Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
246


__ADS_3

Sementara itu di gudang kosong yang tadi telah disebutkan oleh wanita yang berada di kediaman Pak Nasrul dan ibu Jamilah. Puspa masih berusaha untuk menerima kenyataan kalau dalang di balik penculikan dirinya adalah dua orang yang sangat dipercayai selama ini.


Pak Nasrul dan ibu Jamilah bahkan sudah bekerja berpuluhan tahun di kediaman nenek Arumi nenek dari Puspa. Bagaimana bisa dia menyangka kalau apa yang dia lihat di hadapannya ini benar adanya.


"Ibu Jamilah, tapi bagaimana bisa ibu Jamilah dan pak Nasrul. Apa yang salah?" lirih Puspa yang bahkan sudah menangis karena begitu terkejut dan tak percaya pada kenyataan yang ada di depan matanya.


"Kenapa menangis nona, aku sudah pernah bilang pada nona. Agar tidak perlu terlalu baik kepadaku dan keluargaku, aku sudah bilang pada nona agar anakku dirawat di rumah sakit yang biasa saja, aku sudah mengatakannya berulang kali kepada nona kalau aku tidak akan mempunyai uang bahkan untuk membayar perawatan satu jam saja di rumah sakit yang nona tunjuk itu, aku ini hanya orang miskin nona. Gajiku satu bulan bahkan tidak mampu membayar perawatan anakku selama 1 jam di tempat itu. Kenapa nona tidak mendengarkan aku!" ucap pak Nasrul yang juga sudah tak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk matanya.


Jauh di dalam relung hati Pak Nasrul sesungguhnya dia tidak pernah ingin menyakiti wanita yang ada di depannya itu, karena sesungguhnya pak Nasrul itu juga sudah menganggap Puspa itu seperti anaknya sendiri. Tak pernah terbesit sedikitpun di dalam pikirannya bisa melakukan perbuatan seperti ini kepada seseorang yang sudah dia jaga dan rawat dari kecil. Tapi rasa sakit dan kecewa di dalam hatinya membuatnya tidak bisa berpikir jernih, yang dia pikirkan hanyalah Dia sudah tidak ada lagi harapan hidup di dunia ini. Karena satu-satunya alasan Pak Nasrul dan ibu Jamilah bekerja di usia mereka yang sudah renta adalah demi Fika, Putri semata wayang Pak Nasrul dan ibu Jamilah. Sekarang Fika sudah tidak ada lagi jadi pak Nasrul dan ibu Jamilah juga sudah tidak ada lagi keinginan untuk hidup lagi di dunia ini. Tapi mereka juga tidak ingin membiarkan seseorang yang membuat anak mereka meninggal dunia hidup dengan tenang dan bahagia setelah melakukan perbuatan keji kepada mereka.


Sebenarnya mereka ingin membalas apa yang telah dilakukan oleh Mega dan juga Anyelir. Dan mereka pikir mereka harus melakukan hal yang sama yaitu membuat mereka kehilangan harapan hidup karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Bukan tanpa pikir panjang, mereka sebenarnya memilih Puspa yang menjadi target penculikan mereka. Karena mereka juga sangat menyayangi Puspa. Dan berakhir bersama Puspa menurut mereka adalah hal terbaik. Mereka bisa bersama-sama selamanya.


Sementara Puspa malah tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh pak Nasrul.


"Pak, apa yang bapak bicarakan. Aku sudah bilang kan bapak tidak perlu memikirkan masalah biaya untuk perawatan di rumah sakit itu, aku yang akan membiayai semuanya. Dan bulan depan Fika akan operasi kan?" tanya Puspa yang sama sekali belum mengetahui bahwa orang yang dia bicarakan sebenarnya sudah tidak ada lagi di dunia ini dan itu karena ulah dari ibunya, ibu kandungnya sendiri.


"Itu kalau Fika masih ada nona!" teriak Bu Jamilah histeris.

