Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
29


__ADS_3

Author POV


Di tempat lain di waktu yang sama, seperti nya Teddy Morgan sudah selesai meeting dan sekarang sedang berjalan dengan malas ke dalam ruangannya.


Sebagai orang tua dia ingin anaknya yang merupakan putrinya satu-satunya mendapat apa yang dia inginkan. Lagipula menikah dengan Samuel Virendra, tidak ada yang buruk dengan hal itu. Justru itu sangat menguntungkan mereka, dari sisi bisnis dan juga status.


Mereka sudah terpandang, menikah dengan keluarga terpandang akan membuat mereka semakin di akui dalam masyarakat dan juga hubungan bisnis, mereka sudah sering bekerja sama. Dan kalau mereka menjadi keluarga, maka hubungan kerja sama mereka akan semakin kuat dan keduanya akan mendapatkan keuntungan yang banyak.


Namun langkahnya melambat ketika mendekati pintu ruang istirahat nya, pasal nya dia sudah membahas ini beberapa kali dengan Damar dan juga Stella. Yang mengajukan perjodohan ini adalah Melinda dan dirinya pada Damar.


Damar memang setuju, tapi kakek virendra dan juga Stella bilang akan mempertimbangkan nya, dan jika Samuel mempunyai kekasih lain selain Caren maka perjodohan ini bisa langsung di batalkan. Dan Teddy juga Melinda menyetujui hal itu. Tapi sepertinya, Melinda istrinya itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Natasha.


Pria paruh baya itu melonggarkan dasi yang ada di kerah kemejanya, dan mulai perlahan mengangkat tangannya ke handle pintu besar pintu ruang istirahat nya.


Ceklek


Ketika dia masuk ke dalam, tampak lah dua wanita cantik sedang berada di dalam dan keduanya langsung memandang ke arah Teddy.


Yang satu duduk dengan meletakkan satu kaki di atas kakinya yang lain dan melipat tangannya di depan dada, menendangnya dengan tatapan datar.


Dan yang satu lagi seperti nya baru saja menghentikan langkahnya karena posisi tubuhnya sedikit tidak siap dan saat dia menoleh tubuhnya serong menghadap ke arah Teddy, tatapan wanita itu tajam dan penuh dengan pertanyaan.


Wanita yang pertama adalah Melinda istrinya. Dan yang kedua adalah Natasha putrinya, yang dengan cepat menghampiri Teddy meskipun ayahnya itu belum menutup pintu seluruh nya.


"Papa! apa ada yang ayah sembunyikan dariku?" tanya Natasha mendesak ayahnya.


Natasha memberikan pertanyaan itu karena ibunya mengatakan kalau sebenarnya perjodohan ini keluarga Morgan yang memintanya. Dan hal itu benar.


Teddy tidak langsung menjawab pertanyaan mendesak dari putrinya itu. Dia memilih untuk duduk di sofa dekat dengan Melinda.


"Duduk lah dulu nak, kita bisa bicara dengan kepala dingin setelah kami duduk!" seru Teddy yang bisa menangkap kalau saat ini putrinya Natasha sedang tidak dalam mood yang baik.


"Apa yang membuat mu sampai harus melanggar perintah papa?" tanya Teddy lagi.


Pertanyaan ini di tujukan Teddy atas perbuatan Natasha yang memaksa masuk ke ruang meeting nya, bahkan berlaku kejam pada sekertaris pribadi nya yang sudah belasan tahun bekerja padanya.


Natasha berjalan perlahan ke arah sofa yang paling jauh dari kedua orang tuanya, wajahnya masih kesal dan dia juga duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajah nya dari Teddy.


"Lihat putri mu, dia bahkan tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya sendiri?" tanya Teddy pada Melinda sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


Usianya sudah tidak muda lagi, dan berbagai macam masalah yang di timbulkan oleh Natasha, dia takut tidak bisa menghadapinya lagi kelak. Melinda istrinya begitu memanjakan putrinya itu, dia selalu mengungkit penyakit Teddy jika Teddy protes pada cara mendidik Melinda pada Natasha. Dan hal itu juga tidak di inginkan Teddy, pasalnya tidak ada yang tahu hal ini. Dia akan sangat malu, karena ini memang kesalahan nya di masa lalu.


