Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
86


__ADS_3

Mobil yang kami tumpangi sudah tiba di depan rumah Samuel, Pak Urip lah yang menjemput kami dari bandara tadi. Dan begitu mobil sudah berhenti di depan teras rumah. Aku melihat pak Ranu berjalan dengan cepat menghampiri kami dan langsung membukakan pintu mobil untuk ku.


"Selamat datang kembali nyonya!" sapa pak Ranu dengan raut wajah yang terlihat sangat senang karena aku pulang.


Aku juga langsung tersenyum senang, rasanya seperti melihat ayah ku sendiri.


"Terimakasih pak Ranu, anda juga sudah kembali?" tanya ku pada pak Ranu.


Kalau pak Ranu sudah kembali artinya dia benar-benar langsung berangkat lagi kemari untuk bekerja setelah acara wisuda anaknya selesai. Benar-benar seorang yang bertanggung jawab.


"Sudah nyonya! anak dan istri saya juga menitipkan salam dan ucapan terima kasih pada nyonya, karena telah membantu saya meminta cuti kerja!" ucap pak Ranu masih dengan ekspresi senang.


Aku mengangguk beberapa kali.


"Iya pak Ranu, sama-sama!" ucap ku lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Samuel sudah lebih dulu masuk ke dalam, entah apa yang akan dia lakukan. Tapi kurasa dia hanya ingin sendiri. Sebaiknya aku tidak mengganggunya.


Tapi setelah masuk ke dalam aku baru menyadari kalau sejak tadi itu, pak Ranu memanggilku dengan sebutan nyonya bukan nona seperti sebelumnya.


Aku jadi berfikir, apa yang membuat pak Ranu mengganti nama panggilan ku, mungkinkah karena itu perintah dari Tante Stella, eh ibu Stella.


Aku mengangkat bahu ku sekilas. Apapun itu, hal itu juga tidak buruk. Aku juga segera menuju ke kamar ku. Saat berada di depan kamar aku cukup ragu, apakah aku harus masuk atau tidak. Karena aku takut Samuel ada di dalam dan dia benar-benar tidak ingin di ganggu.


Tapi setelah beberapa saat aku hanya diam di luar, bibi Merry menghampiri ku.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi Merry dengan tatapan yang begitu serius.


Aku langsung menoleh ke arah bibi Merry dan tersenyum lalu menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak bibi Merry, terimakasih!" sahut ku sopan.


"Tapi sejak tadi saya perhatikan nyonya dari sana, hampir lima menit. Dan nyonya hanya berdiri disini! apa ada yang nyonya pikirkan?" tanya nya dan saat ini aku bisa melihat raut cas di wajahnya.


'Hah, dia memperhatikan aku sejak tadi. Sekarang aku harus jawab apa pada bibi Merry?' tanya ku dalam hati.

__ADS_1


Aku bingung harus bilang apa pada bibi Merry, tidak mungkin kan kalau aku bilang, sebenarnya aku mau masuk ke dalam kamar tapi aku takut kalau Samuel ada di dalam. Aku rasa aku harus mengatakan sesuatu yang lebih masuk akal pada bibi Merry.


"Em, begini bibi Merry. Kemarin semua orang di rumah ini masih memanggilku dengan panggilan nona, tapi hari ini semuanya memanggilku nyonya, apa ibu Stella yang meminta semuanya bilang begitu?" tanya ku pada bibi Merry.


Aku rasa pertanyaan itu cukup masuk akal, dan alasan itu cukup kan untuk membuat bibi Merry mengira kalau sejak tadi aku memang sedang memikirkan tentang hal itu, jadi itulah yang menjadi alasan ku kenapa dari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar ku.


Dan reaksi bibi Merry malah membuatku sangat terkejut, dia tersenyum tapi dia menutupi senyumnya itu dengan tangannya.


"Benar nyonya muda, nyonya Stella memang meminta kami merubah panggilan kami pada anda kalau sudah melihat tanda itu di leher nyonya muda!" ucapnya sambil menunjuk ke arah leher ku.


