Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
213


__ADS_3

Mas Samuel masih saja terus minta maaf atas apa yang pernah dia lakukan padaku dulu saat awal-awal kami menikah. Aku akui perlakuan mas Samuel padaku dulu itu memang tidak selayaknya seorang suami memperlakukan istrinya. Dia memang sedikit kasar dan dingin padaku, tapi itu dia lakukan karena dia memang belum mencintai ku. Saat itu dia masih cinta mati pada Caren.


Pernikahan kami terjadi karena mas Samuel tidak ingin menikah dengan Natasha, dan aku harus menandatangani kontrak pernikahan itu kalau tidak mau masuk penjara karena tidak bisa mengganti kerugian sebesar 100 juta rupiah akibat kecerobohan yang aku lakukan di depan gerai ayam geprek, sehingga membuat mobil mas Sam rusak dan tergores lumayan parah.


Tapi situasinya sekarang benar-benar sudah berbeda, sikap mas Samuel padaku juga telah berbeda. Aku bisa merasakan itu, aku bisa merasakan kalau mas Samuel sekarang sudah benar-benar mencintai ku dengan setulus hatinya. Apalagi dengan hadirnya calon Samuel Junior atau Naira junior dalam kandungan ku ini. Aku merasa mas Samuel kasih sayangnya setiap hari semakin bertambah padaku.


Aku menepuk punggung tangan mas Samuel sambil tersenyum.


"Mas, sudahlah. Aku sudah memaafkan mu. Kamu tidak perlu terus minta maaf seperti ini. Yang lalu biar saja berlalu!" ucap ku mencoba membuat mas Samuel berhenti meminta maaf.


Mas Samuel terdiam dan terus memandang ku. Lalu dia perlahan mendekati ku dan mencium keningku dengan begitu lembut.


"Aku berjanji aku tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi, jika aku melakukan itu biar Tuhan menghukum ku dan melenyapkan aku saat itu juga...!"


Aku langsung menutup mulut mas Samuel dengan tanganku. Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat. Sebelum dia menyelesaikan apa yang ingin dia katakan aku dengan cepat menghentikan nya.


"Mas, jangan bicara begitu. Aku tahu kamu tidak akan pernah melakukannya!" ucap ku dengan cepat.


Entah kenapa hatiku rasanya resah sekali mendengar apa yang mas Samuel katakan padaku barusan. Nafasku bahkan rasanya sangat berat saat mendengar kalimatnya itu. Aku sungguh tidak ingin dia jauh dariku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa nya.


Mataku sudah berkaca-kaca, mas Samuel memelukku dan menciumi puncak kepalaku.


"Maafkan aku sayang, aku juga tidak akan pernah bicara seperti ini lagi padamu! kita akan bersama selamanya, aku janji!" ucap nya kemudian.


Dan aku bisa bernafas lega setelah mendengar apa yang di sampaikan nya kali ini. Meski hatiku rasanya belum tenang.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan cafe, mas Samuel pamit sebentar padaku ke toilet. Aku diminta untuk menunggunya sebentar. Dan aku menurut apa yang dia katakan. Aku duduk dengan tenang, sambil memperhatikan kearah luar jendela. Pandangan ku tertuju pada seorang gadis remaja yang menjual tissue di sekitar area tempat parkir cafe.


Melihat gadis itu yang tak kenal teriknya matahari untuk memperoleh sedikit uang, aku juga ingat bagaimana dulu aku berjuang demi membantu ayah dan ibu untuk memenuhi kebutuhan kami. Gaji ayah sangat kecil, hanya mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, di tambah pendapatan ibu dari berjualan makanan, juga hanya mampu membayar tagihan listrik dan uang bulanan sekolah ku dan juga Ibras. Jadi kalau ada acara di sekolah yang memerlukan biaya besar, aku dan Ibras juga melakukan hal yang di lakukan oleh gadis remaja penjual tissue itu.


Aku pernah saat ingin mengikuti karya wisata, aku harus mencari uang dengan menjual tissue dan paginya menjajakan kue buatan ibu ku di terminal dan sekitar rumah selama satu minggu. Sangat melelahkan memang, tapi saat menyetorkan uang itu pada panitia di sekolah ada perasaan bangga dalam hatiku. Karena uang itu adalah hasil jerih payah ku sendiri, aku tersenyum puas saat mengingat hal itu.


