Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
298


__ADS_3

Vina sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang diberikan oleh Caren dan Jodi. Hal itu membuat Caren nampak sangat sedih, Caren lalu mendekati Vina dan menyiapkan beberapa potongan buah segar yang sudah dia tata di atas piring.


"Jika kamu tidak mau makan makanan berat, kamu bisa makan buah ini saja!" ucap Caren sambil mengulurkan tangannya yang memegang satu buah piring berisi buah segar sambil tersenyum pada Vina.


Tapi Vina bahkan tidak melihat ke arah Caren, dia malah hanya melihat sekilas piring buah yang Caren pegang lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah Kevin yang sedang makan bersama Jodi.


'Ayah benar-benar sangat percaya pada Jodi. Dan semua ini adalah salah ku, kalau aku dulu tidak menyanjung pria jahat itu setinggi langit, tidak mungkin ayah begitu percaya padanya!' batin Vina kesal pada dirinya sendiri dulu.


Dia merasa kalau dulu dirinya begitu di buatkan cinta sampai bahkan rela menyerahkan seluruh yang dia punya dan seluruh hidupnya demi Jodi dan sahabat nya Caren. Ternyata keduanya malah menusuknya dari belakang.


"Vina!" panggil Caren karena Vina tak kunjung bicara padanya.


"Ayah!" panggil Vina dan Kevin Rahardja pun. segera menoleh ke arah putrinya itu.


"Aku akan makan bersama Adam di kantin saja, aku tidak mau dia kecewa karena tadi kan aku sudah minta padanya untuk memesankan makanan!" ucap Vina yang berlalu pergi begitu saja dari ruangannya.


Kevin yang melihat Vina pergi, juga langsung meletakkan sendok yang dia pegang.


"Aku juga harus kembali keruangan ku, terimakasih pudingnya Caren. Kalian lanjutkan saja makannya ya!" seru Kevin yang juga langsung berdiri dan berjalan keluar meninggalkan ruangan Vina.


Caren dan Jodi hanya bisa saling pandang karena memang mereka berdua merasakan perubahan besar pada sikap Kevin karena perubahan yang terjadi pada Vina juga.


Caren yang merasa kalau sahabatnya itu telah berubah mendekati Jodi yang sedang menatap kepergian Kevin.


"Jodi, apakah kamu merasa kalau ada yang aneh dengan Vina?" tanya Caren dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, saat dia sadar di rumah sakit dia bahkan tidak mau melihat ke arahku. Padahal sebelumnya bangun tidur pun dia akan video call, dan kalau aku belum menjawab dia bahkan akan terus menghubungi ku belasan sampai puluhan kali. Bagaimana seseorang bisa berubah secepat itu?" tanya Jodi yang begitu penasaran.


Caren diam dan berpikir, sambil satu memegang dagunya dia memikirkan kemungkinan yang terjadi pada sahabat nya itu.


"Atau, otaknya mengalami masalah setelah kecelakaan?" tanya Caren yang langsung melihat ke arah Jodi.


"Ck... kita juga sudah melihat laporan medisnya bukan? dan menurut hasil laporan medis, yang amnesia itu Adam!" jawab Jodi yang mulai jengkel sendiri memikirkan perubahan sikap Vina padanya.


"Lalu apa ya, yang membuatnya seolah tidak perduli pada kita berdua?" tanya Caren dengan mata yang hampir berkaca-kaca.


Sebenarnya Caren juga sedih karena Vina bersikap begitu acuh, cuek dan dingin padanya. Sebenarnya dia juga sudah menganggap Caren itu sahabat terbaiknya, namun godaan uang dan kenyamanan hidup membuat Caren rela mengkhianati sahabatnya itu, tapi kalau di bilang masih perduli atau tidak pada Vina sebenarnya Caren masih perduli. Bahkan ketika Jodi berencana mengambil alih perusahaan, Caren tetap tidak akan mengambil saham milik Vina. Tapi sekarang semua itu hanya sekedar rencana saja, karena pernikahan Jodi dan Vina tidak akan pernah terjadi, maka Jodi dan Caren harus lebih bekerja keras untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka.


