Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
52


__ADS_3

Aku langsung menutup mulut ku karena aku sadar aku sudah mengatakan hal yang akan membuat Ibras mencurigai hubungan ku dengan si lidah tajam itu.


Dan benar saja, setelah meraih jas yang ada di dekat ku, dia ikut duduk di sebelah ku.


"Kakak bilang apa tadi? kakak bilang kak Samuel itu menyeramkan? lalu kenapa kakak menyukai nya, kenapa malah mau menikah dengan nya?" tanya Ibras dengan wajah yang serius.


Aku hanya tertawa canggung di depan Ibras.


"Aku tadi hanya bercanda, cepat pakai jas mu. Ayo ikut dengan ku ke roof top. Kita akan melakukan pemotretan untuk foto keluarga dulu disana sebelum ganti baju lagi dan melaksanakan acara selanjutnya!" jelas ku pada Ibras.


Aku berdiri lalu aku menggandeng tangan Ibras yang masih duduk dengan wajah menantikan jawaban dariku atas pertanyaan yang mengganggunya tadi.


Tapi ketika aku menggandeng Ibras, dia malah menahan tangan ku.


"Kakak, Ibras gak mau ya sampai kakak nanti menyesali keputusan kakak ini. Kakak sekarang harus jujur pada Ibras, kakak itu sebenarnya cinta gak sih sama kak Samuel?" tanya nya.


Aku melihat wajah Ibras memang tidak main-main. Dia benar-benar sedang mengkhawatirkan aku, dia ini memang masih muda, dia bahkan adik ku. Tapi aku tahu, sebagai saudara laki-laki, dia juga ingin melindungi ku dan memastikan kebahagiaan untukku.


Aku menepuk punggung tangan Ibras yang menahan pergelangan tanganku.


"Kakak hanya bercanda tadi, itu semua karena pria yang kakak temui di kamar sebelah sana. Kakak salah masuk kamar tadi, dan pria itu malah... malah..!"


Niat ku ingin mengubah topik pembicaraan dengan Ibras. Agar adik ku itu tidak menanyakan lagi tentang hubungan ku dengan Samuel. Tapi aku malah hampir mengatakan hal yang belum pantas di dengar oleh pemuda yang baru genap tujuh belas tahun bulan lalu.


Ibras mengerutkan keningnya.


"Malah apa kak?" tanya nya padaku.


Aku kembali canggung, kalau aku tidak bilang maka Ibras akan terus bertanya-tanya. Tapi kalau aku bilang, apa yang pria itu lakukan, Ibras pasti juga tidak akan terima dan akan menghampiri pria itu. Dan jika itu terjadi, pasti akan ada keributan kecil, meskipun hanya keributan kecil, aku sungguh tidak ingin itu terjadi.


"Malah mau menukar jas mu dengan miliknya, aku marah dan segera keluar dari sana! menyebalkan! ayo Ibras kita harus ke roof top. Aku dengar ibu Stella dan ayah Damar belum datang, kita bisa sekalian ambil foto keluarga kita dulu. Ayah, ibu dan kita berdua, ayolah!" ajak ku pada Ibras.


Setelah mengatakan itu akhirnya Ibras mau beranjak dari duduknya dan kami pun segera berjalan keluar kamar menuju lift.


Ting!


Pintu lift terbuka, lalu aku dan Ibras masuk ke dalamnya menuju lantai paling tinggi di gedung ini.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka, dan kami berdua langsung keluar dari sana. Tak jauh dari pintu lift, kami berjalan ke arah samping roof top dan disana sudah dihias begitu rupa hingga terlihat sangat megah dan cantik menurut ku.


Banyak sekali kain berwarna putih, aku sedikit aneh ya dengan orang kaya, kalau pakai kain seperti ini sebagai latar nya seharusnya di dalam ruangan saja kan. Kenapa malah di luar ruangan seperti ini, atau konsepnya memang seperti ini. Dan aku yang memang ketinggalan jaman.


Saat kami datang, tak lama ayah dan ibu juga sudah naik. Ibu terlihat terus menggandeng lengan ayah dengan erat. Seperti nya ibu ketakutan.


"Nai, kenapa mau foto aja harus di tempat begini sih? ih serem tahu, anginnya kenceng banget. Nanti kalau kita ke bawa angin terus jatuh gimana? tinggi banget loh ini!" seru ibu memasang wajah yang ketakutan.


Belum aku menjawab perkataan ibu, seorang fotografer yang waktu itu pernah ku temui di butik Puspa menghampiri kami.


"Selamat siang, nyonya, tuan... silahkan langsung ke tempat pemotretan! nyonya Stella meminta saya untuk mengabadikan gambar keluarga nona Naira terlebih dahulu sambil menunggu tuan dan nyonya Virendra datang!" ucap fotografer itu dengan ramah.


Kami langsung mengikuti nya tanpa menjawab. Kami di arahkan dengan berbagai gaya, pertama aku di foto sendirian dengan beberapa gaya yang di arahkan oleh seorang pengarah gaya. Kemudian di lanjut kan oleh Ibras. Lalu ayah dan ibuku yang di foto bersama.


