
Naira menunggu sang suami yang masih berada di dalam kamar mandi, dia benar-benar tidak sabar untuk segera makan gado-gado buatan suaminya yang tercinta. Awalnya Samuel masih berusaha untuk membujuk Naira, serta menawar untuk memberinya permintaan yang lain saja.
Tapi istrinya itu malah mengeluarkan jurus paling ampuh agar Samuel itu tidak bisa lagi menolak ataupun beralasan pada apa yang Naira inginkan tadi.
Naira menghubungi Stella, dan Stella dengan tegas meminta agar Samuel menuruti apapun permintaan Naira, karena Stella tidak mau cucu pertama nya itu ngences kalau apa yang diminta sang Ibu tidak dituruti oleh ayahnya.
Berulang kali Samuel mengatakan hal itu hanya mitos dan memilih mengajak Naira berjalan-jalan di mall, tapi Stella malah menggertak Samuel jika dia tidak mau menuruti permintaan Naira itu, Stella akan tidur dengan Naira selama satu bulan kalau mereka sudah pulang. Dan itu membuat Samuel tidak bisa berkutik lagi, dia benar-benar sudah memiliki ketergantungan yang begitu besar pada Naira. Hingga dia tidak mau lama-lama berjauhan dengan istrinya itu.
Samuel yang sudah selesai mandi terkejut ketika melihat sang istri yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi membawa kantong belanjaan dan juga secarik kertas di tangannya yang lain.
"Sayang, apa ini?" tanya Samuel sambil meraih kantong belanjaan yang ada di tangan Naira tadi.
"Mas, itu kantong belanjaan!" jawab Naira yang juga memberikan kertas berisi catatan apa saja barang-barang yang harus di beli Samuel nantinya di pasar.
"Sayang apa para pedagang di pasar tidak punya plastik pembungkus, haruskah aku membawa kantong belanjaan ini?" tanya Samuel yang terlihat jelas kalau dia sangat enggan membawa kantong belanjaan bergambar terong berwarna ungu, memegangnya pun dia sedikit menunjukkan ekspresi yang tidak nyaman.
"Mas, di bawa yang benar. Ini bisa muat banyak lho, lagipula kita harus mengurangi penggunaan kantong plastik, ingat kan kantong plastik itu butuh ratusan tahun untuk terburai sempurna. Ini daftar belanjaan nya, mas ada uang cash kan?" tanya Naira dan hanya di balas anggukan oleh Samuel.
Kemana perginya Samuel yang garang, dingin dan tegas beberapa bulan yang lalu? entahlah, sekarang Samuel benar-benar sangat menurut pada Naira.
Mereka berdua keluar dari kamar, Anisa dan juga Rama memanggil keduanya untuk sarapan.
"Naira, nak Sam ayo sarapan dulu!" ajak ayah Rama sekaligus menyapa keduanya.
Samuel pun menoleh ke arah Naira.
"Kamu masih bisa sabar tidak, kalau menunggu aku sarapan dulu?" tanya Samuel.
Naira begitu terharu mendengar apa yang barusan di katakan oleh Samuel. Dia bahkan meminta ijin untuk sarapan.
Naira langsung mengangguk dengan cepat
"Iya mas, ayo sarapan dulu!" ucap Naira.
Samuel dan Naira ikut duduk bersama Rama dan juga Anisa.
__ADS_1
"Ibras sudah berangkat yah?" tanya Samuel setelah meminum teh hangat yang ada di depannya.
"Sudah nak, dia selalu berangkat pagi, sekarang kan sudah mau ujian!" jawab ayah Rama.
"Kamu jadi mau bikin gado-gado Nai?" tanya Anisa yang sepertinya sudah tahu kalau Naira memang sangat ingin makan gado-gado hari ini.
"Iya Bu, nanti mas Samuel yang akan membuatkannya, setelah sarapan mas Sam juga akan ke pasar membeli bahan-bahan nya!" jawab Naira dengan sangat bersemangat.
"Kamu bilang apa Nai?" tanya ayah yang langsung menghentikan kegiatan makannya.
Ayah Rama tersenyum tidak enak pada Samuel, dia juga merasa sangat tidak enak hati. Bagaimana pun menantunya itu adalah orang penting, seorang CEO bagaimana seorang CEO di minta untuk belanja ke pasar.
