
Kevin dan Lisa baru saja akan ke ruang rawat Adam setelah mendengar penjelasan dokter dan apa yang dikatakan oleh Caren dan juga Jodi. Tapi baru saja kapan melangkah keluar pintu, salah seorang penjaga masuk dan melapor pada Kevin Rahardja.
"Tuan, di luar ada tuan Damar dan nyonya Stella yang minta untuk bertemu dengan tuan!" kata penjaga itu.
Kevin dan Lisa saling pandang. Begitu pula dengan Caren dan Jodi yang nampaknya tidak senang dengan kedatangan Damar dan juga Stella.
"Suruh mereka masuk!" ucap Kevin.
Setelah mengangguk dan sedikit membungkuk kan badannya, penjaga itu keluar dari ruang rawat Vina.
Kevin lalu berbalik dan melihat ke arah Caren dan Jodi.
"Kalian berdua pulang dan beristirahat lah, terimakasih sudah menjaga Vina!" seru Kevin dengan ekspresi wajah datar.
"Ta..tapi om. Saya masih ingin disini menjaga Vina!" kata Jodi yang sebenarnya bukan tidak mau keluar karena ingin menjaga Vina. Tapi dia tidak mau keluar karena ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Stella dan Damar pada kedua orang tua Vina.
"Pergilah!" kata Kevin dengan suara datar.
"Baik om, permisi!" ucap Caren dengan sangat sopan.
Jodi dan Caren pun tak punya pilihan lain selain keluar dari dalam ruangan itu karena mereka berdua tahu kalau Kevin sama sekali tidak suka kalau perintahnya tidak di turuti. Begitu mereka keluar mereka berpapasan dengan Stella dan Damar yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut. Pandangan Stella begitu tajam pada Caren membuat Caren memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.
Setelah Stella dan Damar masuk ke dalam, penjaga menutup pintu kamar ruang rawat Vina. Damar pun tidak mau bertele-tele dan langsung pada intinya kenapa sampai dia datang kemari.
"Selamat pagi tuan dan nyonya Rahardja, kedatangan ku dan istriku kemari adalah untuk meminta maaf atas apa yang terjadi pada Vina, kami sungguh sangat menyesali yang sudah putra kami lakukan. Tapi kami juga memohon agar kalian bisa memberikan kami kesempatan menebus kesalahan putra kami. Apapun akan kami lakukan agar kalian memakan kesalahan putra kami!" Ucap Damar sambil menundukkan kepalanya di depan Kevin Rahardja.
Siapa yang akan menyangka kalau pria terhormat seperti Damar Virendra akan menundukkan kepalanya di depan orang lain. Tapi memang seperti itulah kasih sayang dan ketidakberdayaan orang tua pada apa yang dilakukan oleh putranya. Meskipun sudah dewasa sekalipun, orang tua tetap akan menjadi orang pertama yang merasa harus bertanggung jawab atas apapun yang dilakukan oleh anak anak mereka. Begitu pula Damar, dia tidak melakukan kesalahan tapi dia yang harus minta maaf kepada orang lain atas apa yang sudah putranya lakukan.
__ADS_1
Awalnya Samuel tidak setuju, namun air mata Stella juga membuat Samuel rusak bisa berbuat apa-apa.
Kevin masih terdiam dengan raut wajah datar namun Lisa malah sudah tidak sabar dan maju mendekati Stella.
"Memang apa yang akan kamu lakukan kalau yang ada di posisi ku adalah kamu nyonya Stella Virendra? masih bisakah kamu memaafkan begitu saja orang yang telah mencelakai anak mu dan membuatnya kehilangan rahimnya?" tanya Lisa dengan nada rendah namun penuh penekanan hingga terkesan seperti sedang menyindir langsung ke lubuk hati Stella.
Stella tidak dapat menjawab pertanyaan Lisa, dia juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Lisa, dia juga pasti sama sedih nya dengan dirinya, bahkan pasti lebih sedih.
"Tapi Adam terkena amnesia karena kecelakaan itu, jika kalian mengajukan tuntutan juga akan...!"
"Siapa yang amnesia ibu?" tanya sebuah suara pelan yang membuat semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Vina!" pekik Lisa yang langsung berlari menghampiri putri tunggal nya yang baru saja sadar itu.
"Sayang, maaf karena ibu tidak ada di saat kamu membutuhkan ibu nak!" ucap Lisa yang merasa sangat bersalah karena malah berada di luar negri menemani ayahnya untuk sebuah pekerjaan saat kecelakaan terjadi.
Lisa malah menangis sejadi-jadinya di pelukan Vina.
"Sayang...!" lirih Lisa.
Kevin yang juga mendekati dua orang yang paling dia sayangi itu juga tak dapat menahan air mata yang juga sudah keluar dari sudut matanya. Bahkan Stella juga sudah ikut menangis.
"Rahim mu sudah di angkat nak, kamu selamanya tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu!" ucap Lisa dengan isak tangis yang sangat pilu.
Stella langsung memeluk sang suami dan menangis terisak juga.
"Apa yang telah putra kita lakukan mas? dia sudah membuat kesalahan besar!" lirih Stella namun hanya dapat di dengar oleh Damar yang juga memejamkan matanya karena merasa sangat bersalah pada gadis yang masih berbaring tak berdaya sambil di peluk oleh ibunya di hadapannya itu.
__ADS_1
Kevin melepaskan pelukannya dari Vina.
"Kalian juga orang tua, kami hanya inginkan keadilan bagi putri kami. Kami tidak akan menarik kembali tuntutan yang sudah di ajukan oleh Jodi, dan kami juga minta maaf kalau putra sulung kalian juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah mengambil keputusan tanpa bertanya pada kami!" seru Kevin yang matanya sudah merah.
Damar dan Stella hanya bisa menghela nafas mereka berat. Mereka sudah benar-benar pasrah pada keputusan Kevin dan Lisa sebelum datang kesini, mereka hanya ingin mencoba meringankan hukuman bagi Adam, namun jika tidak bisa mereka pun hanya bisa menerimanya.
"Ayah, tolong bantu aku duduk!" ucap Vina perlahan.
"Tidak perlu sayang, ayah akan mengatur tempat tidur mu ke posisi setengah duduk!" sahut Kevin lalu mengatur tombol tempat tidur Vina.
Setelah posisi tempat tidur pada setengah duduk, dan Vina bisa melihat ke arah Damar dan juga Stella, gadis cantik itu pun menyapa mereka.
"Om, Tante... saya tidak akan melanjutkan tuntutan pada Adam ataupun Samuel...!" ucap Vina tertatih dengan pandangan mata yang terlihat seperti orang lelah.
"Sayang, apa yang kamu katakan?" tanya Lisa menyela ucapan Vina.
"Ibu, percuma menghukum nya. Dia juga hilang ingatan...!"
"Tapi nak, ayah dan ibu hanya ingin memberikan keadilan untukmu!" seru Kevin.
"Ayah, aku... juga sedang memperjuangkan ke... keadilan untukku!" jawab Vina membuat semua orang menatap serius ke arahnya.
"Apa maksud mu nak?" tanya Lisa yang begitu bingung dengan apa yang dikatakan putrinya itu.
"Aku... tidak akan menuntut ke kantor polisi, atau... ke pengadilan! aku ingin Adam bertanggung jawab padaku, tapi bukan dengan menjebloskannya ke penjara.... Aku... ingin... Adam menikahi ku!" ucap Vina membuat semua orang terkesiap kaget. Tak terkecuali Stella dan juga Damar.
***
__ADS_1
Bersambung...