Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
248


__ADS_3

Awalnya Jonathan bersikeras untuk membawa kasus ini ke polisi. Namun atas permintaan Puspa, kasus ini akhirnya di akhiri dengan damai. Puspa bahkan meminta kepada Riksa untuk mengantarkan nya ke makam Fika meskipun Riksa berusaha meminta agar Puspa istirahat dulu, tapi Puspa tidak mau dengar dan memaksa Riksa mengantarnya saat itu juga.


Samuel mengantar ibu Jamilah dan pak Nasrul pulang karena ada hal yang ingin di sampaikan Samuel pada mereka berdua.


Sementara Jonathan, Riksa menghubungi anak buahnya dan meminta anak buahnya mengantarkan Jonathan pulang kembali ke kediaman nenek Arumi.


Sepanjang perjalanan menuju ke arah makam Fika, Puspa tak henti-hentinya menangis. Dia menyesali apa yang sudah terjadi.


Riksa memegang erat tangan Puspa dan berkata padanya.


"Ini bukan kesalahan mu, jangan terus menyalahkan dirimu!" ucap Riksa dengan suara lembut.


"Aku yang memaksa pak Nasrul dan ibu Jamilah memindahkan Fika ke rumah sakit itu, seandainya aku tidak bersikeras begitu, pasti sekarang Fika masih baik-baik saja meskipun dia koma, seandainya aku tidak menuruti saran ibu untuk mematikan ponsel ku, hingga pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi ku, seandainya saat melakukan perawatan wajah itu aku tidak memakai headset semua ini tidak akan terjadi!" ucap Puspa dengan tangisan pilu yang tak kunjung reda.


Riksa yang melihat sang kekasih sedih sekali seperti itu juga merasa hatinya sakit dan perih. Setelah tiba di malam Fika, Puspa bersimpuh dan memeluk pusara gadis yang selalu memanggil nya kak Puspa itu, Puspa menangis sejadi-jadinya ketika mengingat masa masa yang dia lalui bersama dengan gadis yang selalu ingin menjadi seperti dirinya itu. Fika selalu bilang ingin sekolah yang tinggi supaya bisa jadi orang sukses seperti dirinya. Tangis Puspa kembali mengalir dengan sangat deras ketika dia mengingat setiap senyuman Fika, dan setiap perkataan Fika padanya.


"Fika... maafkan kakak. Semua ini salah kakak! semua ini salah kakak Fika!" lirih Puspa sambil memeluk pusara Fika hingga wajah cantiknya sudah banyak sekali tanah yang menempel.


Riksa mengusap wajahnya yang juga sudah meneteskan beberapa tetes air mata dari sudut matanya. Riksa tahu kalau Puspa sangat baik pada semua asisten rumah tangga nya, karena mereka lah yang menemani Puspa setiap harinya, ketika orang tua dan keluarga nya yang lain tinggal di luar negeri.

__ADS_1


Riksa juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia memilih untuk membiarkan Puspa mencurahkan segala kesedihan dan penyesalan nya di atas pusara Fika. Riksa hanya sesekali membenarkan jasnya yang sudah dia pakaikan pada Puspa tiap kali jas itu turun atau bahkan terlepas dari pundak Puspa.


Sementara itu di kediaman pak Nasrul. Semua orang yang ikut dengan pak Nasrul saat menculik Puspa sudah kembali ke rumah masing-masing. Samuel hanya bersama dengan pak Nasrul dan juga Bu Jamilah di ruang tamu di rumah pak Nasrul.


"Saya mengerti apa yang pak Nasrul dan ibu Jamilah rasakan, tapi jalan yang kalian ambil ini apa kalian berpikir bagaimana perasaan Fika yang meskipun sudah tidak bersama kita tapi pasti dia masih bisa melihatnya dari atas sana?" tanya Samuel dengan suara yang pelan namun penuh penekanan sangat dalam.