__ADS_1


Puspa langsung melotot, air matanya langsung jatuh bercucuran.


"Maksudnya apa? Fika kenapa?" tanya Puspa tak kalah istri dari reaksi Ibu Jamilah tadi.


"Bahkan anak kami sudah meninggal pun nona tidak tahu kan? dimana nona saat nyonya Mega menghubungi rumah sakit dan menghentikan biaya untuk Fika, dimana nona saat satpam melempar kami keluar gerbang? dimana nona saat itu?" tanya ibu Jamilah sambil bersih di dekat kaki Puspa.


Puspa benar-benar syock dengan apa yang sudah dia dengar dari ibu Jamilah. Puspa tak percaya kalau ibunya bisa melakukan hal sekejam itu kepada orang-orang kepercayaannya sendiri.


"Ibu... ibu tidak mungkin?" tanya Puspa sambil terus menggelengkan kepalanya.


"Saya hanya mau menolong Welas yang tenggelam di kolam akibat membantu nona kecil, apa salah saya begitu besar sampai kami harus menerima semua ini. Seandainya nona tidak memaksa Fika di rawat di rumah sakit besar itu mungkin Fika masih hidup nona, bagaimana bisa ada orang-orang sekejam itu!" tangis pak Nasrul tak berhenti sambil dia terus bercerita, berkeluh kesah tentang apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


Puspa menangis sejadi-jadinya tanpa suara, dia juga tidak percaya kalau ibunya lah, ibu kandungnya sendiri yang sudah menyebabkan seorang ibu kehilangan putrinya, menyebabkan seorang ayah kehilangan tumpuan dan harapan hidupnya. Puspa masih mengingat jelas saat-saat Dia meminta pada Pak Nasrul dan ibu Jamilah untuk memindahkan Fika ke rumah sakit besar.


Benar apa kata pak Nasrul, Puspa yang memaksa mereka memindahkan Fika. Tapi maksud Puspa adalah memberikan perawatan terbaik bagi Fika. Bukan sebaliknya malah akan mencelakakan nya.


"Maafkan aku pak Nasrul, ibu Jamilah!" lirih Puspa sambil terisak.

__ADS_1


Pak Nasrul langsung mendongak ke atas karena mendengar apa yang di katakan oleh Puspa. Pria tua itu langsung terkekeh perih di dalam hatinya.


"Tapi kata maaf mu tidak akan membuat Fika kembali ke sisi kami!" lirih pak Nasrul.


Puspa makin terisak, dia lalu memejamkan matanya membuat air mata kembali mengalir lurus di kedua pipinya.


Rasa bersalahnya makin bertambah, apa yang dikatakan oleh pak Nasrul memanglah benar. Kata maaf nya tidak akan membuat Fika kembali ke sisi kedua orang tuanya itu.


Bahkan kalau dia memberikan semua harta yang dia miliki itu tetap tidak akan mampu merubah kenyataan kalau ibunya dan dirinya secara tidak langsung telah menjadi penyebab kematian Fika. Penyebab pak Nasrul dan ibu Jamilah kehilangan putri satu-satunya mereka.


Puspa menghela nafas panjang lalu berusaha untuk mengatur nafasnya agar dia bisa bicara lagi. Karena terisak membuatnya sulit bicara.


"Pak Nasrul, ibu Jamilah. Aku tahu kata maaf dariku tidak akan merubah apapun, bahkan jika aku menawarkan semua yang kumiliki, kalian tetap tidak akan bisa bersama Fika lagi. Aku pasrah, apapun yang akan kalian lakukan padaku. Aku terima dengan ikhlas. Aku sungguh minta maaf pak Nasrul, ibu...!" Puspa tak mampu lagi melanjutkan perkataannya, dia kembali terisak.


Lalu masuk lah seorang pria dengan perawakan tinggi besar membawa dua jerigen di tangan kanan dan kirinya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2