Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
200


__ADS_3

Samuel dan Riksa masih berdiskusi di teras depan setelah meminta operator alat berat kembali ke tempatnya. Sedangkan ayah juga sudah masuk ke dalam rumah karena hari sudah petang, dan dia harus mandi dan sholat Maghrib dulu.


"Riksa, katakan bagaimana perkembangan penyelidikan mu pada kasus kecelakaan Naira waktu itu. Aku rasa ini sudah sangat lama, atau aku harus menyewa detektif dan memecat mu saja?" tanya Samuel pada Riksa.


Riksa malah mendengus pelan.


"Bos, sebenarnya memang seharusnya kamu menyewa detektif. Orang yang mau kamu pecat ini, kemarin sudah kerja lembur selama dua hari menyelesaikan masalah perusahaan, tadi siang baru aku mau mandi dan istirahat kamu sudah telepon dan memintaku menyewa alat berat di tengah kesibukan gubernur membangun pasar modern dan jalan raya, silahkan pecat saja aku!" ucap Riksa yang sudah mulai berani mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya pada Samuel yang selalu menggertak dirinya dengan kata pecat atau potong gaji.


"Itu sudah tugas mu, harusnya kamu tahu mana tugas yang jadi prioritas dan mana yang bisa kamu kerjakan sambil mengerjakan pekerjaan lain, kamu sudah berapa tahun ikut dengan ku, apa tidak ada satu hal pun yang kamu pelajari?" tanya Samuel yang tak mau kalah pada apa yang di katakan oleh Riksa.


Sebenarnya Samuel itu merasa apa yang di katakan oleh Riksa ini benar, tapi sebagai seorang atasan, dia merasa harga dirinya tergores kalau sampai apa yang di katakan oleh Riksa lebih benar dari pada yang dia katakan.


Dan Riksa, dia tahu sebagai anak buah dia hanya bisa menuruti apapun yang di katakan dan di perintahkan oleh atasannya itu, meskipun bos nya itu juga adalah sahabatnya.


"Menurut laporan yang sudah aku terima, mobil yang sama dengan yang hampir saja menabrak Naira waktu itu sudah keluar dari kota ini melewati jalan tol menuju ke arah timur kota ini. Aku juga sudah mengerahkan semua anak buah ku ke sana...!"


Tapi belum selesai dengan apa yang Riksa akan katakan, ayah yang baru saja keluar rumah setelah sholat Maghrib pun terkejut mendengar tentang kecelakaan Naira.


"Astagfirullah.... Naira pernah kecelakaan?" tanya ayah begitu panik setelah mendengar apa yang dikatakan Riksa tadi kalau Naira pernah hampir di tabrak mobil.


Samuel dan Riksa langsung menoleh dan berdiri secara spontan dan bersamaan.


"Ayah!" ucap Samuel yang langsung bergegas mendekati Rama dan berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ayah, jangan cemas. Naira tidak terluka saat itu, dan aku saat ini sedang berusaha mencari tahu siapa pelakunya!" jawab Samuel yang berusaha menjelaskan bahkan sebelum Rama bertanya lagi padanya.


"Tapi kenapa nak Samuel tidak pernah cerita tentang hal itu?" tanya ayah yang merasa kecewa karena hal sepenting itu Samuel tidak bercerita padanya.


"Maaf ayah, tapi saat itu kami hanya tidak ingin ayah dan ibu ikut cemas. Karena saat itu kondisi Naira juga baik-baik saja, seorang rekan bisnis ku berhasil menyelamatkan Naira di waktu yang tepat!" terang Samuel lagi.


Ayah Rama terlihat menghela nafas lega, meski raut kecewa juga masih terlihat jelas di wajahnya.


"Ya sudah, sudah malam. Sebaiknya kita masuk saja ya ayah? Riksa kamu pulang saja, besok aku libur dan tidak ke kantor. Kamu urus urusan kantor!" seru Samuel pada Riksa.


