Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
40


__ADS_3

Setelah mengipasi kopi di dalam cangkir itu beberapa saat, aku mulai melihat kalau tidak ada lagi asap yang mengepul dari sana. Tapi aku belum yakin kalau sudah tidak panas lagi, aku memegang cangkir itu perlahan memeriksa suhunya dari luar.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Samuel pada ku.


Aku tidak tahu kalau ternyata dia memperhatikan apa yang aku lakukan.


"Memeriksa suhu nya, seperti nya sudah bisa kamu minum!" jawab ku dan menggeser cangkir itu beserta tatakan nya lebih mendekat pada Samuel.


Dia tidak langsung meraih cangkirnya, doa malah melihat ke arah arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Sudah lebih dari satu menit, aku tidak mau minum kopi lagi, buatkan aku sirup saja dengan air dingin!" serunya sambil asal.


Aku terdiam, menatap wajahnya yang terlihat tanpa dosa. Tapi aku harus sabar menghadapi nya, dia tidak lagi mau minum kopi ini kan, baiklah aku saja yang minum nanti.


Aku berdiri dengan cepat dan pergi lagi ke dapur. Aku membuatkan sirup untuknya, karena di dapur hanya ada sirup rasa melon, aku pun membuatkannya minuman sirup rasa melon dengan air dingin seperti keinginan nya.


"Huh, kalau tidak mau di minum kenapa aku harus repot-repot mengupas kopi itu tadi. Dia itu mengesalkan sekali. Aku heran kenapa Riksa begitu tahan dengannya, hais!" gumam ku mengeluh di dapur.


Karena aku tak berani mengeluh di depannya, bisa bertambah lagi saldo hutang ku nanti. Aku membawa segelas minuman lagi ke ruang tamu, aku meletakkan gelas itu di depan Samuel.


"Ini sirup dengan air dingin, silahkan!" ucap ku berusaha terlihat dan terdengar sopan.


Dia yang lagi-lagi sibuk dengan ponselnya segera menoleh sekilas.


"Kenapa warnanya hijau?" tanya Samuel cuek dan kembali fokus pada ponselnya.


'Apa katanya, masa' seperti itu saja harus di tanyakan sih, ya karena itu sirup bukan air putih, atau susu!' batin ku tidak habis pikir.


"Ini sirup rasa melon tuan!" jawab ku singkat padat dan aku rasa sudah sangat jelas.


Dia terlihat menghela nafasnya,


"Ingat hal ini ya, aku tidak suka warna hijau dan tidak suka buah melon, aku tidak suka rasa melon!" jelasnya.


Aku masih memperhatikan, ku kira dia akan mengatakan sesuatu lagi.


"Tunggu apa lagi? ganti dengan sirup yang lain!" tanya nya dengan suara meninggi.


Aku hanya bisa mendecakkan lidah ku pelan.


"Tapi tuan hanya ada itu di dapur, katanya tuan haus. Kalau harus membeli nya di warung, tuan bisa lebih haus lagi nanti!" jelas ku beralasan.


"Tidak mau tahu, kalau memang harus beli dulu maka lakukan itu dengan cepat!" serunya.

__ADS_1


Aku sampai harus mengelus dada.


'Sabar Nai sabar, huh!' batin ku sambil berjalan keluar.


Aku berjalan menuju warung Bu Bambang, bukan karena ibu itu namanya Bambang ya. Tapi karena suaminya bernama Bambang, jadi dia di panggil Bu Bambang. Ketika aku berjalan menuju ke warung, Bu Saodah memanggil ku karena aku memang melewati rumahnya.


"Nai, Naira!" panggil Bu Saodah yang keluar dari rumah nya dan menghampiri ku.


"Iya Bu!" jawab ku sopan.


"Nai, kamu serius mau nikah?" tanya nya penasaran.


Aku mengangguk kan kepala ku perlahan.


"I..iya Bu!" jawab ku berhati-hati.


"Beneran sama cowok ganteng yang tinggi, putih kayak artis itu Nai?" tanya nya lagi tapi aku melihat ekspresi wajah Bu Saodah ini sedikit meremehkan atau semacamnya gitu.


