
Cukup lama waktu untuk menenangkan Puspa. "Aku ambil minuman untuk mu sebentar ya!" ucap ku pada Puspa.
"Tidak usah Nai, kamu sedang hamil. Jangan terlalu banyak bergerak!" ucap Puspa padaku.
"Siapa yang bilang padamu kalau wanita hamil tidak boleh banyak bergerak, justru harus sering berolahraga ringan seperti berjalan agar tetap sehat dan persalinan berjalan lancar!" ucapku pada Puspa.
Wanita yang baru saja menangis tersedu-sedu tadi itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku. Sesekali di masih banyak air matanya dengan tangannya, kurasa selain air minum aku juga harus mengambil tisu. Aku berdiri lalu meninggalkan Puspa sendiri yang masih duduk di kursi di tepi kolam renang sambil melihat ke arah kolam renang dengan pandangan yang tidak tentu, aku bisa merasakan bagaimana kesedihan hatinya.
Saat kita mencintai seseorang dengan tulus bahkan dalam waktu yang cukup lama. Lalu memendamnya dalam waktu yang lama pula, dan setelah sudah cukup mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan itu dan ditolak pada akhirnya, meskipun aku belum pernah merasakan perasaan semacam itu tapi aku tahu itu pasti sakit.
Dan apa yang di tunjukkan oleh Puspa ini menunjukkan kalau dia adalah wanita kuat. Kalau aku yang berada di posisinya tidak mungkin aku masih bisa berdiri di depan orang yang telah menolak ku, bahkan sampai sembilan kali. Dan di depan semua orang kusta bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa dan dia bersikap biasa saja pada Riksa. Bahkan tadi dia masih membelanya saat hampir saja Samuel akan marah padanya.
Aku pengelola nafasku cukup berat, Puspa adalah teman ku. Aku harus membantunya. Aku lalu berbalik dan menuju kearah pintu di mana pintu itu adalah jalan untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja melangkah masuk aku dikejutkan seseorang yang sudah berdiri di depanku dengan tangan kanan memegang sebuah gelas berisi air putih lalu tangan kirinya memegang sebuah sapu tangan.
"Riksa!" ucap ku pelan.
Aku sebenarnya sangat terkejut tapi karena aku menyadari siapa yang ada di hadapanku aku menyebut namanya dengan pelan, agar Puspa tidak mendengarnya. Karena jika itu terjadi sepertinya suasana akan semakin tidak nyaman dan lebih canggung dari sebelumnya.
"Berikan ini padanya, aku minta maaf karena tidak bisa menjelaskan nya padamu. Tapi aku sama sekali tidak berniat menyakiti nya!" ucap Riksa sambil menyodorkan kedua benda yang berada di kedua tangannya kepada ku.
__ADS_1
Aku sebenarnya masih berusaha untuk mengerti ucapan yang dikatakan oleh pria tampan yang menurutku lebih mirip seperti pemain drama Hwarang. Wajahnya yang ada oriental nya, membuat nya terlihat semakin manis dan membuat siapapun enggan berpaling dari pemandangan wajah yang indah itu.
Tapi karena aku juga sedang memerlukan kedua benda yang ada di tangan Riksa, maka aku langsung meraih kedua benda itu dan mengucapkan terima kasih kepada Riksa.
"Terimakasih, apa kamu tidak mau bicara dengan nya?" tanya ku sedikit ragu saat mengatakan kalimat ku ini tapi aku merasa kalau sepertinya ada yang ingin Riksa katakan kepada Puspa.
Riksa malah tersenyum dan menggeleng kan kepala nya perlahan.
"Tidak, saat ini dia masih kesal padaku. Dia bahkan menukar kado yang sebenarnya ingin ku berikan padamu. Bukan kado yang tadi. Tapi aku yakin dia akan memberikannya juga padamu nanti. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat Samuel marah padaku!" Riksa berkata sambil sesekali mengulas senyum dan matanya tertunduk ke bawah.
Aku memang tidak pandai membaca ekspresi seseorang tapi aku tahu kalau ekspresi yang ditunjukkan oleh Riksa ini adalah ekspresi ketika dia memaklumi apapun yang Puspa lakukan padanya. Ekspresi dimana seorang pria yang mampu menerima segala macam kelakuan wanita yang dia anggap penting baginya bagi hidupnya. Aku semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada dua orang temanku ini.
"Aku akan pergi, aku masih ada pekerjaan. Sekali lagi aku mengucapkan selamat padamu Naira, semoga dengan kehamilanmu ini hubunganmu dengan bos semakin erat. Apa kamu percaya kalau aku katakan 1 hari sebelum dia menikah denganmu sebenarnya aku bisa melihat rasa suka dan cemburu dimata bos untukmu!" ucap Riksa sambil tersenyum.
Aku berbalik dan berniat untuk berjalan kembali menghampiri Puspa yang masih duduk di tepi kolam renang kupikir. Tapi ternyata saat aku baru dua langkah keluar dari dalam rumah, aku kembali di kejutkan karena Puspa kembali menangis. Secepatnya aku berjalan kearahnya dan duduk di sebelahnya seperti tadi. Aku memberikan sapi tangan dan juga sebuah gelas berisi air minum untuk nya.
"Puspa, ini!" ucap ku pelan.
Dia segera menoleh ke arahku dan berkata.
__ADS_1
"Kenapa cepat sekali Naira, aku baru saja ingin menangis lagi!" ucapnya.
Kalau aku yang mengartikan ucapannya barusan itu seperti bentuk protes karena aku cepat sekali datang menghampirinya padahal dia masih ingin menangis tanpa terlihat olehku.
"Aku bertemu dengan salah seorang pelayan di di dalam, dan kebetulan dia sedang membawa dua benda ini!" ucap ku ya tentu saja adalah merupakan sebuah kebohongan.
Karena aku mendapat kedua benda itu bukan dari seorang pelayan melainkan dari Riksa.
Puspa terkekeh pelan. Lalu mengusap tangisnya dengan sapu tangan yang aku berikan.
"Benarkah? Tante Stella memang kaya, tapi apakah salah seorang pelayan yang mampu membeli satu tangan seharga hampir dua juta rupiah dan limited edition seperti ini?" tanya Puspa padaku.
Aku terkesiap kaget, aku mana tahu kalau saputangan itu harganya semahal itu. Dan Riksa juga aneh, kenapa dia tidak memberikan aku tisu saja marah sama tangan yang sangat mahal seperti itu. Kan aku jadi terlihat seperti pembohong di depan Puspa. Yah, meskipun itu memang benar aku sedang berbohong pada sahabat di depanku ini.
Tapi Puspa malah terkekeh lagi.
"Dia kan yang memberikan ini padamu, sudah ku bilang kan Naira. Dia itu mencintai ku. Tapi kenapa dia selalu menolak ku. Apa yang harus aku lakukan Naira?" tanya Puspa yang matanya kembali berkaca-kaca.
Sejujurnya aku sungguh merasa sangat sedih melihat keadaan dua orang ini. Yang satu sangat mencintai yang satunya lagi dan sudah berkali-kali mengungkapkannya tapi selalu ditolak. Dan yang satu lagi, sepertinya juga peduli dan mempunyai perasaan yang sama tapi kenapa Riksa malah tidak menyambut perasaan Puspa. Huh... bagaimana aku bisa bahagia kalau dua temanku yang selama ini membantuku sedang bersedih seperti ini.
__ADS_1
***
Bersambung...