Meninggalkan Jodi dan Caren yang masih bingung dengan perubahan sikap Vina. Adam di kantin sudah selesai dengan makanan yang dia pesan dan bersiap mengantarkan nya ke ruangan Vina di bantu oleh dua orang petugas kantin. Namun baru akan keluar dari kantin, langkah mereka terhenti karena melihat Vina berjalan mendekat ke arah kantin.


"Vina, baru aku mau antar...!"


"Bagaimana kalau kita ke roof top saja, aku sudah tidak berselera untuk makan!" ucap Vina.


Adam yang merasa risih di gandeng oleh Vina berusaha untuk melepaskan tangan Vina. Tapi wanita itu malah berbisik padanya.


"Hei, jangan terlihat seperti aku sedang mengejar mu. Atau aku berikan rekaman itu pada ibu mertua!" bisik Vina pada Adam.


Apa yang dikatakan Vina itu langsung mendapatkan pelototan tajam dari Adam, namun dia juga tidak mau kalau sampai Vina memberikan rekaman itu pada ibunya dan yang lain di rumah. Adam lalu diam, dan membiarkan Vina merangkul lengannya.


"Mbak, simpan saja lagi makanan nya. Dan masukan tagihannya ke tagihan suami ku ya!" ujar Vina sambil tersenyum pada petugas kantin.

__ADS_1


Adam kembali menatap tajam ke arah Vina.


"Apa-apaan kamu ini, keterlaluan juga ada batasnya...!"


"Sudah, jangan protes terus. Aku ingin katakan sesuatu yang penting padamu, ayo!" ucap Vina lalu menarik Adam menuju ke roof top.


Setibanya mereka di roof top perusahaan Rahardja grup, Vina melepaskan tangannya dari tangan Adam.


"Aku minta maaf ya, karena membawa mu dalam masalah ku. Tapi aku pikir aku memang harus menceritakan semua ini padamu. Mungkin kamu akan menganggap ku wanita aneh, kemudian menganggap ku minta di kasihani atau apalah. Tapi sebenarnya aku hanya ingin menceritakan ini padamu, karena sekarang kamu adalah suami ku dan aku tidak ingin merahasiakan apapun padamu!" ucap Vina panjang lebar.


Adam hanya diam lalu duduk sambil bersandar ke salah satu dinding putih yang letaknya lumayan jauh dari pintu keluar.


Vina lalu ikut duduk di sebelah Adam.


"Mereka berdua mengkhianati ku!" lirih Vina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Adam yang awalnya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ingin diceritakan oleh Vina langsung menoleh ke arah Vina setelah Vina mengatakan kalimat kalau dirinya telah dikhianati.


"Aku melihat mereka berdua melakukan itu di apartemen... hiks hiks!" akhirnya Vina menumpahkan semua kesedihan yang sudah dia pendam sendiri selama beberapa Minggu ini setelah melihat Jodi dan Caren mengkhianati nya.


Vina tidak bisa melanjutkan ceritanya dan malah menangis sambil menundukkan kepalanya. Adam yang awalnya sikapnya sangat dingin, entah kenapa hatinya menjadi kasihan pada wanita di sebelahnya itu. Adam perlahan merangkul Vina dan membiarkan Vina menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran Vina untuk menangis.


"Menangis lah jika ingin menangis, itu akan membuat mu sedikit lega!" ucap Adam.


Kalau saja Vina tidak sedang menangis, dia pasti fokus pada kalimat yang dikatakan Adam dan dia pasti terkejut, tapi karena dia sedang menumpahkan kesedihan nya, dia bahkan tidak menyadari kalau Adam bahkan mengusap lengan Vina perlahan untuk menenangkannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2