Saat mengambil foto ayah dan ibu, pengarah gaya dan fotografer harus beberapa kali menghela nafas mereka dan menggelengkan kepala mereka. Masalahnya ibu ku sangat kikuk, saat diminta bergaya sedikit romantis dengan ayah. Ibu terlihat sangat malu bahkan memilih gaya yang kebanyakan memunggungi ayah.


"Nyonya, coba seperti tadi. Saat anda baru keluar dari dalam lift itu. Menggandeng erat lengan suami anda, itu terlihat sangat romantis dan hangat!" seru pengarah gaya yang sepertinya sebentar lagi akan darah tinggi menghadapi ibu ku yang terus membantah nya.

__ADS_1


"Tadi itu kan natural, saya memang takut. Kalau sekarang kan tidak. Mana bisa di buat-buat!" balasnya kesal.


"Pffftt!" aku sampai ingin tertawa karena sikap ibu yang seperti itu.


"Aduh kakak, kalau mau tertawa ya tertawa saja, kenapa di tahan. Aku sih tidak kaget lagi, kalau soal ngeyel! ibu memang tidak ada tandingannya!" bisik Ibras padaku.


"Hus, gak boleh bilang begitu. Nanti ibu dengar terus kamu di kutuk jadi Sapidermen mau?" tanya ku pada Ibras.


"Kalau jadi Spiderman sih Ibras mau, tapi kalau jadi Sapidermen, ogah!" jawab nya sambil menunjukkan ekspresi tidak senang dengan menggidikkan bahunya.


Aku terkekeh mendengar jawaban Ibras. Sang pengarah gaya sepertinya sudah menyerah dan memintaku dan juga Ibras untuk bergabung dengan ayah dan ibu.


Mereka menambahkan properti berupa sofa putih klasik, dan meminta ayah dan juga ibu duduk bersebelahan. Dan aku juga Ibras duduk di pegangan sofa itu. Lalu gantian aku dan ibu yang duduk di sofa, ayah berada di belakang ibuku, sambil memegang pundak ibu.


"Nyonya, tolong letakkan tangan anda di atas tangan suami anda. Seperti memegangnya tapi jangan di genggam ya!" ucap si pengarah gaya yang sudah mulai acak-acakan rambutnya.


"Ih gimana sih, di pegang jangan di genggam tuh yang kayak gimana coba?" tanya ibu tidak mengerti tapi karena nada bicara nya memang seperti orang kesal, aku bisa melihat kalau di pengarah gaya itu mulai frustasi. Dia memegang kepalanya dan terlihat mengomel, tapi saat mengomel dia memalingkan wajahnya membelakangi kami semua.


Tak lama kemudian, dia kembali berbalik.


"Maaf nyonya, ganti gaya saja. Baiklah, nyonya anda duduk lah menyerong ke arah nona Naira, nona Naira anda juga duduklah menyerong ke arah ibu anda dan kedua pria di belakang nya memegang bahu wanita yang ada di depan kalian masing-masing ya!" ucap nya lagi.


Dan kalo ini kami sepertinya sudah melakukan instruksi pengarah gaya itu dengan benar.


"Iya, seperti itu. Pertahankan ya, bagus... satu dua..!"


Cekrek!


"Wah bagus sekali, kami juga mau gaya yang seperti itu!" ucap ibu Stella yang datang dengan seorang pria paruh baya yang begitu tampan dan mirip sekali dengan Samuel. Tapi senyumnya terlihat lebih lembut dan juga lebih tulus daripada Samuel.


"Selamat siang, saya Damar. Ayahnya Samuel!" ucap ayah Damar yang langsung mengulurkan tangannya pada ayah.


"Saya Rama, ayahnya Naira!" ucap ayah sambil menjabat tangan ayah Damar.


Ayah Damar juga melakukan hal yang sama pada ibu, Ibras dan terakhir adalah aku. Tapi padaku, dia tidak mengulurkan tangannya. Melainkan memeluk ku, rasanya sedikit canggung, tapi kemudian ayah Damar mengelus kepala ku dengan lembut.


"Senang bertemu dengan mu Naira, ayah sudah banyak mendengar tentang mu dari ibu Stella dan juga Riksa, terimakasih karena telah bersedia menjadi pendamping hidup putra ayah, ayah harap kalian akan selalu bersama, saling mencintai sampai selamanya!" ucap ayah Damar.


Terus terang saja, apa yang ayah Damar katakan itu sungguh mampu membuatku merasa begitu terharu. Kata-kata nya memang umum, tapi doa yang dia selipkan itu khusus untukku dan juga si lidah tajam. Meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin.


"Pak Rama dan Ibu Anisa, terimakasih kalian sudah menerima dan memberikan restu kalian pada Samuel dan Naira!" ucap ayah Damar lagi.


"Baiklah, kita lanjutkan lagi yuk foto keluarga nya!" seru ibu Stella.


