
Aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar, pantas saja Samuel begitu marah dan begitu hancur kemarin, ternyata seperti itu. Ternyata wanita yang begitu dia sayangi telah melakukan hal itu dengan pria lain. Aku yang awalnya mengira Caren itu adalah perempuan yang begitu hebat jadi sangat kehilangan respect padanya, dan apa yang sudah dia lakukan padaku tadi itu bukan lah sesuatu yang akan di lakukan wanita terhormat.
Caren makin menangis tersedu-sedu, dia bahkan terus meminta maaf pada Samuel.
"Keluar dari sini! atau aku akan meminta petugas hotel menyeret mu dengan tidak hormat!" bentak Samuel.
Caren masih terus berusaha mendekati Samuel, perempuan itu bahkan memeluk Samuel dari belakang dan mendekapnya dengan erat.
"Maafkan aku Sam, sayang aku menyesal aku sungguh menyesal. Aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi, aku mohon kamu memberikan aku kesempatan kedua Sam!" ucapnya sambil terisak.
Tapi aku cukup heran, kalau aku menangis terisak maka aku tidak akan bisa mengatakan kalimat sepanjang itu, tapi perempuan bernama Caren itu bahkan bisa mengatakan kalimat sepanjang itu sambil tersedu-sedu.
"Demi cinta kita Sam... demi aku Caren mu, aku mengakui semua ini adalah kekhilafan ku, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi. Kita sudah bersama sekian lama Sam, aku yang buta karena tak dapat melihat ketulusan mu. Aku memang bodoh Sam!" ucapnya dengan nada lembut.
Samuel yang awalnya terus memberontak pun semakin lama semakin diam. Aku rasa rayuan dan tangisan penyesalan Caren telah berhasil meluluhkan amarah Samuel. Aku hanya bisa melihat apa yang selanjutnya akan terjadi, aku rasa Samuel pasti akan memaafkannya dan jika itu terjadi akulah yang akan di anggap sebagai perempuan pengganggu. Aku menundukkan kepalaku karena aku menyadari cairan hangat kembali membasahi pipiku, aku tidak tahu kenapa aku tidak rela kalau sampai Samuel memaafkan wanita itu. Tapi setelah aku pikir lagi, aku tidak berhak berfikir seperti itu, aku tidak berhak atas apapun.
Samuel berbalik dan aku bisa melihat pandangan nya yang tadinya di penuhi dengan amarah kini sudah sedikit lebih tenang. Aku benar-benar tidak ingin melihat kelanjutan nya lagi. Mereka akan berpelukan dan saling memaafkan, lalu aku akan jadi wanita yang begitu menyedihkan.
Samuel perlahan membelai rambut Caren,
"Kamu benar, kamu memang bodoh karena telah menyia-nyiakan cinta ku yang begitu tulus padamu. Kita memulai hubungan kita dengan baik...!"
Samuel menjeda apa yang ingin dia katakan, dan mendekati wajah Caren.
Cup
Aku memejamkan mataku dan memegang dadaku yang terasa begitu sakit ketika melihat Samuel mencium wanita itu di depan ku. Sudah aku duga, kalau semua ini akan terjadi. Rasanya aku ingin berlari dari sini, tapi kakiku bahkan tidak mampu untuk aku gerakkan. Aku hanya bisa menangis dan memalingkan wajah ku.
__ADS_1
"Sam, aku tahu kamu sangat mencintai ku, aku tahu kamu pasti akan memberiku kesempatan sekali lagi!" lirih Caren lalu berusaha untuk memeluk Samuel tapi Samuel menahan tangan Caren.
"Aku akan jujur padamu, aku jatuh cinta padamu karena kamu adalah perempuan pertama yang mencium ku saat kita kuliah dulu. Aku tidak tahu apakah itu adalah ciuman pertama mu atau bukan, tapi itu adalah ciuman pertama ku. Aku jatuh hati padamu sejak saat itu, dan aku bahkan sudah berjanji kalau hanya kamu lah satu-satunya wanita dalam hidup ku!" jelas Samuel.
