Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
220


__ADS_3

Sementara itu Riksa memang sedang dalam mode tidak ingin di ganggu oleh siapapun untuk saat ini. Sekarang pria berwajah oriental yang tampan ya tak kalah dari Samuel itu sedang berada di sebuah ruang tunggu, dengan sofa putih dan sekeliling ruang terdapat beberapa cermin besar ornamen klasik menghiasi dinding dan atap ruangan.


Dia sedang menunggu seseorang yang nanti malam ingin dia beri kejutan di hari pertambahan usianya yang ke 27 tahun. Saat dia sedang menunggu seorang wanita dengan seragam kerja dan kain songket sebagai bawahannya lalu dengan rambut di sanggul sederhana sangat rapi memasuki ruangan itu dengan sebuah nampan dengan sebuah cangkir di atas nampan itu.


"Silahkan di minum tuan Riksa, bos sedang ada customer. Mungkin sebentar lagi akan datang kemari!" kata wanita cantik itu sambil tersenyum ramah.


Riksa hanya mengangguk paham. Dan perempuan cantik itu pun segera meninggalkan Riksa dan juga ruangan tunggu VIP itu. Satu menit, dua menit, sepuluh menit. Riksa semakin gelisah dia berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arah sebuah rak buku yang berisi banyak sekali majalah fashion dan buku-buku bacaan ringan seperti buku motivasi dan juga biografi.


Riksa mengambil sebuah buku karangan motivator terkenal dan membukanya, tapi dia merasa malah semakin gelisah dan gugup. Hingga beberapa saat kemudian, seorang wanita cantik dengan dress panjang, dan lengan panjang berwarna biru masuk ke dalam ruangan itu.


Bukk


Buku yang di pegang Riksa terjatuh saat Riksa menoleh ke arah wanita tersebut.


"Puspa!" ucap Riksa.


Puspa hanya terus berjalan mendekati Riksa tanpa menjawab panggilan Riksa. Dia berdiri di depan Riksa lalu menunduk, mengambil buku yang jatuh itu.


"Kenapa? belum makan siang ya?" tanya Puspa pada Riksa.


Riksa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Belum, aku sangat sibuk hati ini. Jadi bisakah kita makan siang bersama disini?" tanya Riksa.


Puspa sedikit mengernyit heran.


"Disini?" tanya Puspa.


Lalu Puspa melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat dengan tatapan heran pada Riksa.

__ADS_1


"Apa bos mu yang galak itu memotong gaji mu lagi?" tanya Puspa mencoba menebak apa alasan Riksa ingin makan siang di butik nya.


Puspa cukup paham dengan kedua sahabatnya itu, Samuel terkadang memang suka keterlaluan. Dia juga tahu kalau Riksa itu sebenarnya bukan hanya mencari uang untuk dirinya sendiri. Dia berasal dari jalanan, dia di tinggalkan ayah dan ibunya tapi dia tidak mau tinggal di panti asuhan. Sebelum Stella menolongnya saat di pukuli warga karena mencuri satu bungkus roti dari sebuah toko, Riksa benar-benar hanya luntang lantung di jalan. Karena itu saat Riksa sudah mulai sedikit punya, maksudnya adalah memiliki penghasilan dan uang yang cukup. Dia bahkan menjadi donatur tetap di dua buah panti asuhan sekaligus.


Karena hal itu juga yang membuat Puspa kagum dan lambat laun menyukai Riksa. Dan jika gajinya terus di potong terkadang Riksa memang suka makan siang atau makan malam di butik Puspa atau di rumah Stella.


Puspa lalu meminta anak buahnya menyiapkan makan siang. Kemudian Puspa dan Riksa pun makan siang bersama. Meski sebenarnya ini sudah lewat dari jam makan siang.


"Kamu pulang dari butik jam berapa nanti malam?" tanya Riksa di tengah acara makan bersama mereka.


"Tidak tahu, nanti malam masih banyak sekali klien yang sudah membuat janji. Dan mereka itu dari Rumah produksi sinetron malam yang sedang booming itu, aku rasa akan sangat lama. Ada apa?" tanya balik Puspa setelah menjawab pertanyaan dari Riksa.


