
Suasana berbeda terasa sekali siang ini. Di meja makan yang biasanya hanya ada aku, ayah, ibu dan Ibras. Kini makin ramai dengan adanya ibu Stella, Samuel dan juga pak Urip.
Aku sungguh kagum pada ibu Stella, meskipun pak Urip itu hanya supir nya. Tapi dia benar-benar memperlakukan pak Urip seperti keluarganya sendiri.
Kami makan siang bersama dengan lauk ayam geprek dan juga sambal goreng buatan ibu di tambah dengan lalapan segar. Yummy, makan siang hari ini benar-benar terasa sangat lezat.
Setelah makan siang, ibu Stella berpamitan kepada keluarga ku karena dia mendapatkan telepon penting dan harus segara pulang. Dia meminta pak Urip mengantarkan nya.
Tadinya si lidah tajam juga mau pulang, tapi ibu Stella memaksa nya untuk tunggal sampai pak Urip kembali lagi.
Ayah dan ibu juga sudah akan pergi ke rumah saudara-saudara kami untuk mengantarkan undangan pernikahan yang tadi di berikan oleh pak Urip pada mereka. Sedangkan Ibras memilih untuk belajar di dalam kamarnya atau bermain game kurasa.
"Ayah dan ibu pergi dulu. Nak Samuel jangan sungkan-sungkan ya, anggap saja rumah sendiri!" seru ayah ku sebelum pergi dengan mengendarai motor antik nya bersama dengan ibu.
Aku juga hanya terdiam dan memilih untuk duduk yang paling jauh dari tempat duduk Samuel.
"Namamu benar hanya Naira putri saja kan?" tanya nya memecah keheningan di ruang tamu rumah ku ini.
"Iya!" jawab ku singkat.
"Baguslah, akan sangat mudah mengucapkan nya saat ijab qobul nanti!" lanjutnya lagi.
Dan suasana kembali lagi menjadi hening. Aku melihat ke arah nya yang sejak tadi terus sibuk dengan ponselnya. Aku melihat ke arah meja. Dan aku rasa aku harus membuatkan minuman untuknya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya ku pelan padanya.
Namun dia sama sekali tidak menghiraukan aku dan apa yang aku katakan, rasanya kesal sekali.
"Hei, aku bertanya padamu!" ucap ku lagi dan kali ini aku berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Apa!" ucap nya ketus.
"Aku harus panggil kamu apa?" tanya ku.
Selama ini aku hanya panggil dia tuan dan hei, tapi kalau di depan orang tua ku atau orang tuanya aku tidak tahu aku harus panggil dia dengan sebutan apa.
__ADS_1
Samuel terdiam sebentar, sepertinya dia sedang berfikir.
"Begini saja, kalau kita sedang berdua atau di depan Riksa kamu bisa panggil aku Tuan, dan kalau di depan orang tua ku atau orang tua mu, maka kamu panggil saja aku mas!" jelas nya.
"Pffftt!" aku ingin tertawa tapi sekuat tenaga aku menahan agar itu tidak kulakukan. Atau dia akan marah dan jumlah hutang ku pasti akan bertambah.
Tapi mendengar apa yang dia katakan barusan itu benar-benar membuat ku geli dan ingin tertawa.
'Apa katanya mas, mas Samuel, mas Sam..!' batin ku mencoba mempraktekkan nya.
Untungnya dia masih sibuk dengan ponselnya jadi, dia tidak memperhatikan ekspresi ku.
"Coba kamu praktek kan sekarang!" ucap nya tiba-tiba membuat ku terkesiap.
'Ih udah ngagetin, ngomongnya gak pake nengok pula!' batin ku kesal.
"M..mas..!
"Bukan yang itu, panggilan tuan saja. Itu akan lebih enak di dengar di telinga ku!" selanya.
'Apa dia bilang?' tanya ku kesal.
"Tuan!" ucap ku dengan nada malas. Aku bahkan memutar bola mataku jengah saat mengatakan kata itu.
Dia terlihat melirik sekilas dan aku langsung bersikap wajar.
"Ulangi!" perintah nya sambil meletakkan ponselnya di saku jas nya dan menatap ku dengan tajam.
'Huh, bukan hanya lidah nya yang tajam, tatapannya juga tak kalah tajam, lalu apa lagi yang tajam?' tanyaku dalam hati.
"Tuan!" ucap ku lagi. Kali ini ku buat agak lebih lembut.
"Lumayan!" sahutnya acuh.
"Tuan mau minum apa?" tanya ku sopan padanya. Sebenarnya pura-pura sopan. Karena aku kesal sekali dengannya.
__ADS_1
"Kopi saja, cepat ya. Sepertinya aku mulai haus!" ucapnya dan aku segera berdiri dan berjalan menuju dapur.
Di dapur aku sempat berfikir untuk mengganti gula yang akan ku masukkan ke dalam cangkir kopi, dengan garam. Tapi setelah ku pikir lagi, aku tidak bisa melakukan itu. Karena kalau dia marah, apa yang akan dia lakukan? tentu saja tak lain tak bukan adalah menambah jumlah hutang ku yang tak mungkin bisa ku bayar meskipun aku lima tahun kerja di toko buku ko Acong.
Aku keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi panas di tangan ku. Setelah tiba di ruang tamu, aku letakkan cangkir dan tatakan nya itu di atas meja tamu di hadapan Samuel.
"Pakai air mendidih?" tanya nya.
Aku mengangguk cepat.
"Iya, apa tuan tidak lihat asapnya yang mengepul itu!" jawab ku.
"Kalau begitu bagaimana aku bisa cepat meminumnya?" tanya nya padaku.
Aku jadi bingung.
"Tapi tuan, kalau kopi memang harus diseduh dengan air mendidih, kalau hanya dengan air hangat saja perut tuan bisa kembung!" jelas ku. Aku tahu hal itu dari ibu ku.
"Yang menyuruh kamu pakai air hangat juga siapa?" tanya nya lagi.
Aku makin di buat bingung, jadi aku harus bagaimana? dia seperti nya sedang sengaja mencari keributan dengan ku atau bagaimana sih? aku bingung.
"Aku tidak mau tahu ya, kurang dari satu menit. Kopi ini sudah harus bisa aku minum!" serunya.
Aku terkesiap, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan? apa aku tiup saja? tidak, itu akan membuatnya marah, kalau aku meniupnya itu artinya aku memberikan udara dari mulut ku, dia ini sangat mencintai kebersihan, itu sungguh akan berakibat fatal jika aku lakukan.
"Apa aku beri es batu saja?" tanya ku padanya ragu tapi mang hanya itu yang terpikir oleh ku di kepala ku.
"Apa kamu ini tidak pernah sekolah, gelas saja bisa pecah kalau di beri air panas lalu di beri es, bagaimana dengan lambung manusia!" seru nya.
Dan raut wajah nya sudah semakin kesal, tapi apa yang dia katakan itu memang benar, gelas saja bisa pecah bagaimana dengan lambung manusia. Aku beranjak dari kursi, lalu masuk ke dalam kamar ku.
Sebuah ide yang aku juga tidak tahu ini merupakan ide yang brilian atau tidak. Tapi aku akan mencobanya agar tahu hasilnya. Aku mengambil sebuah kipas yang biasa aku gunakan untuk mengipasi tubuh ku saat mati lampu, maksud ku listrik padam.
"Tara, dengan ini bisa kan?" tanya ku sambil mengipasi kopi panas yang ada di atas meja.
__ADS_1
***
Bersambung...