Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
58


__ADS_3

"Jawab!!!" teriak Samuel pada Naira lagi karena gadis itu tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.


Naira menundukkan wajahnya menahan tangis, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya dan di sembunyikan. Dia tak lagi memaki Samuel seperti biasanya di dalam hatinya. Naira benar-benar kehilangan kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk pria di depannya ini. Perasaan nya sungguh campur aduk saat ini, dia ingin marah tapi tak bisa, mengelak pun tak mungkin, apalagi protes mana bisa dia melakukan itu.


Samuel pun bertambah emosi, dia melangkah kan kakinya maju dan berada sangat dekat dengan Naira.


"Kamu masih punya telinga kan? katakan apa yang kamu lakukan dengan Riksa di dalam lift?" sekarang Samuel mengatakan itu sambil berbisik pada Naira tepat di depan telinga Naira.


Suara pelan penuh penekanan itu justru lebih menakutkan di pendengaran Naira daripada teriakan keras Samuel sebelum nya.


"A..apa yang ka.. kamu dengar?" tanya Naira sangat ketakutan.


Samuel menjauh dari Naira agar bisa menatapnya.


"Wanita menjijikkan!" teriak Samuel lalu pergi meninggalkan Naira.


Naira jatuh terduduk di lantai, dia tidak menangis. Dia merasa apapun yang dia lakukan tidak ada gunanya. Menangis pun sudah tidak ada gunanya lagi. Naira hanya menyesal, kenapa siang itu mereka, Naira, Mini dan Haris harus memilih makan siang dengan ayam geprek. Jika saja saat itu mereka makan ketoprak saja, semua ini pasti tidak akan terjadi.


Sementara Samuel pergi dari pintu tangga darurat dengan kesal.


"Kenapa dia tidak mengenalnya?" tanya Samuel kesal sambil berjalan keluar.


"Apa benar dia menyukai Riksa, sial! kenapa juga aku perduli!" gumam Samuel lagi sambil berjalan menuju lift menuju lantai lima.


Di tempat lain, keluarga Samuel dan keluarga Naira sedang berada di sebuah ruangan untuk berlatih apa saja yang akan mereka lakukan saat akad nikah nanti. Apa saja kata-kata yang harus di ucapkan oleh mereka ketika Naira dan Samuel meminta restu sebelum dan sesudah ijab qobul.


"Anak ku Samuel Virendra dan untuk nyonya Anisa sebutkan anak ku Naira putri.


Tidak ada yang perlu dimaafkan untuk ananda berdua. Karena sebelum kalian meminta ma’af, Ayah Ibu sudah mema’afkan dan mengikhlaskan dengan semua kesalahan ananda. Ananda sekarang bagaikan kertas putih tidak ada satu pun bintik hitam di dalamnya. Apa yang telah Ayah Ibu lakukan hanya semata-mata kewajiban sebagai orang tua. Ayah-Ibu sudah sangat bahagia manakala anak-anaknya sehat dan bahagia. Cukup pangan dan berpakaian pantas seperti orang lain. Berbahagialah!" jelas Harumi seorang expert dalam attitude di acara-acara besar seperti pernikahan dan lainnya.


Stella terlihat mengerti karena sudah sering mendengar kalimat seperti itu saat menghadiri pernikahan kerabat atau klien suaminya. Tapi bagi Anisa, dia masih sedikit bingung.

__ADS_1


"Bagaimana nyonya Anisa?" tanya Harumi yang menyadari raut bingung Anisa.


Anisa melihat ke arah suaminya yang juga terlihat canggung.


Stella memegang lengan Anisa dengan lembut.


"Kita akan menghafal nya bersama! masih ada dua jam lagi kan!" ucapnya mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.


Anisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun berlatih bersama-sama agar acara dapat berjalan dengan lancar dan semestinya.


***


Samuel sudah berada di kamar presiden suite, dimana Puspa dan dua orang asisten nya sedang menunggu. Seorang asisten pria untuk membantu Samuel berganti pakaian. Dan seorang asisten perempuan untuk membantu Naira dengan pakaian nya.


"Hei, kenapa wajah mu seperti itu. Bahagia lah, ini kan pernikahan mu!" seru Puspa yang melihat Samuel masuk dan langsung duduk di tepi tempat tidur hotel berukuran king size.


