
Aku membuka mataku perlahan, aku merasakan kalau sesuatu yang berat sedang menimpa perut ku. Membuat ku sedikit sesak. Saat aku melihat ke arah perutku, tangan Samuel berada di sana. Memeluk perutku dengan erat.
Aku mendengus kesal, ini kedua kalinya Samuel seperti ini. Terkadang aku jadi bingung sendiri, sebenarnya kenapa dia melakukan semua ini. Bukankah dia bilang tidak tertarik sama sekali padaku, kalau benar seperti itu seharusnya dia tidak menyentuh ku, bukan.
Anggap saja kalau malam itu dia sedang mabuk, dan semua itu tidak sepenuhnya dia lakukan dengan sadar. Tapi kenapa dia mengulangi nya, kali ini dia tidak mabuk kan.
Aku menurunkan tangannya dari perut ku perlahan aku turun dari tempat tidur, dengan membungkus tubuhku dengan selimut yang tipis, sementara selimut yang tebal di pakai oleh Samuel. Aku melangkah ke kamar mandi, kali ini tidak terlalu parah dari uang waktu itu.
Aku bisa berjalan dengan normal, dan rasanya tidak perih lagi. Entah jam berapa ini, tapi aku merasa kalau aku harus mandi.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi, semalam aku tidak makan. Dan rasanya perutku lapar sekali. Setelah mengeringkan rambut ku dengan handuk aku menyisir rambut ku. Aku melihat ke arah cermin, lagi-lagi banyak sekali tanda merah yang di tinggalkan Samuel.
Aku berbalik dan menoleh ke arah Samuel.
"Ck... memangnya tidak bisa ya kalau tidak seperti ini!" gumam ku kesal.
Aku mengurai rambutku agar menutupi tanda merah di leher ku, setelah itu aku keluar dari dalam kamar.
Saat aku keluar dari kamar, aku lihat lampu ruang tengah dan ruang tamu masih menyala, tidak seperti biasanya. Aku jadi penasaran, aku pun berjalan ke arah ruang tamu. Ternyata Riksa dan pak Urip masih duduk di sofa ruang tamu, bahkan pak Urip sudah tertidur sambil duduk.
"Riksa!" panggil ku pelan.
Aku menoleh ke arah dinding dan ini sudah jam setengah dua belas malam.
Riksa yang masih terjaga segera berdiri, dia memandang ku dengan serius. Dia memperhatikan rambut ku yang basah.
"Kamu mandi malam-malam begini Nai?" tanya Riksa.
Aku jadi begitu canggung.
"Iya tadi aku belum mandi!" jawab ku gugup.
"Kalian masih disini?" tanya ku melirik sekilas ke arah pak Urip.
"Bos belum menyuruh kami pulang!" jawab Riksa.
Aku menghela nafas berat, haruskah mereka seperti itu? mereka sungguh loyal sekali pada Samuel.
"Dia sudah tidur, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, pak Urip juga!" ucap ku sambil tersenyum.
Riksa masih menatap ku.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Riksa pada ku.
__ADS_1
Dia memang seperti itu, orang yang sangat perduli. Aku senang dia menjadi teman ku.
"Aku lapar!" ucap ku pelan.
Tapi sedetik kemudian aku berpikir lagi, pasti Riksa juga belum makan kan.
"Kamu juga belum makan kan? bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya ku pada Riksa.
Riksa terdiam sebentar, tapi kemudian dia mengangguk setuju. Sebelum kami menuju ruang makan, Riksa membangunkan pak Urip dan memintanya untuk pulang dan beristirahat.
Kami berdua menuju ruang makan, semua pelayan sudah istirahat. Aku pikir akan membuatkan nasi goreng saja untuk kami.
"Duduk dulu Riksa, aku akan buatkan nasi goreng!" ucap ku lalu segera menyiapkan bahan-bahan yang aku perlukan.
Tapi ketika aku menyiapkan bumbu, Riksa malah ikut meraih beberapa bawang dan mengupasnya.
"Aku akan membantu mu!" ujarnya.
Kami pun memasak bersama, aku yang menumis bumbu, dan Riksa yang memasukkan semua bahan-bahan nya kedalam wajan berukuran sedang, sesekali dia berlagak seperti seorang chef profesional, dia memasukkan bahan sambil bergaya seperti salah seorang chef yang terkenal itu yang wajahnya ada di bungkus keju.