"Jangan bercanda, sudah biar ayah dan ibu saja yang belanja ke pasar!" seru ayah Rama dia benar-benar tidak enak hati pada menantunya.
"Ayah kenapa sih, itu kan maunya calon cucu kita! ayah mau nanti anaknya Naira sama Samuel ngences, ih ibu sih gak mau ya!" ucap Anisa yang seolah setuju dengan pendapat Naira dan sama sekali tidak setuju dengan pendapat ayah Rama.
"Iya Bu, ayah juga gak mau. Tapi nak Samuel kan...!"
"Tidak apa yah, aku kan tidak harus ke pasar juga. Bisa ke supermarket!" jawab Samuel menyela sang mertua.
"Mas mau belanja di supermarket?" tanya Naira dengan raut wajah tidak senang.
"Apa bedanya sayang, semua bahan yang kita butuhkan ini pasti tersedia di supermarket!" jawab Samuel.
"Tidak mau mas, tempe sama tahu yang dijual di supermarket sama yang dijual di pasar tuh beda, di supermarket itu dingin, serba beku, rasanya pasti hambar. Belanja di pasar saja mas, bisa di tawar lebih hemat!" ucap Naira sambil tersenyum dan memegang lengan suaminya dengan manja.
'Naira sayang, kamu apa-apaan sih. Suami mu ini CEO terkaya nomer empat di kota ini, kenapa malah di suruh menawar belanjaan di pasar!' batin Samuel yang merasa kalau istrinya seperti lupa kalaupun dia ingin membeli pasar nya dia pun bisa melakukan hal itu.
Samuel hanya menghela nafasnya berat.
"Iya sayang, nanti aku akan belanja di pasar!" jawab Samuel yang lebih memilih untuk mengalah pada keinginan sang istri.
Ayah Rama yang merasa tidak enak pun menawarkan diri untuk menemani Samuel.
"Nak Samuel, nanti ayah temani ya?" tanya ayah Rama meminta persetujuan Samuel.
__ADS_1
Samuel langsung mengangguk setuju.
"Iya ayah!" jawab Samuel singkat.
***
Dan disinilah akhirnya Samuel dan ayah Rama berada. Di depan sebuah pasar tradisional yang letaknya lumayan jauh dari komplek perumahan tempat ayah Rama tinggal.
Hiruk pikuk dan keramaian membuat Samuel merasa sedikit was-was dalam hatinya.
'Harus masuk ke tempat seperti ini?' tanya Samuel dalam hati.
Samuel uang melihat berbagai macam rupa orang-orang yang ada di pasar tradisional di hadapan nya sedikit ragu untuk melangkah maju.
Dan hal itu pun dapat di ketahui eh ayah Rama.
"Nak Samuel di dalam mobil saja, biar ayah yang cari bahan-bahan yang mau di beli!" ucap ayah Rama membuat Samuel langsung menoleh ke arah ayah mertua nya itu.
"Tidak usah ayah, kita beli bersama saja!" ucap Samuel.
"Kalau begitu ayo!" ajak ayah Rama.
Begitu mendekati para pedagang dan mulai masuk area pasar tradisional itu, semua mata tertuju pada Samuel. Memang siapa yang tidak akan terpesona dengan pria tampan setinggi 180 cm dengan raut wajah seperti percampuran antara Nicholas Saputra dengan Evan Sanders.
"Ganteng temen lah, mase belanja ning kene bae yak!" seru salah seorang wanita pedagang cabe dan bawang-bawang.
"Aduh mana pula ini hape, pengen poto-poto sama abang ganteng ini!" salah seorang wanita berwajah galak pun ikut berseru.
"Ganteng, beli kentang di sini. Beli sekilo gratis sekilo di tambah alamat rumah!" teriak salah satu pegangan yang jaraknya lumayan jauh dari Samuel dan ayah Rama.
Samuel mengernyitkan dahi nya melihat semua tatapan yang tertuju padanya, ayah Rama bahkan terkekeh mendengar celotehan para pedagang yang dia dan Samuel lewati.
'Kalau Naira tahu ini, dia pasti menyesal meminta suaminya belanja di pasar!' batin ayah Rama.
***
__ADS_1
Bersambung...