
Author POV
Samuel masih berdiri mematung di tempatnya, saat mendengar Naira mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa kalau hatinya terenyuh dan terasa sakit. Pandangan matanya masih ke tempat di mana Naira tadi berada. Meski saat ini Naira sudah keluar dari dalam kamar hotel.
Samuel mengusap wajahnya kasar dan melihat ke arah pintu kamar hotel. Ada perasaan yang sulit untuk dia jelaskan.
'Apa dia juga mulai menyukai ku?' tanya Samuel dalam hati.
Flashback on
Ketika Samuel dan Naira memutuskan untuk pergi meninggalkan Caren dan Kenzo, kedua orang itu sudah punya rencana nya sendiri.
"Jika aku memang mengenal Samuel, dia tidak akan tega melihat aku mengacuhkan mu seperti tadi. Ini kesempatan untuk mu, menarik perhatian nya!" ucap Kenzo.
"Kenzo, apa kamu yakin kalau kita memang...!"
"Sudahlah Caren, aku sudah mengatakan nya padaku bukan. Aku benar-benar mati rasa padamu, salahmu telah mengecewakan aku!" ucap Kenzo meski dengan nada suara pelan dan wajah yang sepertinya tidak marah. Tapi tetap saja setiap kata yang keluar dari mulutnya itu merupakan tusukan tajam yang tertuju di dada Caren.
Caren hanya menundukkan kepalanya saja, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Semua memang kesalahan nya, akibat keserakahan nya malah dia kehilangan keduanya.
"Sekarang ikuti Samuel, dan katakan apa yang aku katakan padamu tadi. Jangan membuat kesalahan!" seru Kenzo.
Dan semua pun berjalan seperti apa yang Kenzo harapkan. Samuel yang melihat Caren semakin kurus dan sikapnya yang sangat berubah menjadi iba pada wanita itu. Caren yang dikenal Samuel tidak akan diam kalau ada seseorang yang mengacuhkan dan melukai harga dirinya. Tapi tadi, Caren hanya diam dan tersenyum atas apapun yang dilakukan Kenzo di hadapan nya. Bahkan ketika Kenzo begitu memperhatikan Naira.
Setelah Naira pergi untuk pamit ke kamar duluan, Caren datang menghampiri Samuel. Dengan isakan tangis, dia memanggil Samuel yang masih duduk di kursi taman seorang diri.
"Sam...!" lirih Caren.
Samuel langsung menoleh, dia terkejut melihat Caren yang sudah berderaian air mata dengan pipi yang merah yang terus dia pegang.
Samuel langsung berdiri dan mendekati Caren.
__ADS_1
"Kamu kenapa, apa yang terjadi?" tanya Samuel terlihat sangat cemas.
Caren membuka tangannya perlahan yang menutupi pipi kanannya. Dan menundukkan matanya agar Samuel bertambah iba padanya. Bahunya naik turun, karena dia memang sudah terisak.
Mata Samuel melebar ketika melihat tanda bekas lima jari ada di pipi sebelah kanan Caren. Samuel tersulut emosi, selama bertahun-tahun dia bahkan tidak pernah berkata kasar pada Caren, dan melihat wanita yang pernah sangat dia cintai di perlakukan seperti itu, benar-benar membuat Samuel geram.
"Apa Kenzo yang melakukan nya?" tanya Samuel.
Dan Caren masih saja diam dan terus terisak, Samuel makin tersulut amarah.
"Akan ku beri pelajaran pria pengecut itu!" geram Samuel dan dia nyaris saja melangkah pergi.
Tapi Caren berhasil menangkap tangannya, membuat Samuel berhenti dan menoleh ke arah Caren lagi. Caren menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jangan Sam hiks... hiks... kalau kamu membela ku, dia akan semakin marah dan bersikap kasar padaku!" lirih Caren sambil terisak-isak.