"Lalu kamu mau aku bagaimana? kamu kan ayah nya, kewajiban mu memberikan apa yang putri mu satu-satunya ini mau!" jawab Melinda.


Dan jawaban Melinda itu seolah menambah berat beban pikiran Teddy dan juga tugasnya.


"Aku rasa tidak ada gunanya bicara padamu!" gumam Teddy pelan.


Gumaman itu mungkin tidak akan di dengar oleh Natasha yang memang berada jauh dari mereka. Tapi masih bisa di dengar oleh Melinda yang duduk di dekat Teddy.


"Kalau begitu tidak perlu bicara dengan ku, selesaikan saja masalah putri mu!" tegas Melinda dengan raut wajah yang mulai tampak kesal.


Natasha sebenarnya juga tidak heran dengan pemandangan seperti ini. Kedua orang tuanya itu memang sering selisih paham dan sering bertengkar, Natasha tidak tahu sebabnya dan dia memang tidak ingin tahu. Bukan karena takut tidak bisa menerima rasa sakit yang mungkin dia rasakan jika tahu kenyataan yang sebenarnya, tapi dia memang tidak perduli sama sekali. Wanita yang bernama Natasha Morgan ini memang hanya perduli pada kebahagiaan nya sendiri.


"Kalian sudah selesai berdebat, papa dan mama sudah bisa jelaskan sebenarnya perjodohan macam apa yang kalian buat untukku dan Samuel? kenapa Samuel bisa menikah dengan orang lain, dan Tante Stella dan om Damar seperti nya malah sudah setuju, Tante Stella memposting foto calon istri Samuel di media sosial nya, bukankah aku seharusnya yang menjadi calon istri Samuel?" tanya Natasha dengan emosi. Dia bicara dengan nada suara yang tinggi, padahal dia sedang bicara pada kedua orang tuanya sendiri.


"Berita perjodohan juga sudah papa dan Om Damar bahas waktu itu di sebuah acara live di televisi kan? bagaimana mungkin ada yang menggantikan tempat ku, setelah aku mengungkap kebusukan wanita bernama Caren itu di depan Tante Stella dan juga kakek Virendra?" tanya Natasha lagi.


Dan apa yang dia katakan barusan itu memang benar, wajah asli Caren tidak terbuka dengan sendirinya. Ada campur tangan Natasha di sana. Gelas minuman yang di bawa oleh pelayan paruh baya di kediaman Virendra itu tidak jatuh sendiri atau karena kecerobohan si pelayan, itu adalah perbuatan nya. Dia yang menyenggol pelayan itu tapi tidak ada satu pun orang yang mengetahui hal itu. Dan karena perbuatannya itu Caren emosi dan tidak dapat mengendalikan dirinya.


Stella marah pada Caren dan menegurnya juga bukan tidak ada sebab, Natasha yang menghasut Stella dan mengatakan kalau Caren menyiksa pelayan yang tidak bersalah. Dia mengatakan dirinya melihat kejadian sebenarnya dan bukan pelayan itu yang salah tapi Caren. Dan hasil perbuatan Natasha itu adalah rasa benci Stella pada Caren dan juga sebaliknya.


Teddy terlihat menundukkan kepalanya sekilas lalu melihat ke arah putrinya lagi.


"Kamu juga melihat tayangan itu kan, kalau di acara live itu Stella mengatakan, perjodohan itu memang bisa terjadi tapi kalau Samuel mempunyai kekasih lain dan menikahinya dalam waktu empat bulan, maka perjodohan itu secara otomatis akan batal dengan sendirinya. Papa sudah berusaha menjaga hubungan baik dengan Damar dan Stella, begitu pula ibu mu!" jelas Teddy dengan suara yang lemah.


