Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
187


__ADS_3

Setelah hanya bisa tidur selama dua jam, akhirnya alarm ponsel Riksa berdering. Dia pun segera membuka matanya dan bangun dari posisi tidur duduk nya. Benar sekali, Riksa tidur dalam posisi duduk di sofa, hanya menyandarkan kepalanya saja di sandaran sofa.


Dan tidak hanya Riksa, Samuel pun sama. Saat ini dia sedang tertidur dengan posisi yang hampir saja dengan Riksa. Hanya saja, terlihat lebih nyaman karena kursi kebanggaan Samuel itu di design khusus agar siapapun pemiliknya yang menduduki kursi itu benar-benar bisa nyaman dalam posisi apapun.


Setelah mengusap wajahnya, Riksa bergegas berjalan ke arah Samuel, karena sebelum rapat jam 7 pagi nanti, mereka sudah harus mandi agar terlihat lebih segar.


"Bos, bangun bos!" seru Riksa sambil menepuk bahu Samuel.


Seperti nya Samuel sangat lelah, dua kali tepukan yang di lakukan oleh Riksa di bahu Samuel sama sekali tidak membuat pria itu membuka matanya atau menukar posisi karena merasa terganggu.


"Bos, bangun lah! ini sudah jam enam!" seru Riksa lagi sambil masih menepuk lengan Samuel dan satu tangannya mengusap wajahnya dan membersihkan matanya dari segala kotoran duniawi yang ada di sekitar mata Riksa karena dia tertidur setelah menyelesaikan semua laporan yang akan di presentasikan dalam meeting penting bersama tuan Rizaldi sekitar dua jam yang lalu, mungkin malah tidak sampai dua jam yang lalu.


Karena merasa apa yang dia lakukan percuma, Riksa mulai mendekati Samuel dan mengatakan dengan suara lantang di dekat telinga bos nya itu.


"Naira, kenapa kamu datang pagi-pagi..!"


Dan benar saja sebelum Riksa dapat menyelesaikan kalimat yang ingin dia ucapkan. Samuel langsung terkesiap kaget dan langsung mengusap wajahnya dan langsung melihat ke arah pintu, meski matanya baru terbuka belum semuanya. Masih sedikit menyipit karena memang dia masih sangat mengantuk.


Samuel langsung fokus ke arah pintu, dan dia tidak menemukan Naira di sana. Samuel berpikir mungkin Naira sudah duduk. Dia lalu melihat ke arah sofa tamu, dan ternyata Naira juga tidak ada disana. Sampai dirinya menyadari kalau memang tidak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan juga sekertaris pribadi nya itu. Mata Samuel langsung memicing pada Riksa.


"Kenapa membohongi ku? kamu benar-benar sudah bosan punya gaji ekslusif ya Riksa?" tanya Samuel dengan pandangan tidak bersahabat dan dengan nada suara yang terdengar amat sangat dingin.

__ADS_1


Riksa yang menyadari emosi yang mulai tersulut dari Samuel. Langsung menggaruk tengkuknya yang memang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal.


"Sejak tadi aku membangunkan mu bos, tapi kamu tak kunjung bangun. Jadi ku pikir aku pakai saja nama Naira untuk membangun kan mu, dan ajaibnya trik itu berhasil!" jawab Riksa sambil cengengesan.


Siapa pun yang melihat Riksa pasti tidak percaya dia bisa cengengesan seperti itu. Tapi memang selama ini ekspresi seperti itu hanya dia tunjukkan pada Samuel dan juga Stella. Tidak pada orang lain, termasuk Damar dan yang lainnya, siapapun itu.


Riksa memang sangat dekat dengan Samuel. Tidak heran kalau dia bisa menunjukkan segala macam ekspresi di depan Samuel, begitu pula sebaliknya. Samuel juga bisa menunjukkan semua ekspresi nya pada Samuel. Kesedihan, kecemasan, kebahagiaan dan ketakutan mereka berdua bisa tahu satu sama lain mengenai semua itu meski salah satu dari mereka tidak mengatakan nya.