Setelah selesai, kami berdua duduk di meja makan dengan dua piring nasi goreng dan dua gelas besar teh manis hangat buatan Riksa.
"Selamat makan!" seru ku dan langsung menyantap nasi goreng yang kami buat.
Rasanya lumayan, ini bahkan lebih enak saru biasanya.
Dengan mulut yang masih penuh aku mengangguk kan kepala ku beberapa kali.
"Apa yang sudah terjadi di Singapura?" tanya Riksa pelan.
Aku langsung meletakkan sendok yang tadinya aku pegang ke atas piring ku. Aku menelan makanan yang masih ada di dalam mulut dan meminum teh manis hangat beberapa teguk. Baru setelah semua itu aku melihat ke arah Riksa.
"Pacar bos mu itu...!" aku menjeda kalimat ku.
Aku tidak yakin apakah aku berhak menceritakan ini pada Riksa atau tidak. Karena meskipun aku ini istrinya Samuel, tapi di surat kontrak itu aku sama sekali tidak punya hak apapun.
"Apa yang kamu lakukan!!!" bentak seseorang yang tiba-tiba berdiri dengan berkacak pinggang di ruang makan dengan hanya memakai jubah tidur saja.
Orang itu tak lain adalah Samuel, wajahnya terlihat marah. Aku langsung berdiri dari kursi ku, begitu pula dengan Riksa.
"Bos, aku dan Naira...!" Riksa berusaha menjelaskan tapi Samuel memotongnya.
"Aku tidak bertanya padamu!" sela Samuel dengan suara yang begitu lantang.
__ADS_1
Saat matanya melotot padaku, aku merasa kalau sekujur tubuh ku merinding. Aku tidak berani menatap ke arah nya.
"Riksa, sudah malam sebaiknya kamu pulang!" seru Samuel lagi.
Aku melihat ke arah piring Samuel, dia bahkan belum menghabiskan setengah dari nasi gorengnya. Aku melihat ke arah Riksa yang langsung berjalan mendekati Samuel.
"Baik bos, selamat malam!" ucapnya lalu langsung meninggalkan ruang makan dan juga rumah Samuel.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, ketika mata Samuel tertuju padaku.
"Kenapa kamu berada disini?" tanya Samuel lagi.
"Aku lapar mas, jadi...!"
"Bawa piring mu itu kemari!" perintah nya menyela apa yang ingin aku katakan sambil menarik salah satu kursi dan duduk.
Aku heran kenapa sering sekali memotong perkataan orang lain. Tak mau membuatnya marah, aku membawa piring ku dan berjalan mendekat ke arah nya. Aku meletakkan piring ku dia atas meja di depan Samuel.
"Duduk!" perintahnya dan aku pun langsung duduk.
"Suapi aku!" perintah nya lagi.
Aku sudah tidak heran lagi, dia memang sukanya hanya memerintah saja. Aku langsung duduk di kursi yang ada di sebelahnya dan memegang sendok untuk segera menyuapinya. Tapi belum juga aku menyendok nasi, dia kembali menyela.
"Siapa yang menyuruh mu duduk di situ?" tanyannya dengan nada meninggi.
Aku hanya bisa menghela nafas.
"Mas, kalau tidak di kursi lalu aku harus duduk dimana?" tanya ku padanya. Aku mulai jengah, memangnya aku harus duduk dimana, masa' iya di lantai. Susah dong menyuapi nya kalo dia duduk di kursi dan aku di lantai.
"Di sini!" serunya menepuk paha kanannya.
Deg
Jantung ku kembali berdetak kencang, yang benar saja. Tapi Samuel dengan cepat menarik lengan ku hingga aku benar-benar duduk di pangkuan nya.
Blush
Aku rasa wajah ku saat ini pasti sudah seperti tomat buah yang sangat matang.
"Sudah, suapi aku sekarang!" perintahnya.
Entah apa yang di pikirkan pria ini, dia selalu bertindak semaunya sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan di pikirkan orang-orang di rumah ini kalau melihat kami seperti ini.
__ADS_1
***
Bersambung...