
Setelah membicarakan nya dengan ayah, maka pernikahan ku dengan Samuel akan berlangsung tiga hari lagi. Rasanya memang begitu mendadak, tapi aku memang sampai tak bisa mengatakan apa-apa lagi perihal ini. Mulut Samuel itu kalau sudah bicara, maka seperti tidak ada yang bisa membantah semua ucapan yang keluar darinya.
Dia begitu percaya diri, pembawaan nya sangat tenang saat bicara dengan ayah dan juga ibu. Dia bahkan begitu lembut dan ekspresi wajahnya itu, tidak akan ada yang mengira jika sebenarnya dia telah berbohong dan mengarang semua cerita ini. Di tambah dengan kehadiran Riksa yang juga mampu menambah keyakinan ayah dan ibuku. Aku bahkan hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi. Keputusan nya telah di ambil oleh ayah dan juga Samuel.
Aku juga tidak masalah dengan semua itu. Karena aku sudah tanda tangan kontrak pernikahan itu. Jadi mau protes pun, aku tak punya alasan untuk itu.
Setelah ayah dan ibu setuju, ayah dan ibu memintaku untuk mengantar Samuel dan juga Riksa keluar dari rumah menuju ke mobil mereka.
"Ingat, untuk bangun pagi. Jam 7 tepat Riksa akan menjemput mu dan membawa mu ke butik. Kita akan feeting pakaian pengantin kita!" seru Samuel dan aku masih menunduk diam. Aku mendengarnya tapi aku sama sekali tak berniat menanggapinya.
"Hei, gadis ceroboh. Dengar tidak?" tanya nya dengan suara yang meninggi.
Aku mengangkat kepalaku dan berhenti melangkah.
"Kamu bicara padaku?" tanya ku sengaja membuatnya kesal. Setidaknya dia tidak akan marah dan berkata kasar disini kan.
Dia berjalan mendekat ke arah ku. Dia benar-benar dekat. Dia menunduk, karena memang dia lebih tinggi dariku.
"Jangan mengira aku akan diam dan tidak membalas mu jika kamu macam-macam. Ini memang rumah mu, tapi yang harus kamu sadari adalah. Setelah menikah, kamu yang tinggal di rumah ku. Dan disana tidak ada seorang pun yang akan menolong mu kalau..!"
Aku mendorongnya sedikit.
"Aku dengar, aku akan siap di depan rumah pukul 7 pagi tepat. Tidak kurang tidak lebih!" sahut ku cepat. Sungguh aku bergidik saat Samuel menggertak ku tadi.
__ADS_1
Kenapa aku bisa melupakan semua itu, kenapa aku lupa kalau kebebasan ku benar-benar hanya tinggal 3 hari lagi. Setelah itu aku harus menjalankan semuanya sesuai dengan kontrak. Aku harus minta ijin padanya ketika akan keluar rumah meskipun itu adalah untuk berbelanja atau bahkan untuk mengunjungi kedua orang tua ku, aku harus berhenti bekerja, dan juga aku harus menuruti semua perintahnya tanpa menanyakan apa alasan nya.
Dia nampak tersenyum menyeringai, aku tahu dia pasti merasa menang dariku. Tapi aku sungguh tidak perduli. Aku juga tidak ingin menang darinya. Aku hanya ingin semua berjalan baik-baik saja. Hanya satu tahun, dan hanya menjadi istri kontrak di atas kertas. Itu pasti tidak sulit.
"Bagus!" ucap nya sebelum masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh Riksa.
Seperti nya mereka hanya datang berdua, aku tidak melihat pak Urip, mungkin saja jam kerjanya sudah selesai. Tapi kenapa Riksa masih bersamanya, ini kan sudah sangat malam. Sebenarnya Riksa ini sekertaris nya atau supirnya sih? atau keduanya?
Riksa menutup pintu mobil setelah bos nya masuk ke dalam. Sebelum beranjak ke bagian pengemudi, dia menghampiri ku.