Samuel memandang Caren, dia benar-benar sangat kasihan pada wanita yang sedang menangis di depannya itu. Samuel mengajak Caren untuk duduk di kursi taman yang tadi dia duduki bersama dengan Naira.
"Apa kamu bahagia?" tanya Samuel.
"Sam, maafkan aku hiks...!" lirih Caren lalu memeluk Samuel.
Samuel yang awalnya terkejut karena cerpen memeluknya tiba-tiba. Akhirnya mengelus lembut punggung Caren dan memeluknya. Dia berfikir untuk menghibur Caren. Karena dia jelas melihat kesedihan dan keputusasaan di mata wanita yang pernah dia puja itu.
Sementara Samuel tengah menghibur Caren, Kenzo pun menjalankan siasatnya dan membawa Naira untuk melihat pemandangan yang terjadi. Kenzo puas saat melihat Naira seperti nya sangat sedih bahkan menangis. Bukan karena puas melihat Naira sedih, tapi dia puas karena telah membuat Naira tidak mempercayai Samuel.
Setelah Naira pergi, Samuel juga melepaskan Caren.
"Jika kamu tidak bahagia, kenapa masih bersamanya?" tanya Samuel.
"Kami sudah bertunangan, ibu Kenzo sangat baik padaku. Dan kamu tahu kan Kenzo sangat berkuasa di bisnis yang aku jalani sekarang. Dia bisa menghancurkan kerja keras ku selama bertahun-tahun kalau aku...hiks..!" Caren kembali menangis dan tidak dapat melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Samuel makin iba melihatnya, dia tahu kelas bagaimana Caren berjuang demi karirnya saat ini. Bahkan dia meninggalkan Samuel juga keluarga nya ke luar negeri demi karirnya. Dan samuel juga tahu, kalau keluarga Kenzo memang sangat berpengaruh pada karir Caren.
"Sam, aku minta maaf aku sudah mengganggu mu, tapi aku tidak tahu lagi pada siapa aku bisa mengadu. Aku tidak punya siapapun lagi Sam, kamu tahu aku benar-benar menyesali kesalahan yang aku lakukan. Pasti Tuhan sedang menghukum ku saat ini, dan aku memang pantas menerima semua ini hiks.. hiks..!" Caren kembali menangis dan Samuel pun kembali memeluknya.
"Sudah, sudah... aku sudah memaafkan mu!" ucap Samuel.
Caren langsung melihat ke arah Samuel, menatap mata pria yang pernah dia cintai itu.
"Benarkah Sam, kamu sudah memaafkan aku?" tanya Caren.
Dia tersenyum dan itu membuat Samuel juga tersenyum.
"Apakah kita...?"
"Maaf Caren, aku memang sudah memaafkan mu, tapi aku sekarang sudah menikah. Dan kamu harus tahu. Kalau aku benar-benar mencintai Naira, istriku!" ucap Samuel yakin.
Pada awalnya dia memang tidak menyadari itu, tapi ketika dia merasa takut karena Kenzo mendekati Naira. Dia merasa kalau dia tidak rela melepaskan Naira, itu membuatnya semakin yakin kalau dia memang sudah benar-benar jatuh cinta pada istri kontrak nya itu.
"Sam..!" lirih Caren dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Tapi kita bisa menjadi sahabat Caren, seperti dulu saat kita kuliah. Dan sebagai sahabat, ku bisa bercerita padaku dan kalau kamu mengalami kesulitan kamu bisa datang padaku!" ucap Samuel.
Caren kembali menangis, hatinya terasa sakit. Dia benar-benar menyesal telah melepaskan pria sebaik Samuel, setulus Samuel demi karirnya dan demi pria yang hanya memberinya kepuasan dan kenikmatan sesaat saja.
Dan setelah menghibur Caren, Samuel pun pamit pada Caren.
"Sudah malam, kamu kembali ke kamar mu. Aku juga harus kembali pada istri ku!" ucap Samuel lalu pergi meninggalkan Caren yang masih di balut sedih karena penyesalan yang mendalam.
Flashback off
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...