
Naira menghampiri Samuel di dalam kamarnya, dia merasa sangat bersalah dan sangat tidak enak hati pada suaminya itu. Samuel sedang menyisir rambut ketika Naira masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas, aku minta maaf ya. Karena keinginan ku mas harus kesusahan di pasar!" ucap Naira yang berdiri di dekat Samuel dan menundukkan kepalanya karena benar-benar merasa sangat tidak enak pada suaminya itu.
Samuel kemudian meletakkan sisir yang tadi dia gunakan kembali di atas meja rias. Samuel menyentuh pipi Naira dengan lembut dan membelai nya lembut.
"Sayang, kenapa bicara begitu. Aku sangat mencintaimu dan juga calon anak kita. Aku akan berusaha mewujudkan apapun keinginan mu dan anak kita, sudahlah sekarang ayo ajari aku membuat makanan yang kamu mau tadi apa namanya?" tanya Samuel yang sengaja pura-pura lupa nama makanan yang Naira inginkan agar istrinya itu bicara dan tidak merasa bersalah lagi.
Naira mengangkat kepalanya dan mendongak ke arah Samuel.
"Namanya gado-gado mas!" jawab Naira dengan masih sedikit merasa bersalah.
Samuel langsung merangkul Naira dan mengajaknya berjalan ke arah pintu kamar.
"Mari kita buat gado-gado dan kita lihat seberapa pandai suami mu ini memasak!" ucap Samuel dengan penuh semangat dan percaya diri.
Naira yang awalnya merasa tidak enak hati pun tersenyum dan membalas rangkulan suaminya itu. Mereka berdua berjalan menuju ke arah dapur, dimana ayah Rama dan juga ibu Anisa sudah menyiapkan dan mencuci semua bahan dan juga peralatan nya. Bahkan ibu Anisa sudah merebus semua sayuran, dan menggoreng tempe dan tahunya. Juga ada ayam goreng yang dia siapkan juga ada telur rebus, pokoknya ibu Anisa sudah menyiapkan dengan sangat lengkap.
"Wah, ibu, ayah terimakasih sudah membantu menyiapkan semuanya!" ujar Samuel lalu mendekati meja makan yang disana sudah ada sebuah cobek dengan ulekannya.
Ayah Rama dan ibu Anisa hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka lalu ikut memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Samuel selanjutnya.
"Sayang, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Samuel yang sudah memegang ulekan di tangannya.
"Masukkan lima buah cabai ke dalam cobek itu mas!" ucap Naira pada Samuel.
"Eh jangan lima, tiga saja nak Samuel. Nai, kamu sedang hamil tidak boleh makan pedas!" seru ibu Anisa menyela Naira.
Samuel pun langsung melihat ke arah ibu mertuanya itu.
"Benarkah Bu, tapi kemarin Naira makan bakso dengan sambal yang banyak sekali!" ucap Samuel yang ingin tahu kenapa sang istri tidak boleh makan pedas.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Samuel, Anisa langsung menyipitkan matanya ke arah Naira.
"Nai, jangan bandel ya. Kalau kamu makan pedas kasihan anak kamu, dia juga makan apa yang kamu makan lho!" seru ibu Anisa membuat Samuel mengangguk paham.
"Sayang jangan makan pedas lagi, kasihan calon anak kita. Balita saja tidak tahan makan pedas apalagi bayi yang belum lahir!" ujar Samuel membuat ayah Rama dan juga ibu Anisa saling pandang.
__ADS_1
Sepertinya menantu mereka itu salah tanggap pada apa yang Anisa katakan tadi.
Naira lalu memberitahu pada Samuel apa saja bahan yang harus di ulek, setelah kurang lebih sepuluh menit. Gado-gado buatan chef Samuel pun sudah jadi.
Samuel meletakkan piring berisi gado-gado di depan Naira duduk.
"Silahkan sayang!" ucap Samuel dengan ekspresi penuh harap kalau makanan yang dibuat akan enak.
Naira menyendok dengan satu sendok makan penuh. Naira mengunyahnya dengan perlahan.
"Em, mas enak sekali. Terimakasih banyak ya mas!" ucap Naira dengan ekspresi wajah begitu bahagia.
Samuel pun tersenyum bangga karena dia berhasil membuat makanan enak untuk sang istri dan calon anaknya.