"Bisa tidak, kalau aku mengajak mu makan malam..."


"Kamu kan bisa datang kemari!" ucap Puspa menyela apa yang ingin di katakan oleh Riksa.


Puspa mengira Riksa mau numpang makan lagi, jadi Puspa bilang dia bisa kok datang ke butik ini.


"Sudahlah jangan buang-buang uang mu, Samuel memotong gajinya lagi kan, sementara satu bulan kamu harus memberi 10 juta ke masing-masing panti asuhan itu, lebih baik kamu datang kemari saja. Aku dan karyawan ku memasak sendiri makanan disini, di jamin sehat dan yang tidak menguras kantong!" ucap Puspa sambil terkekeh.


"Puspa aku serius!" seru Riksa membuat Puspa menghentikan kekehannya.


"Oh, okey. Baiklah aku minta maaf. Baiklah aku akan berusaha untuk bekerja cepat nanti malam. Tapi paling cepat mungkin aku akan selesai jam sepuluh malam, apa perut mu masih bisa bertahan?" tanya Puspa yang lagi-lagi memasang wajah mengejek Riksa.


Riksa hanya tersenyum tipis.


"Baiklah aku akan menjemput mu jam sepuluh malam, setelah itu akan mengantar mu pulang untuk mandi dan berganti pakaian...!"


Puspa langsung menghentikan kegiatan makan nya dan meletakkan sendok serta garpu nya di samping piringnya.

__ADS_1


"Hem, aku jadi curiga. Apa pria yang sudah menolak ku sembilan kali ini akan mengajak ku berkencan?" tanya Puspa dengan lirikan tajam ke arah Riksa.


Riksa mengendurkan sedikit dasinya mendapatkan lirikan tajam dan pertanyaan seperti itu dari Puspa.


"Tidak juga, aku hanya ingin kita berpenampilan rapi saja. Karena restoran itu termasuk restoran terbaik di kota ini!" jawab Riksa beralasan.


"Jadi begitu ya, baiklah. Aku tidak akan mengecewakan mu. Kamu tahu kan, aku designer ternama, aku biasa membuat semua orang berpenampilan luar biasa, tidak mungkin jika penampilan ku nanti malam biasa saja!" ucap Puspa dengan yakin.


Riksa tersenyum tipis mendengar apa yang di katakan oleh Puspa. Dia tahu wanita di hadapannya itu memang luar biasa. Makanya, terkadang Riksa merasa tidak pantas kalau Puspa malah menyukainya yang hanya anak jalanan yang tidak jelas asal usul keluarganya dan hanya karyawan yang bisa seenaknya di perintah dan di potong gajinya kalau melakukan kesalahan.


"Hei, jangan tersenyum begitu. Kalau aku jatuh cinta lagi padamu. Kamu tidak akan tahu akibat nya!" keluh Puspa melihat senyum Riksa.


Riksa sedikit mengernyitkan dahinya.


"Apa itu artinya, kamu sudah tidak suka lagi padaku?" tanya Riksa dengan wajah yang ekspresi nya sedikit aneh.


Puspa yang melihat ekspresi wajah Riksa pun terkekeh.


"Hei jangan seperti itu, kamu terlihat seperti orang yang sedang patah hati. Ck... aku tidak tahu Riksa. Kamu sudah menolak ku sembilan kali. Kalau aku tidak sering menonton film Xena dan wonder women mungkin aku akan patah hati dan terpuruk sedih. Lagipula kenapa kamu terus menolak ku? bisakah setidaknya kamu memberikan aku alasan lain selain kamu tidak sepadan dengan ku?" tanya Puspa dengan mata yang sudah berkaca-kaca melihat ke arah Riksa.


Dua insan itu saling pandang, Riksa hampir saja mengangkat tangannya menyentuh wajah Puspa.


"Bos, tuan Samuel menelpon. Dia marah-marah dan minta tuan Riksa mengaktifkan ponselnya!" seru salah seorang karyawati Puspa dengan nafas yang tersengal-sengal.


Puspa langsung melihat ke arah Riksa.


"Ck... kamu mematikan ponsel mu. Samuel akan memotong habis gaji mu!" ucap Puspa yang langsung membuat Riksa menghela nafasnya berat.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2