
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, sinar yang begitu terang itu pun masuk ke celah gorden dan kusen jendela apartemen Riksa Nugraha. Membuat pria tampan berwajah oriental itu merasa silau meski kelopak matanya belum terbuka sepenuhnya.
Dengan perlahan Riksa membuka matanya dan melihat ke arah kiri, ke arah lengan yang sedang menjadi tumpuan seorang wanita yang masih tertidur setelah begitu lama menangis di pelukan nya tadi.
Mata sipit ala oriental itu pun menoleh ke arah dinding yang terpajang sebuah jam dinding berwarna hitam dengan jarum jam berwarna gold, dan dengan warna tulisan gold juga. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Riksa sungguh tidak ingin mengganggu Puspa yang tengah tertidur, dia tidak ingin sampai gerakan nya mengganggu Puspa dan membuat wanita itu terbangun.
Karena itu Riksa yang mencoba meraih ponsel dari saku celananya, berusaha bergerak dengan sangat hati-hati. Dia meminimalisir setiap gerakannya dan juga suara yang ditimbulkan akibat gerakannya itu. Setelah berhasil meraih ponselnya, dia segera mencoba untuk menghubungi kantor dan meminta Dina menangani semua masalah dan pekerjaan yang terjadi dan yang ada di kantor. Dia sengaja tidak menghubungi Samuel karena Riksa juga tahu kalau Samuel pasti masih sangat lelah karena apa yang terjadi semalam itu memang sangat menyita tenaga dan pikiran Riksa, tidak hanya Riksa bahkan Samuel juga. Jadi dia memutuskan untuk memberitahu Dina saja.
Setelah itu, Riksa meletakkan ponselnya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Setelah itu dia melihat ke arah Puspa, dan memandangi wajah lelah wanita cantik itu. Biar terlihat sangat sembab dan pucat, wajah Puspa tetaplah cantik menurutnya.
Satu jam kemudian, Riksa merasa kalau dia harus pergi ke kamar kecil. Dia berusaha memposisikan kepala Puspa berpindah dari lengannya ke atas bantal dengan perlahan. Setelah itu dia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai, Riksa kembali memeriksa Puspa dan gadis itu masih tertidur pulas. Riksa memutuskan untuk membuatkan makanan untuk wanita yang dia cintai itu.
Beberapa menit berada di dapur apartemen nya, Riksa sudah membuat roti lapis dan juga susu panas untuk Puspa. Sambil menunggu wanita itu terbangun, Riksa mencoba untuk mencarikan pakaian yang akan muat dipakai oleh wanita itu saat dia bangun. Karena gaunnya sudah sangat kotor.
Tapi saat kembali ke dalam kamar, Riksa tidak mendapatkan Puspa di atas tempat tidur. Riksa sempat panik untuk sesaat, tapi kemudian dia mendengar suara shower dari dalam kamar mandi.
Riksa menghela nafasnya lega saat tahu, Puspa sedang berada di dalam kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang, kamu ada di dalam?" tanya Riksa setelah mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
Tiba-tiba suara shower berhenti dan terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ceklek
__ADS_1
"Puspa!" lirih Riksa karena wanita yang dia sebut namanya itu sedang berdiri di hadapan nya tanpa mengenakan apapun.
Puspa lalu melangkah mendekati Riksa dan memeluk Riksa yang tentu saja tubuhnya saat ini sedang panas dingin menahan setiap gejolak yang dia rasakan pada wanita yang dia cintai itu.
"Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Riksa yang sudah berkali-kali menelan saliva nya sendiri dengan susah payah.
"Jadikan aku milik mu Riksa, mari kita menikah! Aku sungguh tidak ingin pulang ke rumah itu. Tidak ingin Riksa!" ucap Puspa dengan suara yang terdengar gemetaran.
Tangan Riksa yang awalnya ragu, kini mulai berani dia angkat dan menyentuh punggung wanita yang tengah memeluknya itu. Tangan Riksa yang begitu hangat membuat Puspa memejamkan matanya dan makin mengeratkan pelukannya pada Riksa.
Saat ini bahkan bibir Riksa juga sudah bisa menyentuh bahu Puspa yang masih basah, dingin dan harum itu. Tapi Riksa langsung berbisik tepat di telinga Puspa.
"Aku pasti akan menjadikan mu milikku, tapi setelah kita menikah!" ucap Riksa dengan nada suara yang begitu berat namun terdengar begitu tegas di telinga Puspa.
Mendengar hal itu Puspa langsung memejamkan matanya, tanpa terasa air mata kembali mengalir di wajahnya. Riksa mengusap air mata Puspa dan membantunya memakai pakaian yang sudah Riksa siapkan.
Setelah membantu Puspa berpakaian, Riksa juga membantu wanita cantik yang saat ini pandangan matanya masih sedikit kosong itu menyisir dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu Riksa mengajak Puspa untuk sarapan bersama.
Awalnya sangat sulit membuat Puspa untuk mau memakan sarapannya. Tapi tanpa lelah Riksa terus membujuk sampai akhirnya Puspa mau makan separuh roti lapisnya.
"Kita menikah sekarang saja ya!" pinta Puspa setelah Riksa membersihkan sisa roti di pinggir bibirnya dengan tissue.
Riksa terdiam, masalah lain dia bisa putuskan sendiri. Tapi kalau masalah pernikahan, dia harus bicarakan ini dengan Samuel, Danar dan juga Stella.
"Sayang, setelah aku membelikan mu pakaian. Aku akan membawamu menemui om Damar dan Tante Stella untuk meminta ijin pada mereka!" ucap Riksa yang langsung di balas anggukan kepala oleh Puspa.
Setelah memastikan Puspa mulai tenang, Riksa meminta agar Puspa diam di dalam apartemen nya dan tidak membuka pintu untuk siapapun, dan Riksa pun pergi untuk membelikan pakaian untuk Puspa.
__ADS_1
Sementara kedua orang itu sedang merencanakan pernikahan mereka. Dua buah mobil masuk dengan cepat ke area kediaman Virendra.
Dari dalam mobil yang berhenti tepat di depan pintu utama, keluar seorang wanita paruh baya dengan tergesa-gesa. Di ikuti seorang pria paruh baya yang terlihat sangat cemas wajahnya.
"Samuel!" teriak wanita itu.
Sementara dari dalam mobil yang berada di belakang mobil yang pertama tadi keluar seorang pria bule, yang terlihat sangat lelah karena terus menghela nafasnya tanpa henti.
Mendengar teriakan dari Mega, Stella yang sedang berada di ruang tamu karena sedang membaca surat kabar pun langsung berdiri dan menghampiri Mega.
"Mega, apa yang kamu lakukan? kenapa pagi-pagi teriak-teriak di rumah orang seperti itu?" tanya Stella dengan wajah kesal.
"Dimana putriku?" tanya Mega tanpa basa-basi lagi.
Stella mengerutkan keningnya.
"Loh, bukankah Samuel bilang Puspa sudah di temukan? apa dia hilang lagi?" tanya Stella yang benar-benar tidak mengerti maksud dari Mega.
"Ya, putriku sudah di temukan. Tapi dia tidak pulang ke rumah! calon menantu ku bilang dia bersama dengan Samuel dan Riksa. Cepat katakan dimana putri ku?" tanya Mega.
Stella mulai geram pada wanita yang notabene nya adalah ibu kandung Puspa itu.
'Hais, bagiamana bisa wanita secantik dan sebaik Puspa terlahir dari ibu arogan seperti ini!' batin Stella tak habis pikir.
***
Bersambung...
__ADS_1