Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
53


__ADS_3

Cuaca yang begitu cerah dan berawan, tak kurasakan sama sekali saat ini. Aku masih tegang, begitu panik dan gelagapan. Aku bahkan menyembunyikan kedua tangan ku yang aku yakin bisa terlihat kalau aku gemetaran di belakang tubuh ku.


"Kandang buaya, kandang serigala kenapa terdengar rumah ku seperti sarang hewan liar?" tanya Samuel tak terima.


Dari nada suaranya saja, aku tahu kalau sebelumnya tidak ada yang pernah bicara seperti itu tentang rumah si lidah tajam itu.


Adam malah masih menatap ke arah ku dengan senyuman yang sangat sulit di artikan. Aku rasa dia akan senang kalau Samuel marah padaku, huh kenapa aku mendadak merasa adik dan kakak sama-sama bisa membuatku mati muda ya. Jangan sampai itu terjadi, aku harus bisa melarikan diri dari dia orang aneh ini.


"Katakan padaku siapa yang berani-beraninya mengatakan itu...!"


Saat Samuel berkata dan perkataan nya belum selesai, aku langsung mundur perlahan dan melarikan diri dari mereka berdua. Aku kabur mendekati kedua orang tua ku. Mereka tidak mungkin kemari kan.


Saat aku di dekat ayah ku, aku masih melihat Adam dan Samuel saling bicara. Saat aku melihat ke arah Samuel.


Deg


Dia juga melihat ke arah ku. Jantungku berdegup sangat kencang.


'Gyaaah! kenapa dia melotot begitu. Habis sudah, hutang ku pasti bertambah! lain kali aku tidak akan membawa namanya lagi ketika aku berhadapan dengan masalah apapun' ucap ku dalam hati menyesali apa yang telah aku lakukan tadi.


Maksud ku bicara seperti tadi itu karena aku mengira akan bisa menggertak dan mengelabui pria bernama Adam itu. Tapi mana aku tahu kalau ternyata itu akan membawa masalah lain untuk ku. Mana ku tahu kalau ternyata Adam itu adalah adik kandungnya Samuel.


Menyesal pun sekarang sudah percuma. Huh, sudahlah. Lebih baik jalani saja apa yang ada di depan ku nanti.


Sementara aku masih memikirkan apa yang sudah di katakan oleh Adam pada Samuel hingga Samuel memelototi aku, sesi foto keluarga Virendra sudah selesai. Pengarah gaya dan juga ibu Stella mengajak kami untuk foto bersama dua keluarga. Bahkan ada Riksa juga yang akan berfoto bersama kami. Aku rasa ini Stella juga sangat menyayangi Riksa.


Pengarah gaya yang seperti nya sangat di percaya keluarga Virendra itu memberikan kami instruksi agar terlihat baik dan berestetika saat pengambilan gambar.


Beberapa saat kemudian, pengarah gaya itu mengatakan kalau foto keluarga nya sudah selesai.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih nyonya dan tuan Virendra juga nyonya dan tuan Rama. Sesi foto keluarga nya sudah selesai." ucapnya membuat ku ikut menghela nafas lega.


Dari tadi memakai gaun dengan korset yang begitu erat agar pinggang ku terlihat ramping ini membuat oksigen dalam darah ku seperti nya tidak mengalir sempurna sampai ke otak ku. Rasanya aku jadi pusing, dan sesak.


Ketika aku berjalan mengikuti yang lain menuju lift. Pengarah gaya yang berdiri di samping Samuel karena sepertinya sedang menjelaskan sesuatu memanggil ku.


"Nona Naira!" panggilnya.


Aku menoleh ke arahnya, bukan hanya aku semua menoleh ke arahnya. Apa semua orang disini namanya Naira, aku jadi ingin tertawa saat ini. Ternyata memang ada saja yang selalu bisa membuat kita terhibur dalam suasana apapun kalau kita mau menikmati setiap momen nya.


