
Author POV
Saat Naira dan ibu nya membuka pintu, beberapa warga sedang memapah Rama yang terlihat menahan sakit di kakinya.
"Astagfirullah, ayah kenapa ini?" tanya Anisa panik sambil menghampiri suaminya yang telah di bantu duduk di sofa ruang tamu.
"Maaf Bu Anisa, tadi itu pak Rama jatuh waktu bantu masang asbes di rumah Pandu, tadi sudah di urut sama Mbah Ranti, dan kata mbah Ranti sepertinya kakinya keseleo parah!" jelas Juki, salah seorang tetangga Rama.
Anisa langsung mendekati suaminya dan melihat kalau pergelangan kakinya memang sudah bengkak dan sedikit membiru. Perlahan Anisa menyentuh kaki Rama.
"Aduh Bu, sakit itu jangan di pegang!" seru Rama sambil meringis kan wajahnya menahan sakit pada pergelangan kakinya.
Saat Rama meringis, Naira dan juga Anisa meringis. Mereka seolah ikut merasakan kesakitan yang di rasakan oleh Rama. Ibras dan juga Samuel yang ikut keluar kamar mereka karena mendengar keramaian pun terkejut melihat keadaan Rama.
"Ayah! ayah kenapa?" Ibras dan Samuel sama-sama bertanya.
Tapi pandangan semua orang tertuju pada Samuel.
"Ayah?" tanya Firdaus salah satu orang yang berada paling dekat dengan Samuel.
"Oh, itu menantu saya pak Firdaus. Suaminya Naira!" jelas Rama yang terlihat masih menahan sakit.
Para tetangga yang hadir mengangguk anggukan kepala mereka.
"Oh jadi ini menantunya pak Rama, sepertinya selebriti ya?" tanya Juki.
Samuel malah mengernyitkan dahinya saat orang menatapnya kagum dan bersikap begitu ramah padanya.
"Ayah kenapa?" tanya Samuel lagi.
"Ayah jatuh saat memasang asbes tadi!" jawab ayah pada pertanyaan Samuel.
Rama lalu melihat ke arah para tetangga nya yang tadi sudah membantu nya dan membawa nya pulang, bahkan sebelum itu pak RT juga sudah membawanya ke tukang urut terbaik di komplek ini.
"Bapak-bapak, terimakasih banyak atas bantuan nya!" seru Rama pada para tetangga yang juga sedang memperhatikan apa yang ia katakan.
"Sama-sama pak Rama, sudah seharusnya kita saling membantu. Selama ini pak Rama juga sangat ringan tangan ketika kami salah satu warga membutuhkan bantuan jadi sudah sewajarnya kami membantu Pak Rama saat pak Rama mengalami kesulitan!" jawab Pak Firdaus.
__ADS_1
"Kenapa Ayah tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Samuel dengan raut wajah datar tapi tatapannya terlihat dingin.
"Tidak perlu nak Samuel, tadi kaki ayah sudah diurut dan pak RT juga tadi sempat menawarkan Ayah untuk dibawa ke rumah sakit tapi ayah menolaknya, saya rasa tidak perlu sampai seperti itu!" jelas Rama pada Samuel.
"Baik pak Rama, kalau begitu kami pamit dulu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu kami ya pak Rama!" seru pak Firdaus yang sepertinya terlihat sangat tulus ingin membantu Rama.
Rama hanya mengangguk dan mengulas sedikit senyum di bibirnya.
"Iya pak Firdaus, dan bapak-bapak yang lainnya terima kasih banyak ya!" ucap Rama lagi dengan sopan sambil melipat kedua tangannya di depan dada nya mengisyaratkan dia sangat berterima kasih atas bantuan para tetangganya yang baik hati itu.
Sementara para tetangga yang tadi sudah membantu Rama untuk pulang ke rumah sudah keluar dari rumah Naira, Samuel yang memang sejak tadi sudah memegang ponselnya segera menghubungi seseorang.
"Halo Riksa, bawa dokter Kartika kemari!" perintah Samuel dengan tegas.
"Ada apa bos? apakah kamu terluka?" tanya Riksa di seberang sana.
"Bukan aku, tapi ayah!" jawab Samuel.
"Loh bos, bukannya Om Damar sudah berangkat ke luar negeri bersama dengan tante Stella?" tanya Riksa lagi yang sepertinya salah mengira kalau yang dimaksud dengan panggilan Ayah oleh Samuel tadi itu adalah Ayah kandungnya bukan ayahnya Naira.