"Dimana Samuel?" tanya ayah Damar.


"Aku disini ayah!" seru Samuel yang baru saja keluar dari lift bersama dengan Riksa.


Aku hanya tersenyum seadanya saat melihat Samuel dan Riksa datang, sebenarnya aku lebih ingin menunjukkan senyum ku pada Riksa daripada si lidah tajam itu.


Kami semua lalu berjalan ke arah lokasi pemotretan yang sudah di ganti properti nya dengan dua kursi yang megah dan besar.


Ting!


"Jadi kalian akan mulai tanpa aku?"


Sebuah suara yang aku yakin pernah mendengarnya membuat kami semua menoleh ke belakang, aku bahkan nyaris terselandung setelah melihat siapa orang yang bicara itu.

__ADS_1


'Hah, dia benar-benar datang kemari? aduh bagaimana ini? aku kan cuma menggertak saja, aku kira dia tidak akan kemari! ternyata dia benar-benar datang! bagaimana ini?' gumam ku dalam hati.


Aku sungguh panik saat ini, pria yang tadi kamarnya salah aku masuki. Lalu yang memberikan persyaratan aneh padaku agar dia mau mengembalikan jas milik Ibras, dan yang sudah aku tantang kalau mau bertemu dengan calon suami ku yang sangat menyayangiku harus ke roof top untuk menemui kami. Ternyata dia benar-benar datang.


Kalau saja gedung ini tidak tinggi, aku pasti akan milih loncat agar tidak berhadapan dengannya. Ketika dia melangkah maju, aku memilih untuk mundur dan menyembunyikan tubuh ku di belakang Ibras yang lumayan lebih tinggi dariku, meskipun hanya sekitar 7 atau 8 centimeter.


"Adam! kamu sudah datang? kemari lah!" ajak ibu Stella pada pria itu.


Aku mengernyitkan dahi ku, seperti nya aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya aku sungguh tidak ingat.


"Naira, kemari lah!" ucap ibu Stella.


Dan saat ibu Stella memanggil ku, semua mata seperti sedang tertuju padaku. Aku mendadak menjadi sangat gugup, aku yakin telapak tangan ku pasti dingin dan berkeringat.


'Aku berharap saat ini wajah ku berubah menjadi orang lain agar pria itu tidak mengenali ku! Oh Tuhan tolong rubah wajah ku menjadi cinta Laura saja!' pintaku dalam hati.


Aku maju perlahan, tapi di lidah tajam itu tiba-tiba mendekatiku dan menarik tangan ku lembut.


"Ngapain sih, aku bisa jalan sendiri!" bisik ku pada si lidah tajam. Aku memprotes apa yang dia lakukan, aku kan memang sengaja mengulur waktu.


"Aku ini sedang mempercepat langkah mu, siput saja jalannya tidak selamban kamu ini!" keluh Samuel.


Ketika sudah sampai di depan ibu Stella dan pria itu. Aku menundukkan wajah ku, aku sungguh tidak ingin melihat ke arah pria yang sedari tadi tersenyum aneh itu.


"Hai kakak ipar!" sapa nya.


Aku langsung mengangkat kepala ku, menatap pria itu dengan mata yang melebar.


'Apa dia bilang? kakak ipar? jadi dia ini... dia ini adiknya si lidah tajam! Oh Tuhan, bisakah aku benar-benar berubah menjadi cinta Laura sekarang!' keluh ku dalam hati.


"Iya sayang, dia adalah Naira, calon istri kakak mu!" ucap ibu Stella sambil tersenyum senang.


Aku rasa kalau sekiranya tidak membuat masalah, aku lebih memilih untuk pingsan saat ini juga.


"Hai Naira, gadis yang sangat di cintai Kakak ku!" ucapnya membuat ku memperlihatkan senyum yang sangat canggung.


"Gadis yang jika ada pria menyentuhnya maka, kakak tidak akan segan untuk memotong tangannya dan memberikan nya pada buaya peliharaan nya!" lanjut nya lagi membuat ibu Stella dan Samuel saling pandang.


"Oh ya kakak, aku baru tahu kalau di rumah mu ada kandang buaya!" ucap nya melihat ke arah Samuel.


'Ih, dia ibu benar-benar ya. Oh Tuhan bisa tidak dia dibuat lupa ingatan!' do'a ku dalam hati.


"Kandang buaya?" tanya Samuel mengulang apa yang dikatakan oleh Adam dengan ekspresi bingung.


"Iya, oh bukan hanya kandang buaya, bukan kah kamu juga punya kandang serigala?" tanya nya lagi pada Samuel.


Rasanya aku sungguh ingin tenggelam saja di kolam yang kedalamannya sepuluh centimeter.


"Aku tidak mengerti, siapa yang mengatakan semua itu padamu?" tanya Samuel dengan wajah seriusnya.


Adam tidak langsung menjawab, dia malah melihat ke arah ku.


'Hah, dia melihat ku. Bagaimana ini?' tanya ku bingung dan panik pada saat yang bersamaan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2