
Aku masih memejamkan mataku ketika aku merasa sesuatu yang cukup berat menimpa perut kan kaki ku. Jujur saja mataku masih terasa begitu berat saat akan ku buka. Jadi masih dengan menutup mata, aku mencoba menyingkirkan apa itu yang ada di atas perutku. Aku merabanya, dan sesuatu yang halus, tapi juga kasar dan menusuk seperti rambut.
'Hah, rambut!' pekik ku dalam hati.
Aku langsung membuka mataku dan melihat ke arah perut, ternyata yang membuatnya terasa berat dan terbebani adalan kepala Samuel yang entah sejak kapan berada disana. dia memeluk perut ku dan kakinya juga menimpa kakiku, dia seperti sedang memeluk guling.
"Aghkk!" pekik ku yang baru menyadari bahwa ini adalah suatu hal yang tidak benar.
Samuel langsung membuka matanya dan menutup telinganya dengan tangan. Dia melihat ke arah ku dan melihat dirinya sendiri, kurasa di baru menyadari apa yang sudah dia lakukan. Dia terkesiap dan langsung beranjak bangun.
"Ck... " dia berdecak kesal lalu menatap tajam ke arah ku.
"Kenapa berteriak?" bentak nya.
"Ma... maaf tuan, aku terkejut. Tuan tadi ada di atas..!"
"Pasti kamu kan yang menarik ku, diam-diam kamu menarik ku ke pelukan mu kan? Ck..
dasar murahan!" ucapnya seenaknya saja sambil bangun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku masih mematung di tempat ku.
"Apa katanya tadi, aku menariknya? huh... apa dia tidak melihatnya? dia yang ada di...!" aku berhenti mengatakan apa yang ingin aku katakan karena merasa kesal untuk mengatakan nya.
Aku mencari dua buah benda yang tadinya jadi pembatas antara aku dan Samuel. Ternyata dua buah guling itu ada di bawah tempat tidur di bagian Samuel.
"Kenapa bisa disini? apa dia membuangnya?" gumam ku sambil meraih guling itu dan membersihkan nya lalu meletakkan nya kembali ke atas tempat tidur.
Ketika aku merapikan tempat tidur, sebuah suara membuat ku kembali terkesiap.
"Heh, gadis ceroboh" seru Samuel yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Siapkan air mandi untuk ku aku mau mandi!" ucapnya sambil kembali merebahkan diri di atas tempat tidur yang baru saja aku rapikan.
"Iya!' jawab ku singkat dan langsung melaksanakan apa yang dia perintahkan.
Aku mengisi bathtub dengan air yang aku sesuaikan suhunya, meskipun aku tidak punya kamar mandi yang seperti ini. Kemarin di hotel aku sudah minta Puspa mengajari ku menggunakan pengatur suhu air seperti ini. Dan beruntung nya aku, ini benar-benar sama persis yang ada di hotel.
Setelah penuh aku mematikan keran dan aku keluar dari dalam kamar dan mendekati Samuel.
"Tuan, sudah siap airnya!" ucap ku sopan.
__ADS_1
"Siapkan baju ku!" serunya sambil turun dari atas tempat tidur dan meletakkan ponselnya.
"Tuan mau pergi kemana?" tanya ku pada Samuel agar aku bisa menyiapkan pakaian apa yang kira-kira cocok.
"Ck... dia berhenti melangkah dan menoleh, kamar mandi lah. Aku mau mandi!" jawab nya ketus.
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.
"Bukan, maksud ku bukan sekarang! nanti setelah mandi tuan mau kemana?" tanya ku lagi.
"Siapkan saja, kalau aku tidak suka tinggal kamu ambilkan yang lain!" jawab nya semakin membuat ku bingung.
Setelah dia masuk ke dalam kamar mandi, aku berjalan menuju ke lemarinya, dan memilih pakaian untuknya.
"Naira!" teriak nya dari dalam kamar mandi.