Meski Samuel adalah bos Riksa, tapi Samuel selalu mendengarkan pendapat Riksa dan menghargainya. Meski terkadang tidak terpakai itu ide-ide atau segala pemikiran Riksa. Tapi Samuel selalu bertanya tentang pendapatnya sebelum mengambil keputusan penting menyangkut perusahaan.


Samuel masih menatap tajam ke arah Riksa, seakan dia tidak terima di kerjai oleh Riksa tadi


"Ck... cari sara lain lah kalau aku tak kunjung bangun, kenapa malah membawa-bawa Naira. Aku akan mandi dan ganti pakaian, kita bertemu setengah jam lagi di ruang rapat. Pastikan Dina juga sudah datang!" seru Samuel lalu masuk ke dalam ruang pribadi nya. Karena di dalam ruangan itu selain ada bed dan juga sofa di dalam nya juga terdapat kamar mandi pribadi.


Menurut nya membawa laporan itu bersamanya akan lebih aman, karena jika di letakkan di ruang Samuel, tidak akan bisa di pantau dan tidak bisa memastikan kalau laporan yang tersimpan di dalam laptop Riksa itu akan aman karena di pemilik ruangan sedang mandi dan tidak mengunci ruang kerjanya.


Sementara di ruang kerja Riksa, dia bisa menguncinya sebelah masuk ke kamar mandi juga untuk membersihkan dirinya.


Beberapa lama kemudian, Riksa sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan setelan pakaian kerja yang berbeda saat dia masuk ke dalam kamar mandi tadi. Dia segera merapikan dasinya lalu memakai jas yang tadi dia gunakan. Setelah itu dia kembali menghubungi Dina untuk memastikan kalau Dina memang sudah datang dan segera membuat janji dengan nya untuk segera bertemu di ruang meeting.


Setelah Dina setuju dan mengatakan kalau dia memang sudah ada di ruang meeting. Riksa keluar dari dalam ruangan dengan menjinjing satu buah laptop di tangan kanannya.

__ADS_1


Sebelum sampai di ruang meeting, Riksa lebih dulu memanggil Samuel. Karena takut bos nya itu belum siap padahal meeting tinggal lima belas menit lagi.


"Bos!" panggil Riksa yang saat dia menyapa Samuel itu Riksa sambil membuka pintu ruang kerja Samuel.


Dan saat Riksa membukanya, Samuel bahkan sudah sangat rapi dan sedang berjalan menuju pintu.


"Mari kita berikan kejutan pada Teddy bear itu!" seru Samuel dengan penuh percaya diri.


Riksa tidak menjawab, dia hanya mengangguk paham sekaligus setuju dengan apapun yang di katakan oleh Samuel.


Mereka berdua lalu segera melangkah ke ruang meeting. Samuel dan Riksa ternyata sudah datang terlambat, karena saat mereka datang Dina dan juga tuan Rizaldi beserta orang-orang nya sudah ada di dalam ruang meeting.


Sedikit terkejut namun Samuel tidak menampakan hal itu di wajahnya.


"Selamat pagi tuan Rizaldi, anda memang selalu datang tepat waktu!" sapa Samuel sambil mengulurkan tangannya pada tuan Rizaldi yang langsung berdiri meski tadinya dia sudah duduk di kursi uang disiapkan untuknya.


"Being on time is the way to success, kamu adalah salah satu CEO termuda di kota ini, dan aku tidak ingin menampilkan kesan buruk di depan mu dengan datang terlambat!" ujar tuan Rizaldi sambil tersenyum.


"Ayah ku sudah menampakan kesan baik, jangan sampai tuan Samuel Virendra yang terhormat menampilkan kesan yang berbanding terbalik!" celetuk Teddy yang juga ikut berdiri di samping ayahnya.


'Heh, lihat saja kesan apa yang akan ku tunjukkan pada ayah mu, dasar pembuat onar!' batin Samuel menatap tidak suka pada Teddy.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2