. Dan ketika aku berbalik, ternyata si lidah tajam sedang melemparkan sebuah map yang sampulnya tebal ke atas meja.


'Astaga, meletakkan benda seperti itu saja kenapa harus di banting sih!' gumam ku dalam hati.


"Tanda tangani surat perjanjian itu!" perintahnya sambil menunjuk ke arah map yang dia lempar tadi.


Aku masih memperhatikan map berwarna biru itu, aku juga memperhatikan si lidah tajam dan aku melakukan beberapa kali. Melihat ke arah map dan juga pria itu bergantian.


"Riksa!!" teriak nya kemudian membuat ku tersentak kaget.

__ADS_1


'Aduh, nih orang kerjanya kalau gak marah, teriak, kalau gak gertak ya teriak lagi. Bisa jantungan beneran aku ini!' keluh ku dalam hati.


Aku mengusap dada ku karena terkejut, dan tak lama dari suara teriakan Samuel, aku melihat pria tampan lainnya keluar dari dalam sebuah ruangan, dia berlari menghampiri Samuel. Dan meskipun dia tidak setinggi Samuel tapi dia sangat manis. Ketika dia berlari, aku seperti sedang melihat pemeran utama dalam sebuah film kolosal korea, dia benar-benar putih dan tampan. Mirip dengan pemain Hwarang.


"Wah, ganteng banget!" gumam ku tanpa sadar. Dan mata si lidah tajam itu langsung melebar menatap tajam ke arah ku.


'Gyaaaah, dia melotot. Salah lagi kan aku!' pekik ku dalam hati.


"Kamu urus kontrak dengan gadis ini, aku mau mandi dan makan siang. Setelah selesai antarkan dia pulang!" perintah nya pada lelaki yang bernama Riksa itu.


"Baik bos!" jawab lelaki itu dengan cepat.


Aku mengangguk-anggukkan kepala ku seolah mengerti tentang semua ini.


'Oh jadi dia ini anak buahnya ya!' batin ku lagi.


Samuel segera pergi meninggalkan aku yang masih berdiri mematung menatap punggung nya sampai hilang, karena dia masuk ke dalam sebuah kamar yang pintunya begitu besar dari pintu lainnya. Itu pasti kamar nya.


"Nona, silahkan duduk!" seru Riksa dengan suara yang sangat sopan dan juga lembut.


'Aih, meleleh hati ku. Setidaknya dia lebih sopan daripada bos nya!' batin ku sebelum duduk di hadapan Riksa.


Riksa meraih map yang ada di atas meja, membukanya dan menyodorkan nya ke hadapan ku. Dia meraih pulpen dari saku jas nya, membuka penutup pulpen itu dan meletakkan pulpen itu di sebelah map yang sudah terbuka.


Dengan ragu aku meraih map itu, membaca selembar kertas putih yang bertuliskan tinta hitam di atasnya, sebenarnya bukan bertuliskan ya, tapi bercetakkan. Karena ini di cetak, di print. Aku membacanya perlahan.


*Surat Perjanjian (Kontrak Pernikahan)


Pihak satu


Samuel Virendra


Tempat tanggal lahir : xxxx


Pihak dua


Naira putri


Tempat tanggal lahir : (kosong)


Aku berhenti membaca dan menoleh ke arah Riksa.


"Kenapa tempat dan tanggal lahir ku kosong?" tanya ku padanya.

__ADS_1


Riksa malah tersenyum sambil memandang ku dengan tatapan yang begitu menyejukkan hati.


"Karena saat saya membuat itu, saya belum dapatkan kartu identitas anda nona. Setelah ini nona bisa berikan kartu identitas nona, dan daya akan mengisinya dengan lengkap!" jelasnya.


"Jadi kamu yang buat ini?" tanya ku berbasa-basi.


"Iya, saya adalah sekertaris pribadi bos Samuel. Silahkan di lanjutkan nona!" ucap nya lagi dengan suara yang masih sama seperti tadi sangat lembut dan menenangkan.


Aku kembali pada kertas yang tadi ku baca.


*Dengan ini menyatakan dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun...


'Siapa bilang tanpa paksaan!' keluh ku dalam hati.


*Menyatakan telah setuju melakukan kontrak pernikahan selama 1 (satu) tahun.


Aku langsung membelalakkan mataku. Aku tak percaya dengan semua ini.


"Kenapa satu tahun?" tanya ku dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Pria di depan ku itu menelengkan kepalanya, dia seperti nya heran.


"Apa terlalu singkat?" tanya nya ragu.


"Ini terlalu lama!" balasku cepat.


Riksa malah terkekeh.


"Terlalu lama?" dia bertanya dan dia mengulang perkataan ku tadi.


"Iya, ini terlalu lama, jika pernikahan ini hanya pura-pura, kenapa tidak satu atau dua bulan saja?" tanya ku terus terang karena itulah yang memang ada di kepalaku.


"Maaf nona, tapi bos membutuhkan waktu setahun sampai..."


Riksa menjeda kalimat nya, dia menatap canggung ke arah ku. Seperti nya dia enggan mengatakan nya.


"Sampai kekasih nya kembali!" tanya ku menyela ucapan Riksa.


"Anda sudah tahu?" tanya nya dengan nada pelan dan aku mengangguk kan kepala ku.


"Benar, pernikahan kontrak ini hanya akan berlangsung sampai nona Caren, kekasih bos Samuel kembali dari luar negeri!" jelasnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2