Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
14


__ADS_3

Hari telah berganti, hari baru kini sudah menanti di depan mata. Tapi rasanya mata ku enggan untuk terbuka. Udara pagi yang begitu sejuk juga semakin membuatku enggan melepaskan selimut yang membalut seluruh tubuh ku hingga sebatas leher.


Di kamar ku ini tidak ada pendingin ruangan nya, kamar ku yang hanya seluas 4×5 meter yang sudah menjadi kamar ku selama lebih dari sepuluh tahun ini begitu sejuk, karena memang berada di bagian rumah paling belakang yang jaraknya sangat dekat dengan kebun pisang, milik Pak Edi tetangga ayah ku.


Meski terasa sulit sekali, aku berusaha untuk membuka mataku yang masih sangat menempel satu sama lain. Aku melirik ke arah dinding yang disana juga tergantung jam dinding.


"Gyahhhh!" aku segera beranjak dan menyibak selimut ku.


Aku turun dari tempat tidur dan segera keluar kamar setelah sebelumnya menyambar handuk yang ada gantungan di belakang pintu kamar ku. Aku bergegas ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur.


Sekarang sudah jam 6 lebih tiga puluh pagi. Sedangkan si lidah tajam bilang, Riksa akan menjemput ku jam 7 pagi tepat.


Aku berusaha membuka pintu kamar mandi, tapi sepertinya terkunci dari dalam.


Aku mengetuk dengan perlahan, kalau-kalau itu adalah ayah atau ibu.


Tok tok tok


"Siapa ya di dalam?" tanya ku.


"Ibras kak, lagi nanggung nih. Bentar!!" seru Ibras dari dalam.


"Buruan Bras, kakak mau mandi. Udah kesiangan ini!" keluh ku padanya.


"Kak diem dulu ngapa? Ibras susah konsentrasi kalau di ajak ngomong!" pekik nya tak kalah kencang dari dalam kamar mandi.


"Ck..!"


Aku hanya mendecakkan lidah ku kesal, lalu meninggalkan nya. Jika aku semakin mengganggu nya, maka dia akan semakin lama.

__ADS_1


Aku menunggu Ibras di kursi dekat dapur. Sudah ada berbagai macam lauk pauk yang sudah ibu masak di atas meja di dapur yang di tutupi dengan tudung saji.


Aku melihat ke sekeliling, seperti nya ayah dan ibu sudah tidak ada di rumah. Mereka pasti sudah berangkat bekerja. Ayah dan ibu memang sudah biasa bangun sangat pagi. Aku juga biasa nya membantu ibu, dan jika aku kesiangan bangun maka ibu akan membangunkan aku. Tapi kenapa kali ini tidak ya?


Apa karena semalam aku dan ayah bicara sampai larut malam. Jadi ayah tidak mengizinkan ibu untuk membangunkan aku.


Ceklek


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan Ibras keluar dari sana.


"Udah kak, oh ya kata ibu nanti kunci rumah nya tolong kasih ayah aja di sekolah, soalnya tadi waktu ibu mau bangunin kakak, ayah melarang nya!" seru Ibras sambil memakai sepatu sekolahnya.


Ternyata benar, ayah yang melarang ibu membangunkan aku. Ayah ku memang sangat pengertian. Aku jadi semakin sedih saja, karena sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini. Meskipun itu hanya setahun dan aku akan kembali lagi kesini. Tapi dengan peraturan ketat si lidah tajam itu, aku rasa aku tak akan bisa sering-sering mengunjungi ayah dan ibu ke rumah ini.


"Iya, nanti kakak antar ke ayah. Kamu gak kesiangan jam segini baru berangkat?" tanya ku pada Ibras karena dia kan harus jalan kaki ke depan gang lalu naik angkutan umum.


"Gak kok, nanti Ibras nebeng sama Tommy anak pak Edi, dia mau ke pasar katanya! ya sudah kak, Ibras berangkat ya. Assalamualaikum!" seru Ibras sembari berlalu.


Biarpun dia sering bertengkar dengan ku, tapi kalau dia tidak ada rumah ini akan terasa sangat sepi. Dan aku yakin hal yang sama juga dia rasakan. Meski dia itu tengil, tapi dia sangat baik dan pengertian. Meskipun dia itu sumbu kompor, tapi dia lah yang selalu ada dan ringan tangan, dia akan selalu membantu ku saat aku kesulitan dan kepayahan melakukan sesuatu.


Aku yang awalnya sangat bersemangat untuk mandi dan bersiap-siap malah kembali lemas lagi. Lutut ku rasanya sangat rapuh, dan tak mampu menopang berat badan ku (kalau penulis emang kudu bisa bahasa begini kan 🤭).


Aku sungguh jadi sangat mellow sekarang ini. Aku menghela nafas berat, sangat sangat berat. Dan tanpa sadar aku merasakan cairan hangat mengalir ke pipi ku. Aku menangis, aku tahu ini hanya pernikahan kontrak, bisa di bilang aku dan Samuel hanya akan pura-pura menjadi pasangan bahagia di depan orang tua nya dan juga orang tua ku. Tapi hati ku tetap lah merasa ada sesuatu yang tidak benar dan seperti nya aku telah meninggal kan sesuatu yang sangat berharga dan hal itu tidak akan pernah kembali.


"Permisi!"


Aku tersentak kaget, suara itu mengembalikan aku ke dunia nyata setelah tadi aku sempat melayang ke dunia khayal. Aku segera bangkit dari duduk ku, dan segera keluar meskipun masih dengan piyama tidur dan handuk yang ku sampirkan di bahu ku.


"Riksa!" ucap ku.

__ADS_1


Pria tampan yang sudah memakai setelah jas lengkap itu malah hanya memperhatikan aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku juga ikut melihat ke arah pandangannya.


'Ada apa?' tanya ku dalam hati.


"Nai, kamu baru bangun ya? ini sudah jam 7 lewat 5 menit!" serunya.


Aku langsung membelalakkan mataku dan segera berbalik tapi aku lupa aku belum mempersilahkan Riksa untuk masuk. Aku jadi berbalik lagi ke arah Riksa, namun karena gerakan ku yang terlalu cepat membuat langkah ku terbelit dan akhirnya...


Brukk


Aku jatuh dengan gaya yang sungguh tidak mempesona. Aku memegang kaki ku yang sepertinya keseleo. Karena terasa nyeri di bagian pergelangan kaki.


Riksa segera berlari ke arah ku dan menyentuh bagian kaki yang sama yang aku sentuh.


"Bagian mana yang sakit? yang ini. Tahan sedikit ya!" ucap nya panik dan langsung mengelus perlahan pergelangan kakiku.


"Lihat aku!!" perintah nya. Dan seperti sebuah sugesti aku langsung melihat ke arah wajahnya.


Kretek


"Augh!" pekik ku. Ternyata dia hanya mengalihkan perhatian ku. Karena akan mengembalikan otot kaki ku yang sepertinya sedikit bergeser karena terjatuh tadi.


"Tidak apa-apa, sudah tidak apa-apa. Kita akan mampir ke apotek untuk membeli krim agar kaki mu cepat membaik. Aku bantu bangun ya!" ucap nya sambil membantu ku untuk berdiri.


"Coba jalan, apa bisa?" tanya nya memastikan.


Aku malah tidak fokus pada apa yang dia katakan, aku hanya fokus pada wajahnya dan perhatian nya padaku.


'Kenapa tidak dia saja yang jadi bos nya dan si lidah tajam itu yang jadi sekertaris nya sih!' keluh ku dalam hati.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2