
Setelah sarapan dia mengajakku ke arah balkon yang ada di kamar kami. Dari sini pemandangan terlihat begitu indah, hotel yang kami tempati ini jaraknya hanya beberapa ratus meter dari pantai. Dan deru ombak masih terdengar meskipun samar dari balkon dimana kami berada sekarang.
"Duduklah!" ucapnya yang telah terlebih dulu pada sofa putih yang sandarannya tidak terlalu tinggi.
Aku berjalan mendekatinya dan bersiap duduk di sebelah nya. Tapi dia menarik tangan ku hingga aku terjatuh di pangkuannya.
"Eh!" aku terkejut.
"Duduk saja disini, aku ingin memeluk mu!" ucapnya sambil memeluk pinggang ku.
Aku hanya diam saja saat dia melakukan hal itu, dia suamiku dan dia berhak melakukan itu.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku Naira?" tanyanya membuat ku memiringkan sedikit kepala ku ke arahnya.
"Pertanyaan?" tanya ku bingung masalahnya kami baru duduk dan dia belum bertanya apapun padaku.
Samuel mengangguk sekali.
"Em, maaf mas. Bukannya sejak kemari mas belum bertanya apapun?" tanya ku.
Reaksi yang ditunjukkan oleh Samuel adalah mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ayolah Naira, aku sudah sangat berusaha bersikap romantis dan perhatian padamu!" ungkapnya.
Aku makin terkejut, dia sepertinya sudah mulai kesal. Dia mengatakan sudah sangat berusaha. Apa dia tidak pernah bersikap seperti ini pada Caren, aku jadi penasaran.
"Memang mas tidak pernah bersikap seperti ini pada mantan terindah mas itu?" tanya ku pada Samuel.
"Ck... kenapa malah merusak suasana sih? aku tidak mau membahas wanita itu lagi. Aku juga tidak pernah bersikap seperti ini, mana mungkin aku menyiapkan sarapan dan menyiapkan pakaiannya, aku mana pernah tidur satu kamar dengannya!" jelas Samuel.
"Benarkah?" tanyaku memastikan.
"Aku kan sudah bilang, kamu juga adalah yang pertama melakukan itu dengan ku, ck... bagaimana seorang pria bisa membuktikan nya!" keluh Samuel.
Dan saat Samuel mengatakan semua itu ekspresi wajah nya sungguh membuat ku ingin tertawa. Meski masih terlihat tampan, tapi dia memang terlihat sangat lucu kalau kesal begitu.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Samuel kesal.
"Kamu jauh berbeda ketika pertama kali kita bertemu mas!" jawab ku.
"Kamu tidak suka?" tanya nya.
__ADS_1
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Bukan, bukan begitu! aku lebih suka kamu yang saat ini...!"
"Apa itu artinya kamu menyukai ku? kamu juga mencintai ku?" tanya Samuel.
Hais, sepertinya pertanyaan yang tadi itu adalah pertanyaan jebakan. Bisa sekali dia seperti itu.
Melihat ku cemberut dia malah memelukku lagi semakin erat.
"Mas, boleh tidak aku bertanya?" tanya ku.
Sebenarnya kejadian malam itu masih sangat membuat ku kesal. Malam dimana dia mengatakan mengasihani Caren dan menunjukkan kalau dia masih perduli pada wanita itu.
"Tanyakan saja!" jawab nya.
"Mas masih mencintai Caren?" tanya ku dan membuat Samuel langsung melepaskan pelukannya dari ku.
"Kenapa bertanya begitu?" tanya nya.
"Aku memang hanya datang sebagai pengganti bukan, mas menikahi ku karena mas tidak ingin menikah dengan Natasha, karena Caren masih butuh waktu satu tahun untuk sampai di puncak karir nya...!" aku bangun dari pangkuan Samuel lalu berjalan ke arah pagar balkon dan melihat ke arah pantai, ke arah laut yang begitu luas.
"Aku tidak mau berharap terlalu banyak, aku belum pernah jatuh cinta, dan aku takut patah hati!" ucapku selanjutnya.
"Semua memang berawal seperti itu Naira, aku bahkan tidak pernah menyangka bahkan dalam waktu kurang dari dua bulan bersamamu, bisa muat ku menyukai mu. Kamu memang jauh dari tipe ku...!"
