Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
93


__ADS_3

Aku membaca lembar kedua dari kertas yang di letakkan oleh Samuel di atas meja. Mataku melebar melihat kata-kata yang tertera pada lembar tersebut.


*Tugas sekertaris grade 3 adalah melayani semua kebutuhan bos dan menemani kemana pun bos pergi.*


'Sekertaris grade 3, aku baru tahu kalau sekertaris ada grade nya!' batin ku.


Aku lalu meletakkan lembar kedua dan mengambil lembar ketiga, aku langsung membacanya lagi.


*Gaji perbulan Rp10.000.000,-*


Aku tidak begitu memperhatikan poin yang lain, hanya poin gaji itu saja yang aku perhatikan. Aku langsung menghitung jumlah angka nol yang ada di belakang angka satu.


"Satu, dua, tiga, empat... mas ini sepuluh juta?" tanya ku takjub.


"Ck... apa nilai matematika mu di SMA itu merah?" omel nya lagi.


Tapi aku tidak perduli, kalau begini kan aku bisa dengan cepat melunasi hutang ku, uang bulanan di tambah uang gaji artinya satu bulan aku dapat dua puluh lima juta.


"Ini artinya dalam setengah tahun aku bisa melunasi hutang ku!" gumam ku senang.


"Apa kamu bilang?" bentak Samuel membuat ku terkejut hingga menjatuhkan kertas yang tadinya ada di tangan ku ke lantai.


"Mas, bicara pelan-pelan bisa kan, kenapa harus membentak?" tanya ku pelan sambil memungut kertas yang ada di lantai.


"Kamu tadi bilang apa? maksud mu apa dengan enam bulan kamu bisa melunasi hutang mu?" tanya nya terlihat kesal.


"Ya memang benar kan, yang bulanan darimu dan juga gaji ku sebagai sekertaris grade 3 mu, bisa melunasi hutang mobil yang tergores itu kan?" tanya ku padanya.


Samuel menunjukkan wajah yang aneh.


"Siapa bilang, hutang mu sekarang sudah lebih dari lima ratus juta!" tegas Samuel.


Rahang ku nyaris terjatuh, tangan dan kaki ku mendadak lemas. Bagaimana bisa hutang ku yang hanya seratus lima puluh juta berubah menjadi lima ratus juta lebih. Awalnya hanya seratus juta, karena aku melanggar beberapa hal jadi seratus lima puluh juta, sekarang apa lagi yang aku langgar.


"Tapi mas, bukannya terakhir kali Riksa bilang hanya seratus lima puluh juta?" tanya ku dengan lemah. Sepertinya darah sudah tak mau mengalir di tubuh ku yang menanggung banyak hutang ini.


"Itu memang benar, tapi kamu sudah mencium ku lima kali dan satu ciuman berharga seratus juta!" jawab nya yang terdengar aneh di telinga ku.


'Kapan aku mencium nya, yang ada dia yang memaksa ku!' batin ku kesal.


Aku sudah tak sanggup berkata-kata lagi, rasanya percuma saja bicara dengan orang seperti ini. Aku meletakkan kertas itu di atas meja dan berdiri dari kursi ku.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya nya dengan cepat.


"Maaf mas, aku menolak pekerjaan ini!" jawab ku.


Aku sudah sangat kesal, aku bahkan tidak perduli lagi kalau dia mau marah atau apapun itu.


"Kamu tidak boleh pergi kalau belum tanda tangan!" tegasnya.


Aku melihat ke arahnya, aku lihat dia seperti nya tidak marah tapi malah cemas. Apa dia memang sangat ingin aku tanda tangan, baiklah aku akan coba sebuah hal yang terpikirkan oleh ku.


"Tidak mau!" jawab ku tegas dan memberanikan diri untuk menatap ke arah Samuel.


"Naira, kamu tahu kan konsekuensi kalau kamu melanggar perintah ku?" tanya nya mencoba menggertak ku.


Aku jadi ragu, tapi kalau terus mengalah aku akan terus di tindas bukan. Aku tidak mau seperti ini terus.


