Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
97


__ADS_3

Author POV


Sebenarnya Riksa bertanya itu tidak ada maksud lain, dia hanya sangat mencemaskan Naira. Bagaimana pun, dia ikut andil dalam kontrak perjanjian antara Samuel dan juga Naira, karena dirinyalah saksi dan juga yang membuat kontrak tersebut.


Mendengar jawaban Naira, sebenarnya Riksa sudah cukup lega. Dan melihat penampilan nya hari ini, Riksa yakin kalau lama-lama bos nya itu akan menyukai Naira juga suatu saat nanti.


Mereka berdua mengobrol santai sepanjang perjalanan.


"Apa kamu tahu apa saja pekerjaan ku nanti Riksa?" tanya Naira yang terlihat sangat gugup.


Dia memang sudah pernah bekerja, tapi itu hanya sebagai pelayan di toko buku, kalau urusan merapikan barang dan juga membuka atau membungkus buku, dia jagonya. Tapi kalau pekerjaan sebagai sekertaris dia sama sekali tidak tahu apa-apa.


Mendengar pertanyaan Naira, Riksa malah terkekeh. Sebenarnya dia pun tidak yakin kalau niat Samuel memperkerjakan Naira di kantor nya adalah untuk bekerja dalam arti yang sebenarnya.


"Sejujurnya Naira, aku bahkan tidak tahu tentang hal ini sampai tadi pagi ketika bos mengatakannya padaku, dan dia hanya bilang kalau aku harus mencarikan pakaian kerja untuk mu karena kamu akan menjadi sekertaris pribadi nya mulai hari ini!" jelas Riksa tapi sepertinya Naira malah semakin bingung dengan penjelasan Riksa itu.


Riksa menoleh ke arah Naira dan melihat gadis itu yang masih diam menatap bingung ke arahnya. Riksa kembali terkekeh melihat ekspresi Naira itu.


"Ck... Riksa, kamu tahu kan aku tidak sedang bercanda. Kenapa malah sejak tadi tertawa!" keluh Naira.


"Kenapa wajah mu seperti itu, aku pikir mungkin tugas mu hanya harus berada di sisi bos saja. Aku rasa begitu!" jelas Riksa yang malah membuat Naira melebarkan matanya.


"Benarkah? hanya itu?" tanya Naira takjub.


Riksa mengangguk kan kepalanya.


"Tentu saja, karena dia tidak mengurangi pekerjaan ku ataupun Dina, jadi kurasa pasti hanya untuk itu!" jelas Riksa lagi.


Naira terdiam, dia mulai berpikir, mungkin apa yang di katakan oleh Riksa itu memang benar, kini dia terlihat senang.


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di area parkir, sengaja Riksa tidak meminta Naira turun di depan lobi karena dia khawatir kalau Naira akan bertambah gugup dan canggung kalau berdiri sendirian dan menunggunya memarkirkan mobilnya.


Riksa mematikan mesin mobilnya, melepas sabuk pengaman dengan cepat lalu membuat pintu mobil, dia bahkan membukakan pintu mobil untuk Naira.


"Terimakasih!" ucap Naira.


"Sama-sama nyonya bos!" sahut Riksa.


Naira terkejut,

__ADS_1


"Eh, kenapa jadi nyonya bos?" tanya Naira yang tidak suka panggilan barunya itu.


"Perintah bos, jika di kantor maka aku harus memanggil ku nyonya bos!" jawab Riksa membuat Naira membulatkan mulut nya membentuk sebuah huruf O.


"Ayo!" ajak Riksa dan Naira mengikutinya.


Riksa mensejajarkan langkahnya dengan Naira memasuki lift menuju ke lantai dimana kantor Samuel berada.


Ting


Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, Naira dibuat sangat takjub dengan perusahaan Samuel ini. Sangat besar dan mewah, semua barang-barang yang ada di sepanjang koridor sangat bagus dan terlihat begitu mewah.


Sampai mereka tiba di sebuah pintu yang sangat besar dan bertuliskan 'CEO's office'. Riksa mengetuk pintu besar itu.


"Bos, boleh aku masuk?" tanya Riksa.


"Masuk!" sahut suara dari dalam.