Aku bahkan hampir menjatuhkan baju yang sudah aku ambil dari lemari.
"Iya!" sahut ku lalu menghampiri nya ke dalam kamar mandi.
"Kamu merebus ku ya? ini terlalu panas!" pekik nya kesal.
Aku mengerjap beberapa kali.
"Kenapa bengong? tidak percaya?" tanya nya dengan nada suara yang makin meninggi.
Aku segera menggelengkan kepala ku dengan cepat.
"Ti.. tidak tuan, tapi tadi sudah..!"
"Ganti, cepat!" serunya lalu dia meninggalkan kamar mandi.
Setelah dia keluar aku hanya bisa menghela nafas ku dan memeriksa suhu air di bathtub.
"Oh, jadi seperti ini kepanasan! baiklah aku akan tambah air dingin!" ucap ku pelan lalu segera memutar keran air dingin.
Dasar orang kaya ya, padahal kan kalau tidak sesuai dengan apa maunya dia bisa atur sendiri agar lebih nyaman. Tidak perlu menimba juga kan, atau mengambil air dari antrian mobil tangki. Hanya tinggal memutar keran, benar-benar sangat mudah bukan. Tapi kenapa orang itu malah seperti anak bayi yang apa-apa harus di bantu dan di layani.
Aku terkekeh sendiri ketika menyamakan Samuel itu dengan seorang bayi.
"Untung saja, dia tidak minta dimandikan!" gumam ku sambil terkekeh.
__ADS_1
Setelah mematikan keran air, aku kembali memeriksa suhu airnya.
"Seperti nya cukup!" ucapku lalu keluar dari kamar mandi.
"Tuan, airnya sudah siap!" ucap ku mendekati Samuel yang saat ini sedang berdiri di depan jendela.
Samuel tidak menjawab, dia hanya melewati ku begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku menghela nafas ku lagi, dan segera berjalan menuju lemari. Tapi, baru saja tangan ku akan memegang handel lemari.
"Naira!" Samuel lagi-lagi berteriak dari dalam kamar mandi.
Aku segera berlari masuk lagi ke dalam kamar mandi.
"Iya tuan!" sahut ku cepat.
"Kamu ini benar-benar tidak becus ya, ini terlalu dingin!" ucap Samuel kesal.
Aku mengernyitkan dahi ku tak percaya.
"Maaf tuan, saya ganti lagi!" ucap ku langsung memutar kembali keran air panas.
Samuel tidak keluar dari kamar mandi, dia terlihat sangat kesal. Aku kembali memeriksa suhunya, ini bahkan kembali ke suhu air yang pertama tadi.
"Silahkan tuan!" ucap ku pelan sambil berdiri menjauhi bathub.
Samuel memegang airnya, dan dia langsung melirik tajam ke arah ku.
"Ini baru benar, ingat! harus seperti ini! payah sekali, mengerjakan hal seperti ini saja harus salah berkali-kali!" dia malah mengomeli ku.
Padahal aku yakin kalau suhu air saat ini itu, benar-benar seperti yang pertama tadi.
"Kenapa malah bengong, siapkan pakaian ku!" serunya lagi membuat ku langsung berlari keluar dari dalam kamar mandi.
'Astaga, ini benar-benar olahraga pagi buat ku!' batin ku sambil menyeka keringat yang sudah membasahi dahi ku.
Aku lantas membuka lemari dan menyiapkan satu kemeja berwarna putih, jas berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam. Aku menyiapkan tali pinggang, dan juga sapi tangan. Semua aku letakkan di atas tempat tidur. Setelah itu aku merapikan pakaian ku pada lemari yang ada di sebelah lemari Samuel yang memang masih kosong.
Ketika aku merapikan pakaian ku, Samuel keluar dari dalam kamar mandi.
"Pakaian apa ini? kenapa pakaian ku hitam putih begini? seperti pelayan restoran!" keluhnya lagi.
***
__ADS_1
Bersambung...