"Apa? tanda apa?" tanya ku tak mengerti dan terkejut.


"Itu nyonya, tanda yang di berikan tuan Samuel...!"


Blush


Aku yakin kalau pipi ku saat ini memerah seperti kepiting rebus.


Belum juga bibi Merry selesai dengan apa yang akan dia katakan, aku buru-buru membuka pintu dan masuk ke dalam kamar ku. Dengan langkah yang cepat aku berjalan ke arah cermin, dan melihat kebagian leher yang tadi di tunjuk oleh bibi Merry.


Kenapa aku tidak menyadarinya, kissmark hasil karya Samuel terlihat sampai merah kebiruan dan begitu lebar.


"Ck... kenapa aku tidak menyadari ini saat bercermin di kamar mandi hotel!" gumam ku mengeluh.


Aku jadi merasa sangat malu pada semua orang yang aku temui setelah keluar dari dalam hotel dan sampai di rumah ini. Mungkin karena aku hanya fokus pada air mata dan wajahku jadinya aku tidak memperhatikan hal ini.


Aku menutup wajah ku dengan kedua tanganku.


"Ck... malu sekali rasanya mau keluar!" gumam ku lagi.


Aku duduk di kursi yang ada di depan meja rias, aku berusaha menutupi tanda itu dengan foundation dan make up. Tapi sepertinya tidak bisa ditutupi.


"Yah tidak bisa di tutupi. Aha, aku tahu pakai plester saja!" ucap ku setelah dapat ide itu.


Aku mencari kotak P3K yang kemarin kulihat ada di salah satu rak laci meja di kamar ini. Tapi setelah beberapa saat mencari aku sama sekali tidak bisa menemukan nya. Dan setelah melakukan itu semua, aku baru sadar kalau Samuel tidak ada di dalam kamar ini.

__ADS_1


Aku duduk di tepi kasur dan kembali berfikir.


"Sejak tadi dia memang bersikap begitu dingin, aku rasa dia memang mau menghindari ku, itu juga bagus. Lebih bagus kalau dia tidur di kamar lain. Dan ranjang empuk ini sepenuhnya milikku!" gumam ku sambil menggosok selimut dan ranjang yang sedang ku duduki dengan lembut.


Aku mulai membaringkan tubuh ku di kasur empuk ini. Dan mulai memejamkan mataku, tapi baru juga satu detik memejamkan mata.


Tok tok tok


"Nyonya, anda di panggil tuan Samuel ke ruang kerjanya!" seru salah seorang pelayan wanita.


Aku langsung bangun dari posisi berbaring.


"Iya, sebentar!" jawab ku sedikit keras agar pelayan wanita itu bisa mendengar nya.


Aku menghela nafas berat, baru juga merasa senang dan lega karena Samuel menghindari ku. Kenapa juga dia malah memanggilku ke ruang kerjanya.


Aku melangkah dengan malas untuk membuka pintu kamar, dan ternyata pelayan wanita itu masih berdiri di depan pintu.


"Kamu masih disini?" tanya ku padanya. Aku berfikir mungkin saja dia masih ada keperluan dengan ku.


"Ada apa lagi?" tanya ku pelan.


Tapi pelayan wanita bernama Cici itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak nyonya, tapi tuan Samuel yang memerintah kan kepada saya, kalau nyonya belum keluar dari dalam kamar, maka saya belum boleh pergi, dan satu menit kemudian harus kembali mengetuk pintu dan memanggil anda lagi nyonya!" jelasnya panjang lebar.


Dan aku, langsung membelalakkan mataku.


'Apa dia titisan Hitler, yang benar saja. Bahkan pelayan di berikan perintah seperti itu!' gerutu ku dalam hati.


"Aku akan segera ke sana, terimakasih ya!" ucap ku ramah pada pelayan wanita itu.


Aku terbiasa bekerja di toko buku, dan terbiasa bersikap ramah. Aku rasa kebiasaan itu terbawa sampai disini juga. Tapi aku rasa itu bukan hal buruk.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2