Samuel menjeda kalimat yang akan dia ungkapkan ketika aku memicingkan mataku padanya. Aku kesal, bisa-bisanya setelah menyatakan cinta dia masih menghina ku.
"Maksud ku, kesan pertama saat melihat mu Kamu memang bukan tipe orang yang bisa membuat seseorang langsung jatuh cinta!" jelas Samuel.
Dia malah memperjelas nya, aku sampai geleng-geleng kepala semakin dia menjelaskan.
"Tapi itu dulu Nai...!"
"Lalu kata-kata mas malam itu, mas bilang Caren terlihat menyedihkan, mas bahkan memeluknya setelah aku pergi kan?" tanya ku dengan nada kesal juga.
Samuel terlihat semakin terkejut.
"Kamu melihatnya?" tanya Samuel dan aku hanya menatap tajam ke arahnya tanpa menjawab.
Samuel langsung menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Itulah kesalahan ku Nai, aku percaya pada sandiwara nya lagi!" ungkap Samuel yang terlihat sedih.
Aku malah terkejut.
"Sandiwara?" tanya ku.
Samuel menatap ku dan mulai bercerita.
"Iya, Caren sendiri yang bersandiwara atau dia bekerja sama dengan Kenzo aku belum tahu pasti. Tapi yang jelas, aku tahu kalau dia bersandiwara. Semalam saat aku mengikuti mereka anak buah ku menghubungi ku, dan dia memberi laporan juga semua bukti rekaman CCtv. Caren bahkan sengaja menunggu di depan pintu lift, ketika selesai menerima telepon dan melihat ke arah angka yang ditunjukkan di atas pintu lift, dia langsung menjatuhkan dirinya!" terang Samuel.
Aku sampai melongo mendengar nya, wanita yang bernama Caren itu luar biasa sekali ternyata. Bisa memikirkan ide semacam itu untuk menarik perhatian Samuel.
"Lalu kenapa kamu memeluknya saat di roof top?" tanya ku lagi.
"Setelah kamu pergi, dia datang sambil menangis dan menutupi wajahnya ternyata lebam. Dia bilang Kenzo yang melakukan nya!" jelas Samuel.
Sudah jelas wanita itu berbohong, aku saja yang baru mengenal Kenzo, yakin kalau orang seperti Kenzo tidak akan memukul wanita.
"Lalu kenapa kamu berkelahi dengan Kenzo setelah tahu Caren hanya bersandiwara" tanya ku kesal.
Kalau dia tahu Caren hanya bersandiwara, seharusnya dia tidak membela perempuan itu sampai harus berkelahi dan adu jotos dengan Caren kan.
"Kenzo bilang dia ingin merebut mu dariku!" jawab Samuel tegas.
Kami berdua saling pandang dalam beberapa detik. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Samuel. Kalau Samuel saja tidak tertarik padaku pada pandangan pertama kami, mana mungkin Kenzo tertarik padaku. Tapi tunggu dulu... dia bahkan makan dari sendok dan piring yang sama dengan ku.
Aku jadi merinding mengingat hal itu. Tapi tiba-tiba Samuel meraih kedua tanganku dan menggenggam nya dengan erat.
"Sekarang semua kesalahpahaman antara kita sudah berakhir bukan, setelah kita pulang nanti, aku akan minta Riksa membatalkan kontrak pernikahan itu, dan kita bisa memulai semuanya...!"
"Mas bilang apa? membatalkan kontrak? jadi kita bukan suami istri lagi?" tanya ku bingung.
Samuel menyentil dahi ku membuat ku memekik karena terasa sakit. Aku mengusap dahi ku dan melepaskan tangannya.
"Wanita bodoh, kita menikah secara resmi. Sah menurut agama dan negara, bagaimana bisa dengan membatalkan kontrak pernikahan kita juga batal!" jelas Samuel.
Dia lalu mengusap dahi ku yang tadi dia sentil.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu mengikuti semua aturan yang ada dalam surat kontrak, kita sama-sama punya hak dan kewajiban sebagai suami dan istri." jelas Samuel.
"Benarkah? artinya aku tidak harus menuruti semua perkataan mas kan?" tanya ku membuatku bergidik ngeri karena Samuel melotot tajam padaku.
__ADS_1
***
Bersambung...