Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
63


__ADS_3

Author POV


Puspa keluar dari kamar mencari Samuel, waktu mereka memang tidak banyak. Jadi Puspa ingin memastikan kalau sebelum acara resepsi Samuel sudah makan malam dan dalam keadaan baik-baik saja. Meski Samuel terlihat tidak perduli pada acara ini, tapi Puspa sangat perduli.


Stella sudah memintanya mengurus semua acara ini, maka dia akan bekerja dengan baik dan juga sepenuh hati bukan hanya karena rasa tanggung jawab nya. Melainkan karena dia menyayangi keluarga virendra, bukan hanya menganggap Samuel sebagai sahabat tapi juga sebagai keluarga.


Puspa berhenti di depan pintu kamar hotel lain yang Samuel pesan atas namanya sendiri, tapi begitu Puspa akan membuka pintu kamar itu. Dia tidak bisa membukanya.


"Pintunya terkunci, lalu dimana dia?" tanya Puspa dengan bergumam.


Puspa lalu melihat ke sekeliling, dan dia melihat sebuah bayangan di ujung koridor yang menuju ke arah balkon, perlahan Puspa menuju ke tempat itu dan benar saja dia melihat Samuel disana.


Awalnya dia mempercepat langkahnya, karena dia ingin segera meminta Samuel kembali ke dalam kamar untuk makan malam. Tapi ketika dia semakin dekat, langkahnya malah terhenti.


"Ayolah, sayang! angkat telepon dari ku! apa yang sebenarnya terjadi, apa kamu tidak tahu kalau aku sudah hampir gila disini, dengan semua sandiwara ini!" gumam Samuel sambil berjalan kesana kemari dengan terus berusaha menghubungi seseorang.


Mendengar itu Puspa segera mendekati Samuel dan langsung mendorongnya.


"Hei!" pekik Samuel sangat marah dan hampir memukul orang yang berani mendorongnya, namun dia segera menghentikan apa yang akan dia lakukan ketika mengetahui orang itu adalah Puspa.


"Puspa, apa yang kamu lakukan?" tanya Samuel dengan nada kesal.


Puspa menatap tajam Samuel, dia sangat kesal pada pria di hadapannya itu.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu Sam, apa yang telah kamu lakukan? kamu keterlaluan Sam, aku tidak pernah menyangka sahabat baik ku, pria yang selalu aku anggap gentleman ternyata hanya seorang pengecut!" keluh Puspa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Setelah mendengar apa yang Puspa katakan, Samuel mengerti kalau Puspa telah mengetahui apa yang tadi telah dia ucapkan saat menghubungi Caren.


"Aku juga perempuan Sam, bagaimana bisa kamu memperlakukan Naira seperti ini. Lihat bagaimana bahagia dan harunya kedua orang tuanya? aku tidak berharap ini sama sekali darimu Sam! aku sungguh kecewa padamu!" seru Puspa dan langsung pergi terburu-buru meninggalkan Samuel.

__ADS_1


Samuel hanya bisa menghela nafasnya berat, dia tidak mungkin mengatakan kalau ini adalah pernikahan kontrak, karena dia yakin Puspa bukan hanya akan membenci Samuel bkarena hal ini tapi juga Naira yang telah setuju berkompromi dengannya.


Puspa kembali ke dalam kamar hotel, dia melihat Naira yang masih sibuk makan dan terlihat begitu tenang seperti tak tahu apapun.


Puspa duduk di depan Naira dan memberikan nya tissue karena ada saus di sudut bibirnya.


"Terimakasih!" ucap Naira sopan.


Puspa hanya tersenyum, tapi dalam hatinya dia merasa kasihan pada Naira. Karena suami dari temannya ini masih mencintai dan masih berhubungan dengan Caren, kekasih suaminya.


"Kamu menemukan nya?" tanya Naira setelah membersihkan mulutnya.


Puspa menggelengkan kepalanya.


"Tidak, biarkan lah dia kan sudah besar. Dia..!"


"Tidak akan tersesat!" sela Naira dan mereka pun terkekeh bersama.


***


Sementara itu di tempat lain.


Brakk


Pintu kamar hotel Riksa di buka dengan kasar, Riksa yang sedang berganti jas melihat ke arah pintu dan ketika mengetahui yang masuk adalah Samuel. Riksa langsung menghampiri bos nya yang terlihat frustasi itu.


"Ada apa bos?" tanya Riksa cepat


"Ck... Puspa tahu kalau aku tidak benar-benar mencintai Naira, dia tahu kalau aku masih berhubungan dengan Caren. Lakukan sesuatu Riksa, aku tidak mau dia mengatakan ini pada ibu dan ayah!" perintah Samuel pada Riksa dengan kesal dan tidak sabaran.

__ADS_1


Riksa malah terdiam dan melihat ke arah bos nya.


"Apa yang kamu cemaskan bos, dia itu Puspa!" jawab Riksa dan Samuel langsung menoleh kesal pada Riksa.


"Apa maksud mu, dia itu Puspa dan dia sangat dekat dengan ayah dan ibu ku, apapun yang dia katakan ayah dan ibu tidak perlu berfikir lagi untuk mempercayai nya!" keluh Samuel lagi.


"Kamu benar bos, karena itulah dia tidak akan mengatakan apapun pada Om dan Tante, dia sangat dekat dengan mereka. Dia menyayangi mereka, mungkinkah dia akan mengatakan sesuatu yang membuat mereka merasa sedih dan malu?" tanya Riksa pada Samuel.


Kini Samuel mulai mengerti kemana arah pembicaraan Riksa, dia benar. Puspa tidak akan mengatakan ini pada siapapun. Karena sama seperti Riksa, Puspa juga tidak ingin keluarga ini mendapat kan masalah, meskipun sekecil apapun.


Samuel kini sedikit tenang tapi dia masih merasa ada yang mengganjal dari ucapan Riksa barusan padanya.


"Tunggu, tadi kamu bilang apa? sedih dan malu?" tanya Samuel dengan wajah garang lalu memukul lengan Riksa


Plakk


"Mau ku potong gaji mu hah? kenapa bilang seperti itu?" tanya Samuel memprotes kata-kata yang dipilih Riksa tadi.


"Maaf bos tapi memang seperti itu...!"


"Heh, ku pastikan gaji mu akan ku potong!" seru Samuel lalu meninggalkan kamar Riksa.


Setelah Samuel pergi dari kamarnya Riksa hanya bisa mengusap kasar wajahnya, dia tidak kesal juga tidak marah. Dia hanya sedikit lelah, sejak kemarin malam dia bahkan belum istirahat sama sekali. Semua hal di acara ini dialah yang bertanggung jawab, dia hanya ingin memastikan semua berjalan baik dan lancar. Memang benar kata orang, hutang budi itu lebih berat menanggung nya daripada hutang yang berupa uang atau barang lainnya. Hutang ini akan membuat hati dan jiwa mu terikat sampai mati.


Dan itulah yang dirasakan oleh Riksa, Stella dan Damar menyelamatkan nya dari jalanan ketika beberapa orang memukulinya hanya karena mencuri satu buah roti dari sebuah toko di pinggir jalan. Saat itu dia memang sangat-sangat lapar. Dan saat itu tidak ada yang bisa di pikirkan oleh anak kecil berusia 7 tahun selain hanya mengambil apa yang menurut nya bisa membuatnya bertahan hidup.


Riksa mengusap wajahnya sekali lagi, ketika mengingat hal itu. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Mengingat kelam kehidupan nya dimasa lalu sebelum bertemu dengan Stella dan Damar.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2