Riksa hanya mengangguk. Dan Samuel segera mengajak ayah Rama masuk ke dalam rumah. Setelah makan malam bersama dan mengobrol sebentar. Ayah dan ibu masuk ke dalam kamar terlebih dahulu untuk beristirahat. Samuel masih berusaha membujuk Naira agar mendengarkan penjelasan nya tapi, Naira memilih membesarkan volume televisi daripada mendengarkan penjelasan dari Samuel.


Samuel yang sudah mulai bingung pun, memutuskan untuk diam dulu dan ikut menonton acara televisi yang Naira tonton. Dan kebetulan sekali Naira sedang menonton sebuah sinetron yang jalan ceritanya mirip-mirip dengan apa yang terjadi antara Samuel dan Naira.


Samuel uang takut kalau sampai istri nya itu kembali emosi mulai salah tingkah. Naira yang menyadari hal itu sengaja merubah posisi duduknya menjadi sangat serius menyimak sinetron itu.


Tapi Samuel yang merasa kalau istrinya sedang menyindirnya hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah.


Apalagi setelah tiba-tiba Naira mematikan televisi dari tombol off remote control dan membanting remote control itu di atas sofa.


Samuel merasakan hawa dingin yang luar biasa dari belakang punggung nya. Memang benar kata orang sekuat apapun seorang pria, dia kan tetap jadi lemah di depan seorang wanita yang sangat dia cintai dan sangat berarti di hidupnya.


Samuel sudah bersiap mendengar omelan Naira, tapi dia semakin dibuat terkejut karena Naira langsung berdiri tanpa menoleh padanya dan langsung meninggalkan nya lalu masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Setelah sang istri menutup pintu, Samuel mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar dibuat tak berdaya. Dia ingin menjelaskan situasi sebenarnya, tapi saat dia akan melakukan itu bukan hanya Naira bahkan ibu mertuanya pun terlihat tidak senang dan selalu menyindirnya, dia sebenarnya juga merasa bersalah. Kalau saja ponselnya tidak habis baterai saat itu, dia juga pasti akan meminta persetujuan dari Naira terlebih dahulu.


Tapi sayangnya saat itu ponselnya mati, dan dia tidak bisa menghubungi Naira. Jadi dia juga berpikir kalau suatu hal yang wajar kalau istrinya marah seperti itu. Samuel menghela nafas panjang.


'Astaga Nai, aku harus bagaimana agar kamu mau mendengarkan penjelasan ku. Istriku sayang!' batin Samuel yang masih memikirkan cara untuk menjelaskan duduk persoalannya sampai dia menerima Caren bekerja di perusahaan nya.


Setelah kurang lebih setengah jam Samuel masih duduk diam di ruang televisi, ruang keluarga. Samuel lalu beranjak berdiri dan berniat masuk ke dalam kamar untuk istirahat karena hari semakin larut.


Tapi begitu dia membuka pintu, dia di buat terkejut dengan penampilan sang istri yang sedang berdiri di depan meja rias dan sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Aroma shampo yang begitu wangi semerbak dapat dengan cepat tercium oleh Indra penciuman Samuel.


"Sayang, kamu mandi lagi?" tanya Samuel.


Naira yang mendengar suaminya bertanya menoleh sekilas.


"Iya mas, panas aku lihat sinetron tadi!" jawab Naira membuat eksperimen tersenyum di wajah Samuel berubah jadi tegang lagi.


Samuel berjalan perlahan dan makin mendekati istrinya yang ternyata memakai pakaian yang begitu minim.


"Sayang, apa kamu tidak kedinginan pakai pakaian terbuka seperti itu?" tanya Samuel yang sejak tadi jakunnya sudah naik turun tak karuan hanya dengan melihat penampilan Naira saja.


"Tidak, kan tidurnya pakai selimut nanti!" jawab Naira beralasan.


'Rasakan mas, setelah kamu panas dingin nanti, aku akan keluar dan tidur bersama ibu di kamar Ibras!' batin Naira yang melirik sekilas ke arah suaminya yang telinganya bahkan sudah terlihat memerah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2