"Kami pulang dulu ya Naira, sampai jumpa besok!" ucap nya sambil tersenyum setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan mereka pun berlalu.
Aku masih terdiam, sampai usia ku yang sekarang ini aku memang belum pernah jatuh cinta atau berpacaran. Dulu aku sempat menyukai kakak kelas ku saat SMA tapi itu sebatas suka saja. Dan aku tak pernah mendekatinya atau menyatakan perasaan itu padanya. Karena perasaan itu tiba-tiba hilang begitu saja seiring waktu. Dan aku yakin itu hanya rasa suka, bukan cinta.
Tapi ketika aku melihat Riksa dan bicara padanya, aku kembali merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan pada kakak kelas ku itu. Dan aku yakin perasaan ini juga bukan perasaan antara pria dan wanita pada umumnya. Aku hanya kagum padanya, tapi aku senang. Setidaknya ada dia yang bisa membuatku tenang dan nyaman saat bersama Samuel nanti.
"Nai, sini. Ya ampun ini parfum mahal loh Nai. Lihat nih, atau sama ibu dapat jam tangan couple. Ini juga ada sertifikat nya ini. Wah, lihat yah, harganya bisa beli satu motor ini. Gak sayang apa ya nak Samuel beli jam tangan semahal ini. Ibu jadi gak enak yah!" seru ibu ku panjang lebar. Dia terlihat senang dengan semua hadiah dari Samuel.
Tapi seperti nya dia juga jadi merasa canggung menerima banyak hadiah mahal seperti itu.
"Kalau gak enak balikin aja gimana Bu?" tanya ayah ku memberi saran.
Ibu terdiam, dia nampak berpikir begitu keras sampai dahinya berkerut. Dan ibu kemudian memeluk paper bag itu lagi.
__ADS_1
"Jangan deh yah, jangan di balikin. Biar ibu simpan saja!" ucap nya lalu berjalan menuju ke dalam kamarnya.
Ibras sudah masuk ke kamar nya, karena besok dia juga sekolah. Ayah menepuk sisi kursi di sebelahnya, aku tahu dia meminta ku untuk duduk. Pasti ada yang ingin ayah bicarakan.
"Ada apa yah?" tanya ku pelan. Karena ini memang sudah sangat larut.
"Apa kamu bahagia?" tanya ayah dengan suara yang bergetar.
Aku menoleh ke arah ayah ku, memandangnya dan aku tahu ayah sedang sedih. Raut wajahnya memancarkan itu.
"Ayah sedih ya?" lirih ku yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ayah ku saat ini.
Ayah tidak langsung menjawab, dia meraih tangan ku yang ada di atas paha kanan ku lalu membawa ke atas paha kirinya, ayah menepuk tangan ku dan melihat ke arahku.
"Ayah tidak sedih Nai, ayah hanya ingin memastikan keputusan ayah ini benar. Ayah hanya ingin kamu bahagia nak. Pernikahan itu adalah sebuah keputusan yang tidak main-main. Saat kamu memutuskan untuk menikah, itu artinya kamu sudah memutuskan untuk bersama dengan nak Samuel seumur hidup kamu!" ayah menjeda kalimat nya karena dia benar-benar berkaca-kaca saat ini.
"Ayah!" lirih ku yang sudah lebih dulu menangis.
Ayah membelai lembut kepala ku, dan tersenyum di sela keharuannya.
"Ayah berharap, kamu selalu bahagia nak. Ayah berharap nak Samuel akan bisa menyayangi dan melindungi mu seperti ayah...!"
Aku memeluk ayah dengan cepat, sampai dia belum sempat menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Aku bahkan telah membohongi ayahku yang baik dan tulus ini. Apa yang akan terjadi nanti, jika ayah tahu pernikahan ini hanya akan berlangsung satu tahun saja.
__ADS_1
***
Bersambung...