Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
71


__ADS_3

Aku terkesiap, dia tidak hanya membentak tapi juga berdiri tiba-tiba dan menepis tangan ku, lumayan sakit.


Setelah berdiri pun dia masih mengusap-usap bahunya, seperti sedang membuang debu dari bahunya. Persis di tempat aku memegangnya tadi.


"Hei, kenapa diam saja! bau apa itu di tangan mu?" tanya nya lagi dengan cara yang masih sama seperti tadi. Membentak ku.


Awalnya aku tidak mengerti maksud nya, makanya aku diam saja. Tapi setelah dia mengatakan tangan ku, aku langsung mencium tangan ku.


"Oh, ini bay bawang tuan!" jawab ku perlahan.


"Kenapa bisa bau bawang, apa yang kamu lakukan?" tanya nya lagi dengan raut kesal lebih dari yang sebelumnya.


"A..aku memotong bawang di dapur!" jawab ku gugup.


"Ck... apa bagian dapur kekurangan pelayan sampai kamu harus ke dapur. Panggil pak Ranu, aku harus bicara padanya!" serunya terlihat sangat marah pada bagian dapur.


Aku mendekat ke arahnya untuk menjelaskan tapi dia menjauh.


"Diam disitu, bicara saja dari situ! aku tidak suka bau bawang!" jelas nya dan aku langsung diam berdiri di tempatku.


"Maaf tuan, bukan begitu. Aku hanya bingung mau melakukan apa? jadi aku ingin memasak untuk mu!" jawab ku terus terang.


Aku sungguh tidak ingin bagian dapur sampai terkena masalah karena aku. Lebih baik dia marah dan memaki ku daripada dia memarahi pak Ranu, kalau itu sampai terjadi maka pak Ranu juga pasti akan marah pada Mela dan Yuni. Aku tidak mau itu terjadi, mereka sudah sangat ketakutan saat aku mendekati mereka dan berada di dapur tadi pagi.


"Memang kamu pikir aku akan suka masakan mu? untuk apa kamu memasak untukku?" tanya nya lagi dan kali ini aku memilih untuk diam dan menundukkan wajah ku.


"Kalau tidak punya pekerjaan lain maka bereskan saja ruangan ini, atau bereskan kamar. Jangan menyentuh bawang, aku tidak suka!" ucapnya lagi.


Aku langsung menganggukan kepala ku dengan cepat.


"Baik tuan!" jawab ku cepat.


"Cuci tangan mu sampai bau bawang itu hilang, baru datang kemari lagi!" perintah nya lagi.

__ADS_1


Aku segera mengangguk lagi dan keluar dari ruang kerjanya. Aku pergi ke toilet tamu dan mencuci tangan ku dengan sabun yang banyak beberapa kali. Tapi bau bawang ini sungguh tidak mau hilang.


"Masih saja berbau, bagaimana ya?" gumam ku setelah keluar dari kamar mandi.


"Coba ku tanyakan pada pak Ranu!" gumam ku sambil mencari pak Ranu.


Aku mencari pak Ranu ke arah dapur, kalau biasanya di rumah aku juga suka membantu ibu mengupas dan memotong bawang yang akan di gunakan untuk bawang goreng pada nasi uduk jualan ibuku. Tapi biasanya aku akan menunggu baunya hilang sendiri setelah beberapa waktu, setelah cuci tangan dengan sabun. Tapi kalau Samuel ingin baunya langsung hilang, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


Saat di dapur aku tidak mendapati pak Ranu disana, hanya ada Mela dan Yuni yang bersikap sangat berbeda seperti padi tadi. Mereka bicara sambil menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap ku. Seperti nya pak Ranu habis memarahi mereka.


Mereka juga bilang kalau mereka tidak tahu dimana pak Ranu, karena mereka berdua sejak tadi hanya di dapur. Benar juga, bagaimana mereka bisa tahu. Aku kemudian berjalan ke arah taman, dan kebetulan sekali aku melihat pak Ranu sedang berdiri di bawah pohon sambil menelpon seseorang.