"Iya Bu!" jawab ku lagi dengan singkat.


"Kok gak ngundang-ngundang sih Nai, emang nikahnya dimana?" tanya Bu Saodah.


"Em, sebenarnya hanya keluarga saja Bu yang di undang, lagi pula tempatnya cukup jauh, satu jam lebih dari sini. Di Silver Palace!" jawab ku pada Bu Saodah.


Aku mengangguk kan kepalanya yakin. Karena aku yakin namanya memang itu.


"Gedung yang besar dan megah itu?" tanyanya lagi dan aku kembali mengangguk kan kepala ku.


"Yang biasanya jadi tempat nikah artis artis terkenal itu?" tanya nya lagi. Tapi kali ini aku hanya diam, aku tidak tahu tentang hal itu.


"Wah, Nai! kamu nikah sama orang kaya ya! kenal dimana Nai?" tanya nya lagi penasaran.


Aku yakin pertanyaan Bu Saodah tak akan berhenti sampai disini, dan kalau seperti ini aku tidak akan bisa membeli sirup di warung Bu Bambang. Dan kalau seperti itu, maka si lidah tajam akan marah padaku.


"Ketemu di gerai ayam geprek tempat indah kerja, Bu Saodah maaf ya. Tapi saya mau ke warung dulu. Permisi!" jawab ku dengan cepat dan melangkah dengan cepat meninggalkan Bu Saodah yang sepertinya masih mengeluarkan pertanyaan padaku.


Aku bukan tidak sopan, aku juga sudah minta maaf dan pamit padanya. Karena apa yang ingin ku lakukan ini sangat penting. Dengan langkah cepat aku berjalan ke arah warung Bu Bambang. Aku membeli sirup rasa jeruk dan segera pulang ke rumah.


Begitu masuk ke dalam, lagi-lagi aku melihat wajah Samuel terlihat kesal.


"Sebentar tuan, aku akan buatkan minum!" ucap ku sambil berlari ke arah dapur.


Dengan cepat aku membuatkan minuman untuk Samuel dan meletakkan di atas meja di hadapan Samuel.

__ADS_1


"Silahkan tuan!" ucap ku ramah.


"Kamu lihat tidak, cangkir kopi itu sudah kosong?" tanya nya dan aku segera melihat ke arah cangkir kopi yang memang hanya tinggal sedikit isinya.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah lagi, seperti nya aku membuat kesalahan lagi. Aku lihat wajah Samuel benar-benar tidak enak di pandang meskipun wajahnya tampan.


"Maaf tuan!" ucap ku pelan. Aku sungguh tidak mau dia menambah saldo hutang ku karena dia marah.


Dia terlihat diam dan kembali fokus dengan ponselnya, suasana makin canggung. Tapi bagus juga dia tidak membahas masalah hutang.


"Kak, Ibras mau keluar dulu ya!" suara Ibras membuat ku terkesiap.


"Mau kemana?" tanya ku.


"Mau beli pulsa, kak Samuel Ibras pergi dulu!" ucap Ibras pada Samuel dan Samuel terlihat mengangguk perlahan.


"Assalamualaikum!" seru Ibras sebum keluar rumah.


"Wa'alaikumsalam" jawab ku.


"Berapa usianya?" tanya Samuel.


Aku langsung menoleh ke arahnya.


"Tujuh belas tahun tuan!" jawab ku singkat.


Setelah pertanyaan itu suasana kembali lagi hening. Tapi tiba-tiba ponsel ku berdering, aku meletakkan di dalam tas di dekat rak di rumah tamu. Samuel terlihat ikut mencari sumber suara.


"Maaf tuan, sebentar!" ucap ku sopan padanya.


Aku berjalan meraih ponsel dari dalam tas, aku tahu pasti itu dari Riksa. Karena yang tahu nomer ku hanya Riksa dan si lidah tajam ini.


"Halo!" ucap ku menjawab panggilan telepon.


"Berikan padaku!" seru Samuel.


Belum juga aku dengar suara Riksa dari ujung sana. Samuel malah meminta ponsel ku di berikan padanya.


'Ini orang maunya apa sih?' batin ku kesal.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2