"Ck... ternyata percuma ya ayah dan ibuku menyekolahkanmu tinggi-tinggi, kamu masih tetap bodoh Riksa!" kesal Samuel.
"Maaf bos, jadi siapa yang terluka dan aku harus membawa dokter Kartika kemana?" tanya Riksa memastikan dia harus membawa dokter Kartika kemana dan dia menanyakan siapa yang sebenarnya terluka.
"Bawa ke rumah Naira, jelas?" tanya Samuel yang memastikan kalau Riksa benar-benar sudah mengerti apa yang dimaksud setelah dia menyebutkan nama Naira.
"Om Rama terluka? baik-baik bos aku akan segera membawa dokter Kartika ke rumahnya Om Rama sekarang juga!" seru Riksa lalu sepertinya terlalu panik dia tanpa sengaja memutuskan panggilan telepon dengan Samuel.
Menyadari panggilan telepon yang diputus sepihak oleh Riksa, Samuel mengerutkan dahinya lalu memandang layar ponselnya yang sudah menunjukkan gambar layar utama.
"Apa-apaan orang ini?" gumam Samuel tak terima.
Naira yang melihat Samuel sepertinya kesal lalu menghampirinya.
"Sabar mas, mungkin Riksa...!"
"Kalau mau membela lelaki itu sebaiknya kamu diam, dan ingat hal ini baik-baik Naira. Jangan pernah membela lelaki lain dihadapanku!" ucap Samuel dengan nada pelan namun penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Naira langsung terdiam dan mematung ditempatnya ketika Samuel mengatakan hal itu, dia jelas mengerti kalau saat ini Samuel sedang memberikan peringatan kepada nya.
Naira langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan dan menjawab apa yang dikatakan Samuel tadi.
"Iya mas, aku mengerti!" jawab Naira juga dengan suara yang pelan.
Sama seperti Samuel tadi, Naira tidak ingin kalau kedua orang tuanya mendengarkan apa yang menjadi percakapan yang barusan dengan Samuel.
Samuel lalu mendekati Rama lalu duduk di sebelah nya, dia memperhatikan seperti nya cidera pada pergelangan kaki Rama itu cukup serius.
"Ayah, cidera ayah ini sepertinya cukup serius, Riksa akan datang bersama dengan seorang dokter kemari. Jika dia mengatakan ayah harus dirawat di rumah sakit maka ayah tidak boleh menolak ya!" seru Samuel dengan wajah yang terlihat tegas.
Awalnya Anisa dan Rama tercengang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Samuel, tapi beberapa detik kemudian mereka saling pandang dan sama-sama tersenyum.
"Iya nak Samuel!" jawab Rama sambil tersenyum senang.
Pria paruh baya itu senang karena menantunya begitu perhatian kepadanya, hal ini juga meyakinkan dirinya bahwa pernikahan putrinya dengan menantunya ini dirasakan sangat bahagia, meskipun dia selalu mendengar selentingan dari kanan dan kiri kalau pernikahan putrinya ini seperti mimpi. Dan banyak yang meragukan kalau menantunya memang benar-benar mencintai putrinya itu.
Tapi setelah apa yang dia lihat dan dengar sendiri apa perkataan Samuel, Rama bisa yakin kalau menantunya ini benar-benar menyayangi Naira bahkan juga semua anggota keluarga Naira termasuk dirinya sebagai orangtua Naira.
Setelah memastikan kalau ayahnya baik-baik saja, Naira kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan makan malam. Tapi saat Nayla akan melangkahkan kakinya tangannya ditahan oleh Samuel.
"Mau kemana?" tanya Samuel.
"Masak mas, untuk kita semua makan malam nanti!" jawab Naira seadanya.
"Baiklah, aku bantu!" jawab Samuel lalu menggandeng tangan Naira menuju dapur.
Saat anak dan menantunya menuju ke arah dapur. Rama dan Anisa kembali saling pandang selama beberapa detik sambil melihat kepergian Naira dan Samuel menuju ke dapur.
"Siapa yang bilang Bu? Naira tidak akan bahagia, lihat! anak dan menantu kita begitu saling menyayangi!" gumam Rama pelan.
Dan Anisa hanya mengangguk, menanggapi apa yang dikatakan oleh suaminya.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...