Lelaki paruh baya ini sangat lelah hari ini. Baru saja meeting nya terganggu karena kedatangan Natasha, membuatnya hampir kehilangan kesempatannya besar dan menderita kerugian. Dengan susah payah dia meyakinkan klien nya. Dan sekarang dia harus kembali menjelaskan masalah ini pada Natasha.


"Bukannya papa bilang, papa sudah sewa detektif dan bilang kalau Samuel tidak punya kekasih, dia tidak pernah makan di restoran mahal dengan wanita lain, tidak pernah mengeluarkan banyak uang untuk memberikan hadiah pada wanita lain, lalu bagaimana dalam tiga hari lagi, terhitung dengan hari ini dia akan menikah?" tanya Natasha dan kali ini matanya semakin merah dan berkaca-kaca.


Melihat sikap Natasha dan raut kecemasannya, Melinda berdiri dan mendekati putrinya, dia merangkul dan memeluk Natasha ke dalam dekapannya.


"Sayang, tenang ya. Mama akan cari tahu siapa perempuan itu. Karena sepertinya papa mu tidak benar-benar menginginkan kebahagiaan putri tunggal nya ini!" ucap ketus Melinda sambil melirik sinis pada Teddy.


Teddy tahu, kalau ucapan Melinda itu memang untuk menyindirnya. Tapi Teddy hanya bisa menghela nafas berat, karena saat ini dia tidak ingin berdebat. Kondisi Natasha sepertinya sangat tidak baik. Dia marah, dan memprotes segala hal. Dia dalam kondisi yang jika masih tetap melihat pertengkaran di depannya, Teddy takut Natasha akan semakin marah dan depresi.


"Baiklah, ayah akan mencari tahu tentang calon istri Samuel itu..."


"Tidak perlu!" sela Melinda dengan nada tegas.

__ADS_1


"Aku sendiri yang akan datang pada perempuan itu, aku rasa dia bukan dari kalangan seperti kit, jika iya, bagaimana mungkin kita tidak mengenal nya atau bahkan pernah melihatnya!" lanjut Melinda lagi.


Natasha menarik dirinya dari pelukan ibunya.


"Ma, cepat hubungi Tante Stella atau om Damar, dan tanyakan masalah perjodohan ku dan Samuel!" rengek Natasha pada Melinda.


Saat Natasha mengatakan hal itu, Teddy memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Bagaimana tidak, bukankah barusan dia sudah menjelaskan kalau perjodohan itu memang bisa batal dengan sendirinya. Tapi putrinya malah merengek meminta ibu dan ayahnya bertanya lagi pada Stella dan juga Damar.


"Nak...!" ucap Teddy


Namun ucapannya terhenti ketika Melinda mengangkat tangannya di depan Teddy. Melinda memberikan isyarat agar Teddy diam.


"Lakukan saja apa yang di inginkan putri mu! hubungi Damar Virendra itu sekarang!" seru Melinda.


"Tapi ma..!" ucap Teddy yang tidak ingin melakukan itu.


"Hubungi Damar Virendra sekarang!" seru Melinda dengan nada yang dinaikkan setengah oktaf dari sebelumnya.


"Huh!" Teddy menghela nafas berat dan mengusap wajahnya.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Teddy meraih ponselnya dan mencari nomer Damar Virendra, setelah menemukan nya. Teddy menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau.


Tut Tut


"Tersambung?" tanya Melinda dengan sangat antusias.


Teddy menganggukkan kepalanya, membuat Natasha tersenyum senang dan ikut menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tut Tut


Telepon nya tersambung, dan nomer itu aktif tapi tidak di jawab.


"Mungkin dia sedang sibuk!" seru Teddy mencoba mematikan panggilan lalu melakukan panggilan ulang lagi.


Tut Tut


"Kurasa memang tidak mau di angkat!" ucap Teddy membuat kedua wanita di depannya mengepalkan tangan mereka dengan kesal.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2