Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
113


__ADS_3

Aku masih diam, tak tahu mana yang akan ku pilih. Tapi aku rasa sekarang keselamatan ku yang lebih penting.


Aku melonggarkan sabuk pengaman dan menyerong sedikit ke arah Samuel.


Cup


Satu ciuman mendarat di pipi kiri Samuel. Dan ternyata Samuel memang membuktikan ucapannya tadi, kecepatan mobil ini berkurang 10 km/jam.


Aku menghela nafas ku lega, tapi kurasa ini masih dalam kecepatan tinggi. Meski kami sudah masuk jalan tol tapi kurasa lebih baik jika menguranginya lagi.


Aku melakukan hal yang sama seperti tadi dan kembali akan mencium pipi Samuel. Tapi ketika aku mulai maju dia malah menoleh dan membuat ku malah mencium bibirnya, aku terkesiap dan langsung mundur.


"Maaf mas, tadi itu aku mau cium pipi! aku sungguh tidak sengaja. Jangan di tambah ya hutang ku!" ucap ku panik.


Samuel terlihat mengernyitkan dahinya. Lalu tersenyum menyeringai.


"Baguslah kamu masih ingat, jadi sekarang hutang mu mungkin sekitar tujuh ratus juta kepadaku!" ucapnya santai.


Mataku membelalak lagi, aku rasa nyaris keluar. Lima ratus juta saja aku sudah berfikir untuk bekerja seumur hidup, bagaimana dengan tujuh ratus juta. Lutut ku mendadak lemas dan aku langsung bersandar di sandaran kursi.


Aku hanya diam, setelah itu. Aku sungguh takut membuat masalah lagi. Hutang sebanyak itu meskipun aku menjual perhiasan yang di berikan ibu Stella juga masih kurang.


Aku bahkan sudah tidak perduli meski kecepatan mobil ini masih di antara 80km/jam. Aku sudah tidak perduli lagi setelah mendengar jumlah hutang ku sekarang.


"Kenapa diam?" tanya Samuel.


'Pakai nanya lagi, siapa juga yang gak bakalan syok denger hutangnya nambah segitu banyak!' omel ku dalam hati.


Aku tidak menjawab, aku takut salah bicara lagi. Sampai beberapa saat kemudian kami sudah keluar dari jalan tol dan tiba di area parkir sebuah mall yang cukup besar. Samuel keluar dari mobil, dan aku juga mengikuti nya meskipun lutut ku masih lemas.


"Ayo masuk!" ajak Samuel dan berjalan di depan ku.


Aku hanya mengikutinya dari belakang, saat kami berjalan ke arah lift yang baru saja terbuka, kami di kejutkan dengan pemandangan yang ada di depan kami. Sepasang muda-mudi di dalam lift itu sedang mempraktekkan adegan Rose deWitt dan Jack Dawson saat berdiri di depan kapal itu di dalam lift.


"Astaga... ups!" aku langsung menutup mulutku dengan cepat karena refleks mengucapkan kata itu.


Dan dua orang itu langsung menghentikan aksinya dan berlari keluar dari dalam lift. Si pria bahkan meninggalkan si wanita yang masih membenahi pakaiannya.

__ADS_1


Samuel hanya berdecak lalu masuk ke dalam lift dan aku mengikuti nya. Samuel menekan tombol yang bertuliskan angka 7, seperti nya dia sudah tahu akan membawaku membeli pakaian dimana.


"Lain kali jangan mengganggu kesenangan orang lain!" celetuk Samuel membuat ku terkejut dengan apa yang dia katakan.


"Maaf mas, aku tidak sengaja!" ucap ku pelan.


"Lagi pula anak jaman sekarang, apa mereka tidak tahu tempat melakukan hal seperti itu, mengotori fasilitas umum saja!" omelnya kemudian.


Dan inilah Samuel yang aku kenal, sikap arogan tidak perduli pada orang lain. Yang tadi itu bukan dia.


Ting


Pintu lift terbuka, dan Samuel langsung menarik ku keluar dari dalam lift. Dia menggandeng kan tangan ku di lengannya. Aku lumayan kaget karena hal ini.


Dan sepanjang perjalan juga banyak orang yang melihat ke arah kami, sampai kami tiba di sebuah toko pakaian yang sangat besar dengan merek yang kurasa sangat terkenal.


"Selamat datang tuan Samuel Virendra!" sapa para pelayan toko dengan sangat ramah.


"Selamat datang nyonya...!"


Aku sempat tertegun saat Samuel mengatakan itu. Dan setelah mendengar perkataan Samuel itu, pelayan toko pakaian itu langsung bersikap sangat ramah padaku.