Sehingga apa yang Samuel katakan itu benar-benar bisa masuk langsung ke dalam hati pak Nasrul dan ibu Jamilah, membuat dua orang tua yang wajahnya sudah pucat dan terlihat sangat lelah itu kembali meneteskan air mata kesedihan mereka.


"Kalian akan mengakhiri hidup kalian dengan cara seperti itu, apa kalian pikirkan bagaimana Puspa saat ini? dia sama sekali tidak tahu semua yang terjadi pada kalian, bukan sengaja tidak ingin tahu, tapi dia memang tidak tahu. Apa kalian pikir kalau dia tahu dia akan diam saja? kalian yang lebih mengenal Puspa mungkin daripada aku sahabat nya, kalian seharusnya tahu siapa yang paling merasa sedih, terpukul, kecewa, menyesal dan kehilangan seperti kalian, dia adalah Puspa!" tambah Samuel yang semakin emosional pada kondisi ini.


Dia juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Puspa kalau dia terlambat datang sedikit saja. Satu-satunya wanita yang bisa menjadi sahabat nya karena Puspa memang sangat jujur dan tulus orangnya, dia juga tidak akan bisa menerima kalau hal buruk terjadi pada Puspa.


"Semua sudah terjadi, saya juga minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Saya sudah mempunyai rencana, setidaknya ini akan menjadi jalan amal bagi Fika. Walaupun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia akan tetap di kenang oleh orang-orang yang pernah mengenalnya!" ucap Samuel dengan wajah serius.


Pak Nasrul mengangkat kepalanya, melihat ke arah Samuel.


"Ijinkan saya membangun sebuah panti asuhan dengan nama Fika. Di panti itu saya, Riksa dan juga Puspa akan menjadi donaturnya. Kalian tidak akan merasa kesepian, akan ada banyak anak-anak yang sebaik dan semanis Fika disana nanti. Kalian bisa merawat mereka seperti kalian merawat Fika. Setidaknya Fika akan merasa lebih tenang kalau kedua orangtuanya menghabiskan sisa hidup dengan seperti itu, dibanding membalas dendam!" ujar Samuel.


Pak Nasrul malah tambah tersedu-sedu mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Samuel. Untuk sejenak dia benar-benar merasa seperti orang jahat, sejenak tidak ada hal lain yang dia pikirkan selain membalas perbuatan Mega pada nya dan putrinya.

__ADS_1


Pak Nasrul bersimpuh di kaki Samuel, namun Samuel langsung meminta pria paruh baya itu bangun dan memeluknya.


"Pak Nasrul harus kuat, setidaknya kuat lah untuk ibu, pak!" seru Samuel pelan di telinga pak Nasrul.


Pak Nasrul pun tertegun, bahkan hal sepenting itu dia lupakan, apa yang di katakan Samuel benar. Seharusnya dia menjadi tumpuan hidup Jamilah setelah Fika tidak ada. Tapi apa yang dia lakukan? bahkan dia malah akan mengajak istrinya itu mengakhiri hidup mereka bersama. Pak Nasrul lalu memeluk ibu Jamilah dan meminta maaf. Samuel menghela nafas lega meskipun dadanya juga masih merasa sesak akibat kelakuan dari ibu kandung Puspa itu.


Sementara itu, hari sudah semakin pagi. Tapi Puspa masih enggan beranjak dari makam Fika. Tampak wajahnya sudah pucat.


Riksa yang juga ikut duduk di tanah di sebelah Puspa mengusap kepala Puspa dengan lembut.


"Sayang, kita pulang dulu ya! kamu butuh istirahat!" ucap Riksa lembut berusaha membujuk Puspa agar mau pulang.


"Pulang kemana Riksa?" tanya Puspa yang mengangkat kepalanya dan menatap Riksa.


Riksa tersentak, dia tidak menyangka kalau Puspa benar-benar sakit hati dan kecewa pada ibunya hingga sudah menganggap rumah itu bukan rumahnya lagi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2