
"Masih tidak menjawab pertanyaan ku, Stella katakan dimana Puspa? aku harus bicara padanya!" seru Mega yang terlihat sudah semakin frustasi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Stella.
Stella juga masih diam, sebenarnya dia cenderung tidak mau menanggapi Mega karena kedatangan nya saja sudah terkesan tidak sopan dan membuatnya merasa terganggu. Apalagi di kediaman ini juga ada kakek Virendra, Stella sama sekali tidak suka sikap Mega yang dimana pun dia berada dia selalu ingin menjadi satu-satunya orang yang dihargai dan di hormati.
Lagipula Stella juga tidak tahu keberadaan Puspa, dia tadi pagi hanya mendengar dari Adam kalau Samuel sudah pulang subuh tadi dan mengatakan kalau Puspa sudah di temukan dan semua masalah sudah selesai. Jadi dia tidak tahu keberadaan Puspa.
"Dengar Mega, aku tidak tahu keberadaan putrimu. Dan samuel, sekarang dia sedang istirahat setelah membantu mencari putri mu yang di culik semalam!" ucap Stella sengaja menyindir Mega.
"Tapi Puspa tidak pulang ke rumah...!"
"Mega, sudahlah!" ucap Putra yang menepuk bahu istrinya itu dari arah belakang.
"Kita tunggu saja Puspa pulang, ini masih pagi dan tidak benar kalau membuat keributan di kediaman Virendra ini. Samuel juga telah membantu kita, sekarang dia sedang istirahat sebaiknya kita tidak mengganggu nya!" lanjut Putra mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
Stella yang mendengar apa yang dikatakan oleh Putra pun mengangguk setuju.
"Benar kata suami mu!" sahut Stella membuat Mega kesal.
"Iya Tante, siapa tahu sekarang Puspa malah sudah pulang ke rumah!" ucap Jonathan yang juga tidak ingin membuat suasana semakin ruwet saja.
"Katamu Puspa dengan Samuel dan Riksa, oh ya...!" Mega langsung mengalihkan pandangan nya dari Jonathan ke arah Stella lagi.
"Dimana Riksa?" tanya Mega.
Stella terdiam sejenak, dia memang sudah mengira kalau mungkin saja saat ini Puspa sedang bersama dengan Riksa. Tapi Stella juga tidak mau kalau sampai Mega pergi ke apartemen Riksa, Mega bahkan berani membuat keributan di kediaman Virendra, bukan mustahil dia akan lebih membuat rusuh di apartemen Riksa nanti.
Karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan, Stella pun berkata.
"Riksa sedang sibuk di perusahaan. Samuel sedang istirahat tentu saja dia sibuk di perusahaan!" jawab Stella yang sengaja memasang wajah serius agar Mega dan yang lain percaya pada apa yang dia katakan.
Sekilas Mega mengernyitkan dahi merasa kalau Stella hanya membuat alasan saja. Tapi karena Putra dan juga Jonathan terus membujuknya untuk pulang, Mega akhirnya memilih untuk pulang kerumahnya saja.
__ADS_1
Setelah Mega dan yang lain pergi, Stella mencoba untuk menghubungi kantor. Dan benar saja, Dina mengatakan kalau Riksa memang meminta ijin untuk hari ini. Dan hal itu membuat Stella yakin kalau Puspa ada bersama dengan Riksa.
Saat matahari sudah semakin meninggi, Naira perlahan membuka matanya dan melihat suaminya masih tertidur pulas sambil memeluk lengannya.
Senyum di wajah Naira mengembang, dia memandangi wajah Samuel yang menurutnya semakin di pandang semakin tampan.
Naira tidak pernah menyangka kalau dia dan Samuel sekarang benar-benar saling mencintai dan sangat saling membutuhkan satu sama lain. Bahkan semalam ketika Samuel tidak ada di sisinya dia benar-benar kesulitan untuk tidur. Dan saat ada Samuel di sampingnya, semua bebannya nyaris hilang dan dia bisa tidur dengan sangat pulas.
Naira kemudian mengusap wajahnya dan melihat ke arah di dinding.
