
Riksa pun akhirnya hanya bisa mengikuti Puspa di belakang mobil sang kekasih. Awalnya Riksa ingin mengantarkan Puspa pulang, tapi Puspa bersikeras agar Riksa mengantarnya kembali ke butik untuk mengambil mobilnya karena dia tahu orang tuanya terutama sang ibu sangat teliti. Ibunya akan tahu kalau Puspa tidak pulang dengan mobilnya, dia pasti akan cemas dan menghujani Puspa dengan belasan pertanyaan. Tentu saja Puspa akan lebih lelah menjawab pertanyaan dari Mega, ketimbang mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
Setelah tiba di depan gerbang rumah Puspa, Puspa menepikan mobilnya tapi tidak menyalakan klakson agar para penjaga membuka pintu gerbang. Puspa menunggu Riksa melewatinya, dia membuka jendela mobil dan melambaikan tangan nya serta memberikan kiss jauh untuk Riksa yang juga di balas pria tampan itu.
Setelah Riksa berlalu, baru Puspa membunyikan klakson mobil hingga para penjaga yang kemungkinan tertidur karena memang sudah pukul 02.30 WIB dini hari membuka pintu sambil mengusap wajah mereka sesekali.
Dua orang penjaga gerbang itu langsung membungkuk sopan dan mempersilahkan Puspa untuk masuk ke dalam.
Puspa memarkirkan mobilnya di garasi yang terbuka secara otomatis saat mobil Puspa melewati lite kuning di depan garasi yang jaraknya sekitar tiga meter dari pintu garasi.
Setelah mematikan mesin mobil, Puspa keluar dengan membawa tasnya. Dia tidak berganti pakaian, masih mengenakan dress merahnya dan dia juga terlihat sangat lelah.
Ketika dia membuka pintu dari arah garasi ke dalam rumah, tiba-tiba...
"Kejutan!" teriak Mega ibu dari Puspa, Putra ayah dari Puspa , Anyelir adik kandung Puspa dan Rose sang keponakan tercinta juga ada Pria tampan blasteran Indonesia Jerman di dekat Anyelir.
Pria itu adalah Jonathan, anak dari sahabat putra dan salah satu pengusaha muda ternama di Jerman.
Puspa tersenyum bahagia, dan mendekati satu persatu dari mereka semua, memeluk mereka yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Selamat ulang tahun sayang, mama masih jadi orang pertama yang mengucapkannya bukan. Karena ponsel mu tadi tidak aktif?" tanya Mega yang sangat berharap kalau dirinyalah orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun pada Puspa.
'Aduh, apa yang harus aku katakan. Ibu pasti sedih kalau tahu Riksa lebih dulu mengucapkan selamat ulang tahun padaku!' batin Puspa yang merasa bingung.
Masalahnya selama ini dia juga tidak pernah berbohong pada sang ibu. Jadi dia merasa sangat dilema saat ini, kalau dia jujur ibunya akan sedih. Tapi kalau dia tidak jujur bukankah sama saja akan menyakiti hati ibunya.
Tapi karena Putra juga sudah tidak sabar memberikan ucapan selamat pada sang putri. Putra langsung mendekati Puspa dan memeluknya.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu selalu bahagia. Selalu menjadi putri kebanggaan kami!" ucap sang ayah yang langsung membuat Mega tersenyum mendengarnya.
Setelah Putra, Anyelir yang memegang kue ulang tahun juga mendekati Puspa.
"Kakak selamat ulang tahun, cepat peluk aku juga!" serunya sambil merentangkan satu tangannya karena yang satu lagi masih memegang kue ulang tahun untuk Puspa.
"Selamat ulang tahun kakak, aku menyayangi mu!" ucap Anyelir setelah Puspa memeluknya.
"Ayo tiup lilinnya, sebelum padam semua!" seru Mega.
__ADS_1
Puspa pun meniup lilin yang menyala di atas kue ulang tahun yang disiapkan oleh keluarga nya untuknya. Setelah itu dia menyuapi Ayah, ibu dan adiknya, lalu dia meraih sepotong kue dan menunduk menyuapi keponakan tersayangnya.
"Selamat ulang tahun aunty, semoga aunty cepat menikah!" kata Rose kecil.
