Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
292


__ADS_3

Perkelahian pun tidak terelakkan lagi, Derek Johnson juga tidak terima putranya sampai tangannya patah karena ulah Samuel. Bahkan setelah mematahkan tangan kiri Jonathan, Samuel tidak melepaskan Jonathan. Sedangkan Arman terus berusaha melindungi Samuel yang masih menahan Jonathan.


"Tuan Johnson, lepaskan Puspa. Maka aku akan melepaskan putra mu. Jika tidak maka aku akan patahkan tangan anakmu yang satu lagi!" gertak Samuel pada Derek Johnson.


Derek Johnson juga tidak mau melepaskan Puspa, karena dia merasa kalau melepaskan Puspa artinya dia akan kalah pada anak kemarin sore seperti Samuel, apalagi ini adalah tempat kelahiran nya, seharusnya dia tidak kalah pada Samuel.


"Mimpi saja kamu Samuel, Jonathan lawan dia! jangan mempermalukan dirimu sendiri!" teriak Derek Johnson yang berusaha mendekati Jonathan dan juga Samuel.


Tapi baru beberapa saat, sebelum Derek sampai di tempat putranya sedang meringis kesakitan, perkelahian semakin menjadi, barang-barang yang ada di ruang besar itu hancur berantakan. Beberapa orang bahkan sudah menggunakan senjata mereka untuk bertarung. Hingga terdengar suara sirine polisi yang membuat semua orang langsung berhenti berkelahi. Samuel juga langsung melepaskan dan mendorong Jonathan menjauh darinya.


Jonathan menabrak Derek Johnson yang memang sedang berjalan mendekatinya.


"Dasar tidak berguna!" keluh Derek Johnson.


Jonathan yang di maki ayahnya seperti itu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Ternyata dia memang tidak bisa melawan Samuel satu lawan satu.


"Semuanya angkat tangan!" teriak salah seorang petugas polisi.


Semua orang termasuk Samuel dan juga Derek Johnson langsung melihat ke arah sumber suara itu, mereka yang sedang berkelahi langsung angkat tangan mereka dan mundur perlahan.


Petugas polisi yang lain lalu masuk dan mendekati Derek Johnson.


"Permisi tuan Johnson, kami harus menangkap putra anda Jonathan Johnson atas tuduhan penculikan terhadap Puspa Maharani!" ucap salah seorang petugas polisi yang pangkatnya lebih tinggi dari yang lain sambil memberikan surat perintah penangkapan kepada Derek Johnson.


Mata Derek Johnson menjadi marah karena sangat marah. Dia tidak menyangka anak kemarin sore seperti Samuel bahkan sampai kepikiran hal seperti ini untuk melawannya. Dia sungguh terlalu menganggap remeh Samuel.


Sedangkan Samuel tersenyum miring, karena dia memang sudah menyiapkan berbagai rencana cadangan kalau satu rencananya tidak berhasil. Itulah yang membuatnya sampai tidak sempat untuk menghubungi Naira. Samuel bahkan tidak tidur dan makan dengan benar karena masalah Riksa ini.


Setelah melihat surat perintah penangkapan yang di berikan oleh petugas polisi, Derek Johnson berusaha untuk bicara dengan petugas itu.


"Pak polisi, ini kesalahpahaman. Puspa itu calon menantu ku, dia adalah tunangan Jonathan. Tidak mungkin kamu menculiknya, kedua orang tuanya juga ada di rumah kami ini karena mereka akan segera menikah, laporan ini jelas sekali palsu pak polisi!"

__ADS_1


"Bohong pak polisi!" teriak Puspa dari lantai dua.


Semua mata langsung melihat ke arah Puspa. Mega yang merasa kalau banyak polisi memperhatikan nya pun melepaskan pegangannya pada Puspa.


Setelah ibunya melepaskan tangannya, Puspa lalu segera berlari menuruni anak tangga menuju lantai satu. Dia langsung berlari ke arah petugas polisi itu.


"Aku Puspa Maharani pak polisi, laporan itu tidak palsu pak polisi. Laporan itu benar, aku di bekap dan di bius lalu di bawa sampai di rumah ini!" jelas Puspa yang sama sekali tidak takut bahkan saat ibunya dan Derek Johnson melotot ke arahnya.


"Maaf tuan Johnson, korban bahkan bersaksi di depan anda. Kami harus menangkap Jonathan Johnson sekarang juga!" seru petugas polisi itu tanpa ragu.


"Tunggu!" seru Derek Johnson.