"Tidak mau, paling mas akan menambah saldo hutang ku kan, tambahkan saja!" jawab ku seolah tidak perduli. Padahal kalau itu benar terjadi aku juga pusing bagaimana membayarnya.


"Kamu..!" geram Samuel.


"Tapi kalau mas mau menaikan gaji ku, baru aku setuju!" ucap ku membuatnya makin melotot padaku.


"Kenapa kamu berfikir aku akan setuju?" tanya nya padaku.


Aku mengangkat bahu ku sekilas.


"Yah, kecuali kalau nanti ada yang tahu hajiku hanya segitu, maka orang pasti akan bilang begini 'kasihan banget ya istrinya CEO Virendra grup itu, ternyata gajinya hanya segitu, masih juga lebih besar gaji karyawan di perusahaan ku'" ucap ku pada Samuel.


Aku hanya pernah mendengar kalimat ini saat tak sengaja bertemu Bu Saodah tetangga ibuku yang sedang bergosip di tukang sayur. Aku hanya mempraktekkan apa yang aku dengar saja.


Samuel terlihat makin kesal, dia bahkan mengepalkan tangannya. Tapi aku tidak mengerti kenapa kali ini aku tidak takut pada kemarahan nya itu ya.


"Berapa yang kamu mau?" tanya nya.


Aku membelalakkan mataku tak percaya, apa dia sedang tawar-menawar dengan ku? tapi apa yang harus aku katakan, mana aku tahu biasanya gaji sekertaris berapa.


Tapi karena hutang ku sudah lebih dari lima ratus juta aku rasa agar bisa cepat lunas, maka aku bisa meminta gaji lebih dari sepuluh juta kan.


"Baiklah, aku mau dua puluh juta!" ucapku dengan gemetaran tapi aku berusaha tidak menunjukkan nya pada Samuel.


"Setuju, cepat tanda tangan!" sahutnya lalu memberikan sebuah pulpen padaku.

__ADS_1


Aku terkesiap, kalau aku tahu dia akan setuju semudah itu kenapa aku tidak meminta lebih tadi. Ck... sepertinya apa yang dia katakan tentang ku ini benar. Aku memang bodoh.


Aku meraih pulpen itu dan segera menandatangani kontrak kerja dengan Samuel.


"Besok kami mulai bekerja, sekarang pergilah tidur!" ucapnya sambil membereskan berkas yang ada di hadapannya.


Aku langsung berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Aku masih memikirkan semua yang terjadi belakangan ini. Aku mulai berfikir kalau sikap Samuel seperti nya sudah berubah, dia sedikit lebih lembut padaku.


"Nyonya!" panggil seseorang dari arah belakang.


Aku menoleh dan melihat bibi Merry di sana.


"Bibi Merry!" sahut ku dan berbalik menghadap ke arahnya.


Bibi Merry menghampiri ku.


"Nyonya belum tidur?" tanya nya.


Aku menggeleng pelan.


"Belum bi!" jawab ku singkat.


"Istirahat lah nyonya, jangan terlalu lelah!" ucap bibi Merry menasehati ku.


Aku mengangguk paham.


"Iya Bu terimakasih, Oh ya bi! kapan ibu Stella dan yang lainnnya selesai liburan?" tanya ku pada bibi Merry karena aku tidak bisa menghubungi mereka, Samuel telah menggantikan nomer ku dan menghapus semua kontak kecuali nomer kontak nya.


"Besok sudah kembali, tapi mereka akan tinggal di kediaman Virendra!" jawab bibi Merry.


"Kediaman Virendra?" tanya ku. Karena aku memang tidak tahu, Samuel belum pernah bercerita padaku dan belum pernah mengajakku ke sana.


"Iya, semua keluarga inti tinggal di sana, saya yakin kalau nyonya muda nanti punya tuan muda kecil, pasti nyonya besar akan meminta nyonya muda tinggal di sana!" ucap bibi Merry.


Aku terdiam.


'Tuan muda kecil?' batin ku tertegun.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2