Aku jadi penasaran, aku berjalan perlahan dan menghampiri nya tanpa mengeluarkan suara.


"Aku tidak bisa pulang, iya aku tahu ini adalah momen penting bagi Adinda, tapi aku sudah ambil cuti saat kamu sakit.... tidak bisa Bu!" ucap pak Ranu seperti sedang berselisih pendapat dengan seseorang karena wajahnya terlihat cemas.


"Pak Ranu..!" panggil ku karena aku sudah berada cukup dekat dengan nya.


"Nona Naira, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya sambil tersenyum.


aku cukup terkejut dengan perubahan ekspresi nya yang kurasa lumayan cepat.


"Em, begini pak. Apa bapak tahu bagaimana cara menghilangkan bau bawang pada tangan?" tanya ku sambil mengangkat kedua tangan ku dan menunjukkan nya pada pak Ranu.


"Oh, dengan Lemon nona. Di balur dengan air lemon, baru dicuci dengan air sabun!" jelasnya sambil tersenyum.


Aku juga mengembangkan senyum ku.


"Baiklah pak Ranu, terimakasih banyak ya!" ucap ku pada pak Ranu.


Aku berbalik badan, tapi baru beberapa langkah aku berjalan. Pak Ranu kembali memanggilku.


"Nona Naira!" panggilnya dan aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Iya, pak Ranu. Ada apa?" tanya ku sopan.


"Nona Naira, maaf nona tapi... apakah mendengar apa yang aku ucapkan di telepon tadi?" tanya nya sedikit ragu.


"Maaf pak Ranu, aku tidak sengaja mendengarnya. Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya ku menwarkan bantuan.


Pak Ranu terlihat ragu, namun dia berjalan melangkah maju dan menghampiri ku.


"Apakah aku boleh meminta bantuan mu nona Naira?" tanya pak Ranu sedikit ragu.


Aku tersenyum, aku tahu aku tidak akan bisa berbuat banyak di rumah ini. Tapi tidak ada salahnya kan kalau aku mendengarkan dahulu apa yang ingin pak Ranu sampaikan, siapa tahu aku bisa membantu beliau.


"Begini Nona, besok putri ku akan di wisuda. Istri dan anak ku ingin aku ada disana. Tapi aku sudah meminta cuti beberapa hari yang lalu karena istriku sakit. Nona, apakah saya bisa meminta bantuan nona. Saya ingin sekali hadir saat putri saya di wisuda...!" pak Ranu terlihat begitu sedih. Dia bahkan tak mampu meneruskan perkataannya.


"Saya tidak bisa meninggalkan tugas saya, maafkan nona. Seharusnya saya tidak mengatakan ini..!"


Aku tahu pak Ranu sangat ingin bisa hadir dalam momen penting anaknya, aku juga sama. Merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai jika orang yang sangat kita sayangi hadir dalam momen istimewa kita.


"Pak Ranu, aku akan minta ijin untuk mu pada Samuel!" ucapku pelan.


Aku juga tidak tahu, keberanian darimana aku bisa bicara seyakin ini. Tapi aku sungguh hanya ingin anak pak Ranu merasa ayahnya sangat perduli padanya, karena memang seperti itu kenyataan nya.


"Benarkah nona Naira? terimakasih nona, terimakasih banyak!" ucapnya sangat senang.


Aku hanya tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah, aku mencari lemon di dapur dan membalur tangan ku dengan air perasan lemon lalu membilasnya lagi dengan air sabun dan air bersih.


Dan ternyata benar, bau bawangnya langsung hilang.


"Baiklah, satu masalah sudah teratasi, sekarang satu lagi, bagaimana aku harus meminta ijin untuk pak Ranu?" tanya ku sambil bergumam di depan pintu ruang kerja Samuel.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2