***
Sementara itu di tempat lain...
Riksa sedang sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang di tinggalkan Samuel selama dua hari ini. Samuel bilang hanya akan cuti satu hari, tapi pada akhirnya dia hari ini cuti lagi. Dan itu membuat Riksa sangat sibuk dengan semua pekerjaan nya.
Di tengah kesibukan nya, ada yang mengetuk pintu ruangan kerja Riksa.
"Masuk" seru Riksa tanpa bertanya siapa yang mengetuk pintu ataupun melihat ke arah pintu. Riksa benar benar sangat sibuk.
"Riksa, laporan yang kemarin di kerjakan oleh Wika untuk meeting dengan tuan Thomas hilang!" ucap Dina yang kelihatan begitu panik.
Riksa langsung menoleh ke arah Riksa dan berdiri dari duduknya.
"Hilang? bagaimana bisa hilang? coba tanyakan pada Wika!" seru Riksa yang langsung menutup dokumen yang sedang dia periksa.
"Sudah Riksa, aku sudah coba menghubunginya tapi tidak bisa. Aku juga sudah mencari di seluruh ruangan Wika bersama dengan Dika tapi tidak juga kami temukan!" jawab Dina lalu menghela nafasnya berat.
"Bagaimana ini, Dika bilang Wika tidak mau dia membantunya saat itu. Jadi Dika tidak punya salinan nya!" lanjut Dina lagi.
"Suruh Dika ke rumah Wika, ada-ada saja!" kesal Riksa lalu meraih ponselnya.
Riksa berusaha untuk menghubungi Wika. Tapi anehnya saat Riksa menghubungi Wika terdengar nada telepon yang tersambung.
__ADS_1
Tut... Tut...
"Tersambung ini!" ucap Riksa membuat Dina mengernyitkan keningnya.
"Aku sudah coba belasan kali tadi!" sahut Dina yang merasa aneh.
Riksa kemudian menghidupkan speaker dan juga alat perekam di ponselnya karena dia cukup merasa aneh. Dia dan Dina sudah bekerja sama selama hampir lima tahun, dia sangat percaya pada Dina.
"Halo bos!'"sapa Wika di ujung telepon.
Riksa meminta Dina untuk diam dengan menggunakan isyarat hati telunjuk tangan kanan yang dia letakkan di depan bibirnya. Dan Dina yang mengerti kode dari Riksa itu mengangguk paham tanpa suara.
"Kenapa tidak masuk kerja, lalu dimana proposal untuk tuan Thomas?" tanya Riksa langsung pada intinya.
Karena Riksa tak mau berbasa-basi atau terkesan terlalu perhatian pada Wika.
"Bos, aku sakit dan semua teman kos ku sedang liburan. Aku sendirian, proposal nya ada di rumah kos ku!'"jawab Wika dengan nada suara yang terdengar lemah.
"Baiklah, kirim alamat rumah mu. Dika akan ke sana dengan dokter perusahaan dan juga mengambil laporan itu!" tegas Riksa.
"Bos, aku mau kamu yang mengambilnya. Kalau bukan kamu. Maka aku akan membakar laporan ini!" ucap Wika membuat Riksa dan Dina sama-sama terkejut.
Dina bahkan hampir membuka suara kalau saja Riksa tidak meletakkan jari telunjuk nya lagi di depan bibir nya sendiri.
"Sebenarnya ada apa ini Wika, ini masalah penting. Nanti sore meeting kita dengan tuan Thomas. Kamu pasti tahu akan marah seperti apa bos Samuel, kalau sampai ibu gagal!" seru Riksa coba mengingatkan Wika tentang tanggung jawab pekerjaan nya.
"Kalau begitu cepat datang, ingat jika bukan kamu yang datang. Laporan ini akan aku bakar!"
Tut Tut tut
"Aku sudah menduganya, beberapa bulan ini Wika memang sangat aneh, dia seperti nya menyukai mu Riksa! tapi tidak sepantasnya dia mencampur adukan masalah pekerjaan, profesionalitas dengan persoalan pribadi!" kesal Dina.
Riksa masih melihat dokumen yang menumpuk di atas meja.
"Ck... pekerjaan ku masih banyak. Bagaimana ini!" keluh Riksa juga.
***
__ADS_1
Bersambung...