"Ada apa? bukankah sudah selesai?" tanya ku bingung. Karena jujur saja, aku ingin segera mengganti gaun yang aku pakai ini. Karena meskipun cantik, ternyata kalau tidak terbiasa memang susah.


Sebelum pertanyaan ku si jawab oleh si pengarah gaya, aku malah melihat Samuel menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya.


'Idih, kenapa lagi dia?' tanya ku dalam hati.


"Iya nona foto keluarga memang sudah selesai, tapi foto pengantin nya belum!" jawab nya sambil terkekeh.


"Nai, mau ibu temani?" tanya ibu ku.


Dan jujur saja, aku ingin ibu menemani ku. Tapi baru aku mau membuka mulut ku untuk menjawab iya, ibu Stella menggandeng lengan ibuku.


"Biarkan saja mereka berdua, kalau ada kita. Mereka malah akan kikuk!" ucap ibu Stella sambil terkekeh pelan.


'Hah, kikuk apanya. Kalau tidak ada kalian aku akan di tindas oleh si lidah tajam itu!' batin ku kembali harus mengeluh dan mengeluh.


Aku melihat ke arah Riksa, aku berharap dia tahu apa yang aku pikirkan dan mau disini menemani ku. Tapi ketika Riksa juga melihat ke arahku, Adam mendekatinya dan mengajaknya pergi masuk ke dalam lift.


'Tuh kan, adik nya sama kakak nya sama aja!' batin ku lagi

__ADS_1


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam lift, dan pergi meninggalkan tempat ini. Aku berbalik melihat ke arah Samuel yang terlihat menatapku dengan kesal. Aku berjalan perlahan ke arahnya.


"Naira, cepatlah. Semakin siang akan semakin panas!" ucap nya mengeluh.


Dan dari apa yang dia ucapkan, seperti nya Adam tidak mengadukan apa yang aku katakan padanya. Baguslah.


Aku mendekati Samuel, dan pengarah gaya pun langsung memberikan instruksi nya.


Dia meminta kami berdua duduk saling berdekatan tapi posisinya itu seperti huruf Y kebalik. Kami saling memunggungi tapi punggung kami harus berada dalam posisi yang sangat dekat, aku merasa bahkan punggung kami nyaris menempel. Dan ketika aku merasa seperti itu, aku jadi risih. Aku sedikit menghindari punggung Samuel.


"Eits, nona Naira! jangan mundur lagi. Kalian harus sangat dekat seperti ini!" ucap nya sambil kembali membuat punggung kami menempel.


"Ya, seperti itu ya. Tahan sebentar!" ucapnya sambil pergi mendekati fotografer nya.


"Ck... sudahlah ikuti saja. Cuma foto, jangan berfikiran macam-macam. Meskipun aku menyentuh mu sekalipun aku tidak akan pernah tertarik padamu! jangan memandang tinggi dirimu!" ucap Samuel setengah berbisik.


Aku hanya menghela nafas ku panjang, apa dia tidak tahu meskipun aku memang sudah terbiasa mendengar dia menghinaku. Tapi tetap saja kata-katanya itu membuat hati kecil ku merasa sedih. Aku tidak pernah memandang tinggi diriku, tapi dia juga tidak punya hak untuk merendahkan aku terus kan.


"Siapa juga yang mau kamu sentuh, itu tidak ada ya dalam perjanjian, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ujar ku juga setengah berbisik membela sedikit harga diriku.


"Cih, walaupun ada kesempatan! aku tidak akan pernah menyentuh mu! apalagi tanpa pakai hand sanitizer terlebih dulu!" ucapnya lagi.


Aku mendengus kesal, memangnya aku ini virus atau bakteri. Sehingga dia harus pakai hand sanitizer.


'Ih, menyebalkan!' keluh ku dalam hati.


"Nona Naira! senyum dong. Jangan seperti itu, kamu harus terlihat bahagia!" ucap si pengarah gaya.


'Heh, terlihat bahagia? apa dia tidak tahu kalau aku malah ingin menangis sekarang!' batin ku kesal.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2