"Diam lah Puspa, masih ada berapa jam sebelum akad nikah? aku mau tidur!" tanya nya pada Puspa dan menjelaskan juga apa yang ingin dia lakukan kenapa menanyakan hal itu pada Puspa.


"Apa kamu masih pusing karena minuman tadi pagi?" tanya Puspa yang mencemaskan hal itu.


Samuel hanya memijit pangkal hidungnya sekilas.


"Masih lama tidak?" tanya Samuel lagi.


"Sekitar satu jam setengah kamu bisa tidur, persiapan pengantin pria tidak terlalu memakan waktu lama!" jelas Puspa.


Setelah mendengar jawaban Puspa, Samuel membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Jangan berisik! dan jangan ganggu aku selama satu setengah jam itu apapun yang terjadi!" tegas Samuel.


Puspa hanya menganggukkan kepalanya dan juga memberi isyarat pada dua asisten nya untuk pergi keluar meninggalkan kamar ini.

__ADS_1


"Kita keluar saja dulu, kalian bisa makan atau yang lainnya. Satu jam lagi kita kembali kemari!" perintah Puspa pada kedua asisten nya.


Mereka keluar bersama, meninggalkan Samuel yang masih memikirkan apa yang terjadi padanya sambil terbaring di atas tempat tidur. Matanya yang tadi tertutup kembali terbuka, dia tidak menyangka malah akan jadi bingung seperti sekarang ini. Niat awalnya menikahi Naira adalah untuk menghindari perjodohan nya dengan Natasha, wanita yang hanya dengan melihatnya Samuel bisa tahu seperti apa wanita itu.


Samuel sebenarnya sudah mengajak Caren menikah, karena Samuel tahu jika dia sudah menikahi Caren, maka sebesar apapun ibunya tidak menyukai Caren, ibunya juga pasti akan menghargai keputusan nya itu. Tapi masalahnya Caren tidak mau menikah dengan Samuel dalam waktu dekat. Dia masih ingin mengejar mimpinya menjadi designer perhiasan yang sukses dan terkenal. Dan Samuel menghormati keputusan Caren itu.


Dan sekarang, Samuel malah merasa terjebak pada apa yang dia rencanakan sendiri. Dia pikir dengan memilih gadis ceroboh seperti Naira, dia tidak akan sulit untuk menghempaskan nya suatu saat nanti. Tapi sepertinya semua tidak berjalan sesuai dengan rencana nya.


Saat Samuel sedang memikirkan semua hal yang membuat kepala nya terasa pusing tiba-tiba dia mendengar pintu kamar itu terbuka. Samuel kembali memejamkan matanya berpura-pura tidur lagi.


Ceklek


Naira masuk ke dalam kamar, tapi ketika dia melihat Samuel sedang terbaring di tempat tidur, Naira menghela nafas nya berat. Dia berbalik dan ingin keluar dari dalam kamar. Tapi beberapa detik kemudian Naira kembali berbalik.


"Dia kan sedang tidur, aku juga sudah lelah. Aku hanya ingin mandi!" gumam nya kemudian menutup kembali pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi kamar hotel.


Samuel membuka matanya lagi, dia melihat Naira berjalan ke arah kamar mandi. Sebenarnya dia sangat kesal dan ingin keluar, tapi kemudian Naira berbalik sebelum masuk ke dalam kamar mandi, membuat Samuel kembali memejamkan matanya dengan cepat.


Naira lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Naira sudah selesai mandi, dia menepuk jidatnya sendiri ketika menyadari bathrobe yang tadi dia bawa jatuh ke lantai dan basah.


"Ck... kenapa malah basah begini sih!" gumam Naira.


Naira melihat ke sekeliling dan melihat ada handuk hotel di rak di dalam kamar mandi.


"Pakai itu saja!" gumam Naira lalu melilitkan handuk di tubuhnya yang hanya bisa menutupi sebatas dada dan separuh pahanya saja tidak sampai ke lutut.


Naira sedikit ragu saat akan keluar, mengingat kalau pakaian nya ada di tas nya, dan tas itu ada di dekat ranjang tempat Samuel tertidur.


"Ck... dia kan sedang tidur, tidak apa-apa. Aku akan menarik tas ku menjauh dari tempat tidur baru aku ambil pakaian ku!" gumam Naira lalu membuka pintu kamar mandi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2