Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
11


__ADS_3

Aku masih menatap ayah dan ibu bergantian ketika Adik lelaki ku satu-satunya ini menambah bumbu kemarahan pada ibu ku.


"Kak Naira sengaja kali Bu, kan Ibras dengar tetangga. Kalau pacar kak Naira itu orang kaya, mungkin dia gak mau ngenalin pacarnya itu karena takut ibu bakalan minta macem-macem terus akhirnya kak Nai putus..."


Plakk


Ibras mengaduh kesakitan karena lengannya di pukul cukup keras oleh ibu. Aku terkekeh melihatnya, aku tidak bisa menahannya. Aku juga tahu bagaimana panasnya tangan ibu saat memukul. Niatnya mengompori ibu agar mengomel dan marah padaku, malah berbalik membuatnya terkena pukulan itu.


"Bisa diem dulu gak, anak kecil masuk kamar aja sana!" bentak ibu pada Ibras


Aku tahu ibu sedang dalam mode serius, karena biasa nya dia akan sangat berkata lembut dan memanjakan Ibras.


"Maaf Bu!" ucap Ibras pelan. Dan aku juga tahu kalau adikku ini selalu bisa menenangkan ibu dan membuat emosi ibu mereda.


"Kenapa malah diam saja Nai?" tanya ibu lagi.


Apa yang harus aku katakan, bagaimana menceritakan sesuatu yang memang tidak pernah terjadi. Aku tidak pandai untuk melakukan itu. Apa aku katakan saja kebenaran nya pada ayah dan ibu, kalau aku menandatangani kontrak pernikahan dengan si lidah tajam itu.


'Tidak, ayah dan ibu akan sangat marah dan mungkin mereka akan mengusir ku!' batin ku.


Aku masih terdiam dan meremas kedua telapak tangan ku yang jarinya saling bertaut. Namun saat aku tengah kebingungan dan tidak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba...


"Selamat malam!" ucap sebuah suara dari arah depan rumah, yang ku yakini itu adalah suara seorang pria. Karena suaranya terdengar besar dan berat.


Dan seperti nya aku juga tidak asing dengan suara itu.


"Siapa ya yah?" tanya ibu ku menoleh ke arah ayah.

__ADS_1


Ayah menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak tahu juga Bu, ayo kita lihat dulu!" ajak ayah pada ibu.


Ayah dan ibu berdiri lalu melangkah menuju ke arah pintu. Aku dan Ibras saling pandang, aku mendekatinya lalu memukul lengannya.


Plakk


"Heh sumbu kompor, bisa gak bakat ngompor-ngomporin kamu tuh gak usah di praktekkin di rumah! kalau sama kakak sendiri kamu ngajak perang, mau koalisi sama siapa kamu?" tanya ku pada Ibras. Aku jadi merasa sangat diplomatis saat mengatakan kalimat itu pada adik ku satu-satunya ini yang senang sekali melihat orang lain susah. Mungkin dia akan susah kalau melihat orang lain senang.


Dan tentu saja, itu adalah sebuah sikap yang tidak baik. Entah darimana dia mempelajari nya. Tapi aku takut kalau suatu saat dia berhadapan dengan orang yang salah, maka hal tidak baik akan terjadi padanya.


Aku masih mengomeli Ibras, ketika ibu memanggil ku dari arah ruang tamu. Rumah ku ini tidak terlalu besar, jadi aku bisa mendengar panggilan ibu, meskipun itu bukan sebuah teriakan.


"Naira!" panggil ibu.


Aku mengacuhkan sikap nya itu dan berjalan delapan langkah sampai langkah ku terhenti melihat sosok pria tinggi putih yang sedang berdiri bersama ayah dan juga ibu.


"Silahkan duduk nak Samuel!" seru ibu dengan sangat ramah. Dia bahkan belum pernah bicara selembut itu pada Mini ataupun Harus saat mereka main ke rumah ku ini.


Samuel duduk di tempat yang di persilahkan oleh ibu. Ayah dan ibu juga. Lalu Riksa yang baru tiba membuat kami semua menoleh ke arahnya.


"Selamat malam tuan dan nyonya, bos ini barang-barang nya!" serunya sambil memberi kan beberapa paper bag pada Samuel.


"Nai, duduk!" seru ibu yang membuat ku mengalihkan pandangan ku dari beberapa paper bag yang Samuel letakkan di atas meja.


Aku duduk di samping ayah, dan melihat ke arah Riksa yang menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan saat melihat ku. Aku malas melihat ke arah si lidah tajam.

__ADS_1


"Ayah, ibu. Ini ada hadiah untuk kalian. Maaf karena seharusnya tadi siang saya berikan!" seru si lidah tajam sangat lembut.


'Setidaknya dia tidak ketus dan kasar pada orang tua!' batin ku menatap nya datar.


"Tidak usah repot-repot nak Samuel, semua ini tidak perlu!" tegas ayah ku.


Dan jujur saja aku sangat menyukai sikap dan ketegasan ayah ku itu.


"Saya mohon agar ayah dan ibu menerimanya. Ini kali pertama saya menemui kalian ayah dan ibu Naira, gadis yang paling saya cintai!" tambahnya lagi.


Dan dia melihat ke arah ku serta tersenyum. Aku terkesiap kaget, entah kenapa aku malah ingin muntah daripada senang melihat senyuman nya yang sebenarnya membuatnya semakin tampan saja.


"Dan kedatangan saya kemari juga bermaksud untuk menjelaskan tentang hubungan saya dan juga Naira. Saya yakin jika ayah dan ibu pasti akan bertanya kepada Naira, kenapa selama menjalin hubungan dengan saya selama empat bulan. Tapi belum pernah mengenalkan saya pada kalian." ucap nya dan apa yang dia katakan seperti nya membuat ayah dan ibu tertarik untuk mendengarnya.


"Pertama kali saya bertemu dengan Naira adalah ketika saya membeli buku di toko buku tempat dia bekerja, dan saat itu dompet saya tertinggal. Dan apa ayah dan ibu tahu, kalau Naira bahkan rela mengantarkan dompet itu ke rumah saya. Bahkan tidak mengambil sepeser pun dari dalamnya." ucap nya panjang lebar.


Aku mengernyitkan dahi mendengar ceritanya, aku melihat ke arah Riksa dan ekspresi nya nampak biasa saja. Aku melihat ke arah ayah dan ibu, sepertinya mereka benar-benar percaya pada apa yang diceritakan Samuel. Mata mereka berkaca-kaca saat melihat ke arah ku.


"Aku ingin memberikan nya hadiah, namun dia menolak. Dan saat aku mengantar nya keluar rumah. Aku lihat dia bahkan hanya menaiki sepeda saat ke rumah ku. Padahal jarak dari toko buku ke rumah sangat jauh. Aku jadi sangat bersimpati padanya. Dan keesokan harinya aku ke toko buku itu lagi untuk bertukar nomer dengan nya! dan sejak itulah hubungan kami mulai terjalin. Benarkan, sayang?" tanya nya padaku. Karena dia menoleh dan tersenyum padaku.


Aku melihat ke arahnya dan Riksa bergantian, aku melihat Riksa mengangguk. Dan entah kenapa aku jadi ikut refleks mengangguk. Astaga, aku benar-benar sudah masuk dalam sandiwara nya.


Aku rasanya ingin angkat topi padanya, dia bisa menciptakan kisah yang bahkan tidak pernah terjadi. Dan dia mengatakan nya dengan sangat berekspresi. Dia ini sungguh aktor yang berbakat. Sayangnya dia tidak memilih profesi itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2