
Saat ini aku dan Samuel sudah berada di dalam pesawat. Pesawat yang kami tumpangi sudah lepas landas sekitar setengah jam yang lalu. Samuel terlihat sudah tidak sabar untuk memberi kejutan pada pacar nya, dan sebenarnya aku tidak perduli itu. Samuel langsung meraih sebuah majalah yang di sampulnya terlihat gambar Caren Maida, seorang designer muda berbakat dari negara kami.
Awalnya seorang pramugari menawariku juga beberapa majalah, tapi aku lebih memilih untuk duduk diam saja. Karena kalau aku membaca dalam perjalanan biasanya aku akan pusing. Meskipun hal itu hanya akan terjadi jika aku menaiki mobil, tapi kurasa naik pesawat sama saja. Dan beberapa menit kemudian aku merasa kalau aku harus ke toilet.
Aku melihat ke sekitar, tapi sepertinya aku memang harus minta tolong pada si lidah tajam untuk menunjukkan padaku dimana letak toiletnya.
"Tuan!" aku memanggil si lidah tajam itu.
Dia hanya menoleh sekilas lalu bertanya.
"Apa?" tanya nya garang.
Aku jadi enggan bicara lagi padanya, tapi aku memang harus ke toilet.
"Tuan, aku mau ke toilet!" ucap ku pelan.
"Lalu? kenapa bilang padaku?" tanyanya kesal.
"Tuan aku tidak tahu dimana toiletnya!" jawab ku. Karena memang itulah masalah ku. Aku baru pertama kali naik pesawat, dan aku tidak tahu dimana letak toiletnya.
Samuel terlihat kesal, tapi kemudian dia memanggil seorang pramugari yang berada tak jauh dari tempat duduk kami.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari itu dengan sangat sopan.
"Iya, tolong antar kan perempuan ini ke toilet!" seru Samuel.
__ADS_1
Aku jadi sedikit canggung pada pramugari yang seperti nya wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa. Dia seperti nya berharap Samuel yang meminta bantuan nya.
Meskipun begitu, dia tetap menundukkan kepalanya sopan dan tetap tersenyum pada Samuel.
"Baiklah, mari nyonya!" ucap pramugari itu dan langsung menunjukkan jalannya padaku.
Aku berdiri dari kursi ku dan segera mengikuti langkah dari pramugari itu.
"Disini nyonya, silahkan!" ucap nya terdengar sopan meski wajahnya tidak seceria tadi saat dia berbicara dengan Samuel.
Aku masuk ke dalam sebuah ruangan kecil, yang seperti toilet, karena ini memang toilet. Beberapa saat kemudian setelah aku menuntaskan apa yang sejak sepuluh menit yang lalu aku tahan, aku langsung membuka pintu toilet dan keluar dari sana.
Tapi saat beberapa langkah aku meninggalkan ruangan itu, aku melewati sebuah ruangan lain yang pintunya tidak menutup dengan sempurna.
"Ih kesel banget tahu gak! aku kira tuan Samuel tuh manggil aku minta dibuatin kopi atau apalah, gak tahunya cuma suruh nganterin perempuan aneh yang lagi sama dia itu, siapa sih perempuan itu? masa' ya! toilet aja gak tahu letaknya dimana, kampungan banget kan!" ucap seorang wanita yang tadi mengantarkan aku ke toilet.
"Gak mungkin lah dia istrinya, kan gosip nya tuh tuan Samuel yang punya perusahaan otomotif terbesar di kota C itu kan pacarannya sama Caren itu lho, yang dulunya model tapi sekarang jadi designer perhiasan itu!" ucap pramugari tadi lagi.
"Ih tahu banget deh kalau gosip. Udah ah.. aku mau nganter minuman dulu ya ke penumpang di dalam!" sahut pramugari yang sejak tadi selalu berfikiran baik.
Aku cepat-cepat pergi dari tempat itu dan kembali ke tempat duduk ku.
"Aku kira kamu kesasar!" celetuk Samuel begitu saja.
Aku hanya tersenyum canggung dan kembali membenarkan posisi duduk ku. Aku berfikir, benar juga apa yang dikatakan oleh pramugari tadi. Siapa yang akan percaya kalau aku ini adalah istri dari seorang Samuel Virendra. Samuel itu terlihat begitu gagah dan juga berwibawa, sedangkan aku malah terlihat seperti apa yang di katakan oleh pramugari itu, kampungan.
__ADS_1
Aku menghela nafas ku panjang, aku mengingat lagi apa yang dulu pernah Puspa katakan padaku, dia harus bekerja keras untuk merubah ku menjadi seperti apa yang disukai Samuel. Awalnya aku memang tidak begitu perduli pada hal itu. Tapi sekarang kurasa aku memang harus mendengarkan saran Puspa itu, agar setidaknya untuk satu tahun ini aku tidak mempermalukan Samuel karena terlalu terlihat kampungan.
"Tuan sudah sering menemui nona Caren?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut ku.
Tapi Samuel malah langsung menoleh meninggalkan bacaan beratnya, yang semuanya adalah tentang prestasi seorang designer cantik bernama Caren Maida.
"Maksud mu?" tanya nya sambil menunjukkan ekspresi datar.
Aku juga merasa kalau apa yang aku katakan ini adalah kalimat yang ambigu. Baiklah, aku rasa pertanyaan ku harus sedikit aku perbaiki.
"Maksud ku apa tuan sering ke Singapura dan menemui nona Caren?" tanya ku merevisi pertanyaan pertama ku tadi. Kalau yang ini kurasa pertanyaan ku cukup jelas.
Tapi Samuel malah menggelengkan kepalanya, aku jadi tidak mengerti.
"Tidak, ini pertama kalinya. Aku sempat ingin beberapa kali menemuinya. Tapi dia bilang kalau aku melakukan itu maka aku akan membuat ibu ku jadi semakin marah padanya, dan setelah aku pikirkan apa yang dia katakan itu, kurasa dia memang benar. Aku sudah mengatakan kalau aku sudah putus dengan Caren pada ibuku, jadi kalau aku masih menemuinya mungkin ibuku akan semakin tidak menyukai Caren!" jelas Samuel panjang lebar.
Aku memperhatikan setiap kata demi kata yang Samuel ucapkan, tapi yang paling aku perhatikan adalah baru kali ini Samuel bicara dengan kalimat yang begitu panjang seperti ini padaku. Di tambah lagi, dengan suara yang pelan dan tidak membentak.
Aku sungguh makin di buat penasaran, seperti apa sih wanita bernama Caren Maida itu. Sampai dia bisa membuat seorang yang menurut ku begitu arogan dan keras kepala seperti Samuel Virendra begitu mencintai nya.
Tapi masih ada yang mengganggu pikiran ku, kalau Caren begitu bijaksana sampai dia berkata seperti itu dan memikirkan hubungan Samuel dengan ibunya. Dari apa yang dikatakan oleh Samuel bukankah terdengar kalau Caren itu begitu menghargai perasaan ibu Stella, tapi kenapa justru dia bersikap kasar dan kurang ajar pada ibu Stella dan kakeknya Samuel.
'Ck... atau jangan-jangan, nona Caren itu hanya baik dan menghargai ibu Stella di depan Samuel saja, di belakang Samuel tidak?' tanya ku dalam hati.
Jika dugaan ku ini benar, aku rasa nona Caren itu sama saja dengan perempuan yang kemarin datang dan marah-marah di rumah ku. Perempuan yang sama yang tadi pagi memaki pak Ranu di depan pintu gerbang.
__ADS_1
***
Bersambung...