Aku sampai tertegun mendengar apa yang Samuel katakan.
"Tapi sayangnya aku bukan satu-satunya pria bagimu, jadi Caren. Aku akan memaafkan mu, tapi hubungan kita berakhir sampai disini. Kenzo juga adalah pria yang baik, aku yakin dia bahkan tidak tahu kalau kamu sudah punya kekasih! pergilah Caren, dan kalau bisa jangan pernah muncul lagi di hadapan ku!" ucap Samuel dengan suara pelan namun terdengar sangat berat.
Caren masih mematung di tempatnya, aku juga sama. Aku tidak percaya hal itulah yang membuat Samuel begitu mencintai Caren. Aku tidak tahu harus senang atau sedih, karena semua ini juga tidak ada hubungannya dengan ku. Tapi aku menyadari satu hal, Caren telah membuat pria yang paling tulus mencintainya terluka, Caren telah menyia-nyiakan cinta tulus Samuel.
"Pergilah, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku!" tegas Samuel lagi.
Caren masih berusaha untuk menyentuh Samuel, tapi sebelum bisa menjangkau nya, Samuel lebih dulu menjauh menghindari tangan Caren.
"Sam...hiks!"
Caren perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel, sebelum benar-benar pergi dia sempat menoleh sekilas ke arah ku. Tatapan itu seperti tatapan seorang yang akan mengakhiri hidup orang yang dia tatap, dan seperti nya Caren memang ingin aku berakhir.
Aku bahkan melihat dia mengepalkan tangannya sebelum membanting pintu dengan kuat. Aku menghela nafas ku berat. Aku benar-benar ingin segera pergi dari tempat ini.
Samuel mendekati ku dan membantu ku untuk bangun, dia melihat ada luka di tangan ku, aku juga tidak sadar sejak kapan ada luka ini. Mungkin ini karena kuku tajam Caren yang menarik ku dengan kencang tadi, beberapa helai rambut ku bahkan juga sudah terjatuh di lantai. Aku rasa itu rontok saat di tarik oleh Caren tadi. Perempuan itu benar-benar mengerikan, aku harap aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
"Sakit?" tanya Samuel dengan nada datar.
'Pakai di tanya lagi!' batin ku kesal.
Dia mengusap luka itu perlahan.
__ADS_1
"Ssshh!" aku meringis kesakitan, rasanya perih dan panas.
"Sebentar, akan aku obati!" ucapnya lalu menghubungi layanan kamar meminta kotak P3K
Dia kembali mendekatiku, dan merapikan rambut ku yang berantakan, aku hanya diam. Memangnya aku bisa apa lagi selain diam.
Samuel merapikan rambut ku dengan sangat lembut, mungkin dia merasa bersalah padaku karena pacarnya, eh bukan tapi mantan pacar nya melakukan hal kasar ini padaku.
Tok tok tok
Tak lama ada suara ketukan pintu. Dan Samuel segera membukakan pintu itu, di ambilnya sebuah kotak berukuran kecil dari petugas hotel lalu kembali duduk di sebelah ku.
Dia mengobati luka di lengan ku, tapi aku merasa seperti nya ada luka juga di pinggangku karena rasanya sangat panas dan juga perih.
"Sudah, dimana lagi yang terluka?" tanya nya pelan.
Aku menggeleng kan kepalaku dengan cepat.
"Tidak ada lagi!" jawab ku sambil menundukkan wajah ku.
Tapi Samuel tidak percaya, dia memeriksa lengan, jari-jari bahkan kaki ku, tapi saat dia menyentuh pinggul ku aku mendesis kesakitan.
"Naikan kaos mu!" serunya dan aku segera menggeser duduk mu menjauh darinya sambil menggelengkan kepala ku dengan cepat.
***
Bersambung...
__ADS_1