Riksa dan Naira masuk ke dalam kantor Samuel, di dalamnya Naira dibuat lebih takjub lagi. Kantor Samuel benar-benar sangat bagus dan juga besar. Ada sofa putih besar dan kursinya terlihat bersinar, bersih rapi dan juga wangi.


Sementara Naira sibuk melihat sekeliling kantor Samuel ini, si pemilik kantor justru sedang memandangi Naira dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


Riksa yang melihat itu yakin, kalau bos nya memang sudah mulai menyukai istri kontrak nya itu.


Dan apa yang di katakan Riksa membuat Samuel mengalihkan perhatian nya dari Naira.


"Iya pergilah, cancel semua meeting hari ini!" perintah Samuel membuat Riksa menatap heran.


"Tapi bos, jam dua siang itu ada meeting dengan PT Asuransi, dan kita sudah meng-cancel nya kemarin!" jelas Riksa.


Riksa tahu mungkin bos nya akan marah, tapi dia harus mengatakan ini. Karena ini menyangkut masalah Asuransi perusahaan.


Samuel mendecakkan lidahnya.


"Oke, yang itu saja. Jam dua siang kan? keluar lah." seru Samuel.


Riksa mengerti, dan dia memutuskan untuk segera keluar dari kantor Samuel.


Setelah Riksa keluar, Samuel perlahan mendekati Naira, ada yang membuatnya tak bisa beralih dari istrinya itu. Penampilan Naira sangat berbeda, dia terlihat lebih cantik dan semakin menarik di mata Samuel.

__ADS_1


Sementara Naira masih memperhatikan satu persatu barang yang ada di dalam ruangan itu. Sampai dia tidak sengaja mendorong sebuah dinding yang ternyata adalah sebuah pintu.


"Eh, ini bisa terbuka!" gumam Naira terkejut.


Tapi karena takut Samuel akan marah, maka Naira milih untuk tidak membukanya.


"Tidak ingin tahu apa yang ada di dalam sana?" tanya Samuel yang sudah berada di belakang Naira.


Naira terkejut karena ketika dia berbalik Samuel sudah ada di belakangnya dan jaraknya sangat dekat.


"Eh, maaf mas. Aku cuma... cuma..!" Naira bingung mau bilang apa.


Dia memang sangat takjub dengan barang-barang di ruangan ini sampai dia tidak sadar kalau dia sedang bekerja.


"Jika sudah puas melihat-lihat maka aku akan jelaskan pekerjaan mu!" seru Samuel dengan nada suara serak dan itu membuat Naira merinding ketika mendengarnya.


Naira mulai gugup, dia tahu dirinya salah. Seharusnya dia langsung bertanya apa yang harus dia lakukan, tapi malah kepo dan melihat dan memegang barang-barang Yanga ada di ruangan ini.


"Dorong pintu itu!" perintah Samuel melirik ke arah pintu yang tadi terdorong sedikit oleh Naira.


Naira berbalik dan mendorong pintu itu, matanya terbuka lebar, dia bahkan menelan saliva nya dengan susah payah.


Ruangan itu seperti nya adalah ruangan istirahat Samuel, ada sebuah bed yang cukup besar dan terlihat sangat empuk. Lalu ada sebuah lemari dan sebuah lemari pendingin juga televisi besar.


"Mas... ini...!"


Belum selesai dengan apa yang ingin Naira katakan, Samuel sudah mendorong Naira masuk ke dalam ruangan itu dan mengunci pintunya dari dalam.


Naira yang terlihat bingung semakin bingung ketika Samuel melepaskan jas yang dia pakai, dan juga dasinya. Samuel terus maju ketika Naira melangkah mundur sampai terduduk di tepi tempat tidur.


"Mas, tapi ini di kantor... empt!" Naira baru saja akan mengajukan protes tapi bibir Samuel sudah membungkamnya.


Satu detik, dia detik, tiga detik...


"Pekerjaan pertama mu, melayani suami mu!" ucap Samuel yang langsung mendorong Naira hingga terjatuh di atas tempat tidur.


Naira sudah tahu apa yang inginkan suaminya itu, dia hanya diam dan menerima apapun yang dilakukan Samuel padanya.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2