Samuel meminta mereka mengeluarkan pakaian untukku, untuk acara tidak resmi lalu meminta beberapa setel pakaian biasa. Dia juga meminta ku mencobanya satu persatu. Aku melakukan apa yang di perintahkan oleh Samuel, tapi aku tidak menduga kalau akan sangat melelahkan.


Masalahnya adalah dua puluh setel pakaian harus aku coba. Ini bahkan sudah satu jam lebih.


"Mas, tidak usah beli banyak-banyak kan aku hanya menginap lima hari di...!"


"Siapa bilang akan kamu bawa semuanya ke rumah ayah, hanya dua yang akan kamu bawa ke rumah ayah mu. Sisanya akan aku minta toko ini mengirim ke rumah ku!" jelas Samuel membuat ku hanya bisa menghela nafas panjang saja.


Setelah selesai dengan pakaian, Samuel mengajakku untuk makan siang di restoran yang letaknya tak jauh dari tempat kami berada.


'Ini perasaan ku saja, atau dia memang sengaja mengulur-ulur waktu sih?' tanya ku dalam hati.


Masalahnya aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria di depan ku ini. Dia bahkan meminta layanan ekslusif, menjeda appetizers ke main course selama setengah jam, apa maksudnya itu.


Sejak tadi juga dia terus sibuk dengan ponselnya. Aku tidak tahu apalagi yang dia rencanakan, tapi aku punya firasat buruk tentang hal itu.

__ADS_1


Restoran ini memang sangat mewah, menu pembukanya saja sudah si hidangkan dengan salad sayuran dan juga sebuah kerang yang ukurannya sangat besar, hingga meskipun hanya satu piece saja rasanya sudah lumayan berasa. Dan makanan itu memang enak sekali, terlihat berminyak, tetapi saat dimakan tidak meninggalkan minyak dalam mulut, sama sekali tidak berminyak. Luar biasa.


Lalu setengah jam kemudian makanan utama atau main course tiba, dan para pelayan meletakkan nya di atas meja. Satu piring besar dengan completed meals di dalamnya. Tapi sayangnya hanya ada kentang dan tidak ada nasi. Aku rasa tetap saja ada yang kurang kalau tidak ada nasinya.


Saat aku makan, Samuel bahkan masih sibuk dengan ponselnya. Tapi kalaupun aku bertanya pasti dia tidak menjawab ku jadi biarkan sajalah.


Satu jam lebih kami habiskan hanya untuk makan siang, setelah selesai Samuel langsung mengajak ku untuk pulang.


"Sudah tidak ada yang ingin kamu beli kan?" tanya nya padaku dan aku menggelengkan kepala.


"Baiklah, kita pulang ke rumah ayah!" ucapnya.


Aku agak heran dengan kalimatnya barusan, apa maksudnya dengan kita. Kan hanya aku yang akan pulang.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di gang tempat rumah ayah ku berada. Aku senang sekali karena bisa kembali melihat suasana ramai di sekitar komplek perumahan. Di tempat Samuel itu, meskipun juga perumahan tapi jarak rumah satu dengan yang lain sangat jauh, tidak bisa keluar mengobrol dengan tetangga, beda dengan di sini. Buka jendela saja sudah bisa ngerumpi sama tetangga.


Samuel menghentikan mobilnya di tepi jalan depan rumah ayah. Aku terkejut saat turun dari mobil, beberapa orang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam rumah, dan sebuah tempat tidur sudah di keluarkan dari dalam rumah, aku tambah kaget karena tempat tidur itu sangat aku kenal. Itu tempat tidur ku. Apakah ayah mau mengusir ku? itulah yang terpikirkan oleh ku.


Aku langsung berjalan masuk meninggalkan Samuel, aku melihat ayah di dekat pintu.


"Assalamualaikum ayah!" sapa ku lalu mencium tangan ayah ku.


"Waalaikumsalam nak, kalian sudah datang. Ayah sudah membereskan kamar kalian! ayo masuk!" ucap ayah ku sambil menghampiri Samuel.


"Nak Samuel, ayo masuk!" ucapnya setelah Samuel melakukan hal yang sama dengan ku yaitu menyalimi ayah ku.


"Ayah, sudah menyiapkan kamar kalian sesuai dengan permintaan nak Samuel, agar nak Samuel betah dan nyaman tinggal disini!" ucap ayah lagi.


Aku terkejut lalu segera melihat ke arah Samuel.


"Mas, juga akan menginap disini?" tanya ku menahan kesal.


"Tentu saja, ini juga kan rumah ku!" balasnya santai dan masuk ke dalam rumah mengikuti ayah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2