"Astaga, jam 11!" seru Naira begitu terkejut ketika melihat jam di dinding kamar nya sudah menunjukkan pukul 11 menjelang siang.
Dan karena pekikan dari Naira tadi, Samuel juga terbangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang?" tanya Samuel yang langsung mengusap wajah dan kedua matanya.
Menyadari kalau dia sudah membuat Samuel terkejut, Naira pun segera meminta maaf pada Samuel.
Samuel langsung tersenyum dan memeluk Naira.
"Kenapa minta maaf, tidak apa-apa! aku kira kamu kenapa? semalam kami tidak bisa tidur ya?" tanya Samuel dan Naira langsung mengangguk pelan.
"Kamu tahu tidak sayang, aku senang sekali mendengar ini. Jadi kalau pun nanti kamu ngambek atau marah padaku, kamu tidak akan mengusirku dari kamar, karena kamu tidak bisa tidur tanpa ada aku di sampingmu kan?" tanya Samuel dan di balas dengan senyuman tersipu oleh Naira.
Samuel mencium puncak kepala Naira beberapa kali. Sambil memeluk istrinya itu Samuel lalu berkata.
"Sayang, sepertinya kamu harus menghibur Puspa untuk beberapa saat ini!" ucap Samuel yang langsung membuat Naira mendongak ke arah suaminya.
"Ada apa mas?" tanya Naira yang wajahnya mulai cemas.
"Penculikan yang terjadi pada Puspa itu ternyata di lakukan oleh dua orang asisten rumah tangga Puspa sendiri yang bahkan sudah bekerja selama puluhan tahun di rumah itu!" jelas Samuel.
__ADS_1
Naira tidak memotong perkataan suaminya, dia masih terus menyimak.
"Kamu tidak mau bertanya kenapa asisten rumah tangga nya menculik Puspa?" tanya Samuel pada sang istri.
"Loh, mas kan sedang menceritakan nya!" jawab Naira polos.
Samuel terkekeh pelan lalu kembali memeluk Naira sambil sesekali menciumi punggung tangan Naira.
Seperti dugaan Samuel, istrinya itu memang tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain. Kalau dia mengatakan hal itu pada orang lain, bisa saja ucapannya langsung di sela dan mengatakan kalau, berapa kejamnya asisten rumah tangga Puspa sampai menculik majikannya sendiri, pasti demi uang. Mungkin orang lain akan mengatakan hal itu, tapi Naira istrinya itu bahkan tidak berpikir sampai ke arah situ, dan selalu mendengarkan penjelasan orang terlebih dahulu sebelum menghakimi nya.
"Pak Nasrul dan ibu Jamilah merasa sakit hati, karena putri mereka meninggal akibat Tante Mega, ibu kandungnya Puspa menghentikan pembiayaan untuk perawatan di rumah sakit putri tunggal mereka yang bernama Fika. Dan karena hal itu Fika meninggal!"
"Innalillahi wainnailaihi raji'un!" sela Naira.
Samuel juga terlihat sedih.
"Iya sayang, tapi aku dan Riksa sudah berhasil menemukan Puspa sebelum pak Nasrul dan Bu Jamilah hampir berbuat nekat, mereka nyaris bunuh diri bersama dengan Puspa!" jelas Samuel lagi.
Naira sampai menutup mulutnya sanking tidak percaya dengan apa yang dikatakan Samuel.
"Aku rasa sementara ini pasti Puspa tidak mau pulang ke rumahnya dan bertemu ibunya, dia juga merasa sangat bersalah pada Fika. Untuk saat ini memang ada Riksa yang akan menjaganya, tapi kamu tahukan kami harus bekerja karena tender perusahaan begitu banyak dan baru di mulai. Tapi, kamu juga jangan melakukan aktivitas yang akan membuat mu lelah!" seru Samuel pada Naira.
Naira langsung mengangguk paham,
"Iya mas, aku akan menemani Puspa dan coba untuk membuatnya tidak sedih lagi!" ucap Naira .
Samuel lalu mengecup kening Naira dengan lembut.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu. Kamu yang terbaik!" puji Samuel pada sang istri.
***
__ADS_1
Bersambung...