Petugas yang tadinya sudah akan memasang borgol di tangan Jonathan lalu berhenti sejenak.


"Tunggu pak polisi, aku ingin bicara dengan Samuel dan Puspa sebentar!" ucap Derek Johnson kepada petugas polisi itu.


Kemudian petugas polisi itu pun melihat ke arah Puspa dan juga Samuel.


"Baiklah, dari awal aku sudah bilang ingin bicara baik-baik dengan mu kan tuan Johnson!" seru Samuel dengan nada menyindir kepada tuan Derek Johnson yang terlihat semakin merah wajahnya karena marah.


"Cabut laporan mu, aku akan lepaskan Puspa!" seru Derek Johnson dengan nada suara yang sangat garang dan terlihat sekali pada ekspresi wajah nya kalau dia sangat kesal pada Samuel dan juga Puspa.


"Aku tidak perlu mencabut laporan ku pun, aku akan membawa pulang Puspa. Aku tidak mengerti bagaimana cara anda berpikir tuan Johnson, apa anda tidak bisa melihatnya? Puspa memang akan pulang bersama ku dan anak tuan Johnson akan masuk penjara!" jelas Samuel yang bicara dengan begitu santai pada Derek Johnson.


"Baiklah baiklah, lepaskan anak ku. Kamu dan kedua orang tuamu juga pergilah dari negara ini. Anggap saja kita tidak saling kenal, aku akan hapus semua hutang ayah mu. Sudah pergi sana dan lepaskan anak ku!" ucap Derek Johnson yang sepertinya memang sudah tidak punya pilihan lain lagi.


Puspa dan Samuel saling pandang sejenak.


"Baiklah, tapi akan ku cabut laporannya setelah Puspa dan yang lain sudah meninggalkan Jerman...!


"Samuel Virendra, jangan bermain-main dengan ku!" sela Derek Johnson yang merasa kalau Samuel malah semakin meremehkannya dan mempermainkan dirinya.

__ADS_1


"Terserah padamu tuan Johnson, yang jelas Puspa juga akan pulang bersama ku. Pilihan ada di tangan mu! silahkan!" ucap Samuel dengan begitu santai bahkan dengan senyuman yang menyeringai di wajahnya.


Derek Johnson mengepalkan tangannya dengan kuat, sampai terlihat memerah karena kulit tangannya uang begitu putih.


"Pak polisi, bawa saja Jonathan Johnson. Aku akan pergi ke kantor polisi bersama mu!" ucap Samuel yang tidak bisa di bantah lagi oleh Derek Johnson.


Jonathan yang masih menahan sakit di tangan kirinya melihat ke arah ayahnya yang sangat terlihat emosi. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika borgol itu sudah membelenggu kedua pergelangan tangan nya.


Mega dan Putra yang melihat semua itu juga merasa sangat takut. Sampai akhirnya Puspa menghampiri mereka.


"Ayah, ibu kalian mau pulang bersama ku atau tetap tinggal disini bersama Anyelir. Tenang saja, hutang kalian pada tuan Johnson sudah di bereskan oleh Samuel!" ucap Puspa pada kedua orang tuanya.


Putra lalu memegang lengan Mega.


"Mega, sudah saatnya kita kembali ke negara kita sendiri!" ucap Putra berusaha memberi pengertian pada istrinya itu kalau di tempat ini mereka sudah tidak punya apa-apa lagi dan tidak bisa tinggal di tempat ini lagi.


Dengan berat hati Mega pun melangkah meninggalkan kediaman Johnson bersama dengan Puspa dan juga Putra. Mereka masuk ke dalam mobil yang di dalamnya juga ada Riksa.


Begitu melihat Puspa, Riksa langsung turun dari dalam mobil dan memeluknya dengan sangat erat.


"Ku pikir aku akan kehilangan mu!" lirih Riksa membuat mata Puspa berkaca-kaca.


Sedangkan Mega yang melihat itu mengepalkan tangannya, tapi langsung di genggam oleh Putra.


"Jangan seperti ini lagi, Putri kita sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya!" ucap Putra membuat Mega mendengus kesal.


Sementara Riksa dan yang lain sudah menuju ke bandara untuk pulang kembali ke negaranya. Samuel dan juga Arman masih ada di kantor polisi, mereka akan pulang dengan penerbangan biasa yang di jadwalkan satu jam lagi.


"Terimakasih atas kerja samanya pak polisi!" ucap Samuel lalu menyalami petugas polisi yang tadi membantunya.


"Sama-sama tuan Virendra!" sahut polisi itu dengan ramah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2