"Sayang ada apa? kamu tersenyum lihat apa?" tanya mas Samuel yang sejujurnya sangat mengagetkan ku yang sedang melihat ke arah gadis penjual tissue yang ada di area parkir


Dia terus menawarkan dagangannya pada setiap tamu yang akan keluar dari area cafe. Dengan topi dan kresek besar penuh tissue dia tersenyum ramah pada semua orang yang dia temui.


Aku langsung menunjukkan jari telunjuk ku ke arah gadis penjual tissue itu.


"Itu mas, aku melihat gadis penjual tissue itu. Apa mas percaya kalau dulu aku juga pernah berjualan tissue seperti saat aku masih SMP...!"


"Sayang, jangan di ingat lagi ya. Sekarang kamu tidak akan pernah lagi menderita dan kesulitan seperti itu. Aku akan memberimu semua kebahagiaan yang ada di dunia ini, aku akan meraih semua itu dan ku berikan padamu!" ucap mas Samuel.


Aku sungguh terharu mendengar apa yang suamiku itu katakan. Wanita mana yang tidak akan terharu jika suaminya mengatakan hal seperti ini, dan aku tahu kalau mas Samuel bukan hanya omong semata, dia pasti mampu mewujudkan apa yang sudah dia katakan dan janjikan.


Aku menarik diriku dari pelukan mas Samuel. Aku memandangnya dan tersenyum sambil menggelengkan kepalaku perlahan.


"Aku tidak pernah menderita mas, aku memang pernah berjualan di jalanan seperti gadis itu, tapi apa kamu tahu, aku bahkan tidak pernah merasa kalau aku menderita. Sebaliknya, aku sangat bangga saat aku bisa membantu kedua orang tuaku dan mencukupi kebutuhan ku sendiri, tanpa harus merengek pada ayah dan ibu!" jelas ku pada mas Samuel.


Dan ketika aku selesai mengatakan hal itu, mas Samuel kembali membawaku ke dalam pelukannya.


"Aku tahu, kamu adalah wanita hebat sayang. Aku sangat mencintaimu Naira!" ucap mas Samuel.

__ADS_1


Kami pun keluar dari cafe, dan seperti yang aku lihat tadi. Gadis penjual tissue itu tadi juga menghampiri kami saat kami sudah mendekati mobil kami. Dari yang aku perhatikan gadis itu hanya menghampiri pelanggan yang sudah keluar dari cafe, dia sama sekali tidak menawarkan dagangannya pada pengunjung yang baru saja akan masuk ke dalam cafe. Mungkin itu adalah kebijakan pemilik cafe padanya, dan kurasa kalau itu benar. Itu artinya pemilik cafe ini adalah orang yang baik.


"Nyonya yang cantik dan tuan yang tampan, belilah tissue ini tuan dan nyonya. 1 nya 10 ribu, 2 20 ribu, tapi kalau beli 3 hanya 25 ribu!" ucap nya sambil tersenyum dan menawarkan dagangannya pada aku dan mas Samuel.


Aku melihat ke arah mas Samuel, aku baru saja ingin mengatakan setidaknya kami bisa membeli beberapa bungkus untuk di rumah, tapi sebelum aku bicara. Mas Samuel mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini, berikan kami 3 bungkus saja!" ucap mas Samuel.


Aku tercengang, mas Samuel membayar 3 bungkus tissue dengan 500 ribu rupiah. Gadis itu juga tercengang.


"Maaf tuan, tapi uang sebanyak itu... harga semua dagangan ku ini saja hanya 150 ribu tuan!" ucap gadis itu begitu jujur dan polos.


"Ini rejeki mu hari ini, berikan 3 bungkus pada istri tersayang ku ini. Dan ambil uang ini!" seru mas Samuel.


Aku bisa melihat mata gadis penjual tissue di depan ku ini sudah berkaca-kaca. Aku langsung mengambil tiga bungkus tissue yang ada di tangan nya, dan memberikan uang yang mas Samuel berikan padaku.


"Ini, ambillah. Lebih semangat lagi ya!" ucap ku mencoba membuat gadis itu tidak menangis.


Dia mengambil uang nya dan memeluknya di dadanya.


"Terimakasih tuan dan nyonya, semoga Tuhan memberikan apapun yang kalian inginkan. Sekali lagi terimakasih!" ucap gadis itu mendoakan kami.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2