Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
143


__ADS_3

Samuel kembali lagi pada mode dingin dan acuhnya, dan aku kembali pada mode hanya diam dan mendengarkan serta menuruti apapun yang dia katakan dan juga perintahkan.


Setelah dia kembali dari luar kamar, yang entah pergi kemana aku pun tak tahu. Dia semakin dingin dan acuh. Aku sudah menyiapkan pakaian yang akan dia gunakan di atas tempat tidur, kemeja hitam dengan dasi gold. Karena itulah dress code nya untuk menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan tuan Thomas.


Gaun ku juga berwarna gold, dengan aksen hitam sedikit. Gaun ini juga dia yang pilihkan saat kami belanja di butik.


Setelah kami berganti pakaian, dia bahkan tidak berbicara atau memintaku untuk ikut dengannya. Dia hanya membuka pintu kamar dan berdiri di ambang pintu itu, aku menoleh ke arahnya. Dia bahkan tidak memandang ke arah ku. Bukan berharap di puji atas penampilan ku malam ini. Tapi tidakkah, dia perduli untuk melihat ada kekurangan dalam penampilan ku atau tidak ketika harus mendampingi nya ke acara besar seperti itu.


Setelah menghela nafas aku meraih tas tangan ku dan berjalan ke arah pintu, karena sudah terbiasa menggunakan high heels sekarang aku sudah tidak kaku lagi saat berjalan. Sua memang bisa karena terbiasa.


Aku mendekati pintu dan dia pun menjauh dari pintu. Berjalan pelan ke arah luar. Rasanya benar-benar tidak nyaman seperti ini. Jujur saja aku lebih suka sikapnya ketika marah-marah tapi masih mau bicara padaku. Daripada sikapnya yang diam seperti ini dan mengacuhkan apapun yang aku lakukan.


Kami sudah tiba di depan lobi dan menunggu mobil yang akan mengantar kami ke acara perayaan ulang tahun pernikahan tuan Thomas.


"Wah, kalian juga baru mau berangkat?" terdengar sebuah suara dari arah belakang.


Aku langsung menoleh ke belakang dan benar saja Kenzo dan Caren yang ada di belakang kami. Berbeda dengan kami yang berdiri berjauhan, Kenzo dan Caren nampak sangat dekat, dengan Caren yang terus menggandeng lengan Kenzo. Tapi wajah Caren terlihat sedih dan tertekan, senyumnya pun terlihat di paksakan.


'Dia ini sedang bersandiwara atau apa sih?' tanya ku dalam hati.


Aku langsung menoleh ke arah Samuel, dan hatiku merasa sedih ketika pandangan Samuel pada Caren sangat intens. Bahkan matanya tampak sendu, seperti sangat kasihan pada wanita yang dulu pernah sangat dia cintai tapi saat ini sudah menjadi tunangan dari pria lain.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita berangkat bersama, akan terlihat oleh tuan Thomas kita sangat akrab, dan dia akan semakin yakin kita berdua bisa bekerja sama dengan baik. Benarkan Sam?" tanya Kenzo.


Aku sebenarnya tidak suka satu mobil dengan mereka, bukan karena takut akan diketahui oleh mereka bahwa hubungan ku dengan Samuel sedang tidak baik alias perang dingin. Tapi aku lebih tidak suka Samuel terus memandang ke arah Caren. Rasanya tidak ingin seperti itu saja. Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi aku benar-benar sangat tidak suka.


"Baiklah, ide bagus?" jawab Samuel.


Aku malah terkejut mendengar jawaban Samuel, setahu ku dia kan tidak suka dengan Kenzo tapi kenapa malah menerima ajakannya untuk satu mobil.


Akhirnya kami berempat berada di dalam satu mobil yang sama. Pandangan Samuel terus terarah pada Caren yang selalu menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia melakukan itu, tapi aku yakin dia hanya ingin menarik simpati dari Samuel. Karena Samuel meskipun sudah teramat sakit hati pada perempuan itu, tapi dia masih perduli padanya.


"Nyonya Virendra malam ini sangat cantik dan menawan!" seru Kenzo membuka suara dan melenyapkan keheningan yang sejak dari hotel tadi tercipta di dalam mobil ini.


Aku menoleh ke arah Samuel saat Kenzo mengatakan pujian itu, tapi tidak ada ekspresi yang ditunjukkan oleh Samuel. Dia masih fokus pada Caren. Aku rasanya ingin keluar saja dari sini.


Aku hanya mengangguk dan mengulas sedikit senyum setelah Kenzo memuji penampilan ku. Aku pun tak berharap Samuel yang mengatakan nya, tapi setidaknya dia bisa membela ku kan. Tapi ini tidak, dia malah terus melihat ke arah Caren.


"Aku dengar tadi siang kalian pergi berjalan-jalan, apa kalian akan pulang setelah ini atau melanjutkan bulan madu kalian?" tanya Kenzo lagi.


'Aih, aku harus jawab apa? mana aku tahu Samuel akan melakukan apa? kemarin dia memang bilang akan menginap lebih lama untuk bulan madu, tapi kan sekarang dia marah. Dia ini tipikal orang yang bertindak sesuai mood dia, jadi mungkin saja setelah acara malam ini dia akan mengajak ku pulang langsung tanpa menginap lagi di hotel!' batin ku.


"Naira, kenapa kamu diam saja? apa kamu sedang tidak sehat?" tanya Kenzo lagi.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat dan baru akan membuka suara, ketika Samuel sudah lebih dahulu menyela.


"Kenapa aku lihat, tuan muda Hasigawa ini begitu perduli pada istri orang lain ya? Seharusnya tuan muda Hasigawa lebih memperhatikan tunangan mu, tadi siang dia pingsan di depan lift. Karena penyakit anemia nya kambuh, seharusnya tuan lebih memperhatikan wanita tuan!" seru Samuel.


"Kenapa aku harus cemas, kan ada sahabat ku yang mengantarkan tunangan ku ke klinik, bahkan membelikan nya banyak vitamin, bahkan menggendongnya, lalu apa yang harus ku khawatir kan?" tanya Kenzo memberikan tatapan tajam pada Samuel.


Deg


Jadi tadi siang itu setelah tidak jadi makan siang di kamar. Dia keluar dan menggendong Caren ke rumah sakit.


'Huh, sabar Nai sabar. Ini ujian, kalau perlu pura-pura saja tidak pernah mendengar semua yang mereka berdua katakan!' gumam ku dalam hati.


Tapi saat aku sekilas melihat ke arah Caren, dia tersenyum sambil menundukkan kepala. Aku bisa melihatnya, jadi ini artinya apa? apa mereka punya niat tidak baik pada Samuel.


Tapi kalau aku katakan agar Samuel waspada, apa dia percaya padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Setelah kalimat yang terlontar dari Kenzo, Samuel langsung terdiam. Dan akhirnya suasana hening kembali terjadi di dalam mobil dimana kami berempat berada. Hingga tiba di depan hotel acara, kami masih saling diam. Aku keluar sendiri, aku tidak menunggu Samuel membukakan pintu, karena aku yakin dia tidak akan melakukan itu. Tapi saat aku keluar Samuel ada di depan pintu mobil yang aku buka.


"Ck... kenapa tidak menunggu ku membukakan pintu mobil untuk mu? ingin terlihat aku ini benar-benar buruk di mata orang lain?" bisik nya padaku tapi penuh dengan penekanan.


'Huh, salah lagi!' gumam ku dalam hati.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2