Puspa mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan keponakannya yang masih berusia lima tahun itu.
"Terimakasih sayang!" ucap Puspa lalu mencium pipi Rose.
Puspa berdiri tegak dan menyipitkan matanya ke arah Anyelir.
"Hei, kenapa mengajari anak mu kata-kata seperti itu?" tanya Puspa pada Anyelir.
Anyelir langsung melambaikan tangan di depan dadanya berkali-kali.
"Bukan aku kak, sungguh bukan aku!" ucap Anyelir panik.
Meskipun telah menjadi ibu, Anyelir tetap saja adik dari Puspa, dia juga tetap takut dan segan juga sangat menghormati Puspa. Dan pada akhirnya Puspa mengerti siapa dalang di balik ucapan Rose barusan. Puspa menyipitkan matanya pada sang ibu.
"Hei ingat usiamu Puspa, kamu pikir kamu masih 19 tahun, Jo... jelaskan padanya!" ucap Mega.
Jonathan mendekati Puspa dengan membawa satu kotak kecil hadiah yang terbungkus kertas marmer berwarna merah dengan pita berwarna gold.
"Selamat ulang tahun, ini hadiah untuk mu!" ucap Jonathan dengan senyuman tulusnya.
Puspa menerima hadiah dari Jonathan, karena setiap tahun pun Jonathan pasti akan mengirimkan hadiah meski tak bisa datang.
"Terimakasih banyak Jo. Kamu baik sekali!" ucap Puspa sopan.
Tentu saja Puspa mengatakan itu karena Jonathan memang sangat baik. Dia mau repot-repot datang dari Jerman hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah untuk Puspa.
"Kamu pasti sangat lelah, apa pekerjaan begitu banyak di butik?" tanya Jonathan.
Puspa mengangguk.
"Iya, butik ku jadi satu-satunya penyedia kostum semua pemain di sinetron yang tengah naik daun itu. Kamu tahu kan permintaan para artis dan model disana benar-benar... ck!" ungkap Puspa yang memang benar-benar merasa lelah sekali hari ini.
Jonatan mengangkat tangan nya dan mengelus kepala Puspa perlahan.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat istirahat. Besok aku akan mengajak mu jalan-jalan. Mau kan?" tanya Jonathan dengan senyuman penuh harap.
Puspa hanya mengangguk, lagipula dia memang cuti besok dan juga Riksa tadi tidak mengatakan apapun padanya.
"Baiklah, selamat malam. Mimpi indah ya!" seru Jonathan lagi lalu meninggalkan Puspa yang segera masuk ke dalam kamarnya.
Puspa meletakkan tas dan kado pemberian Jonathan di atas meja, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan setelah itu dia pun tidur.
Keesokan harinya...
Samuel yang masih sangat mengantuk tiba-tiba di bangunkan oleh sang istri.
"Mas bangun... mas...!" panggil Naira sambil menggoyangkan lengan suaminya.
"Sayang, sebentar lagi ya!" sahut Samuel yang matanya masih terpejam.
"Mas bangun tidak, kalau mas tidak bangun aku marah ya!" seru Naira dengan suara lantang.
Samuel langsung bangkit duduk, meski matanya masih sangat sulit di buka lebar. Tapi dia tidak ingin kalau sang istri sampai marah padanya.
"Sayang ada apa?" tanya Samuel sambil berusaha menyeimbangkan posisi duduknya.
"Mas aku mau nasi gado-gado!" ucap Naira.
"Tolong ambilkan ponsel ku, aku akan meminta Riksa atau pak Urip mencarinya!" ucap Samuel sambil mengulurkan tangannya pada Naira.
"Aku tidak mau gado-gado yang di buat oleh orang lain!" kesal Naira.
Samuel yang sudah mulai membuka lebar matanya langsung menatap istrinya yang menurutnya semakin berisi dan semakin menarik hari demi hari.
"Lalu?" tanya Samuel bingung.
"Mas ke pasar beli bahannya, lalu mas buatkan untuk ku!" seru Naira membuat rahang Samuel nyaris terjatuh sangking kaget mendengar permintaan sang istri.
***
Bersambung...
__ADS_1