
Kami sudah kembali ke rumah, ku pikir hanya aku saja yang akan pulang. Karena tadi siang Dina bilang padaku kalau Samuel banyak sekali pertemuan penting hari ini.
Setelah mengantar kami sampai di rumah, Samuel meminta pak Urip untuk pulang ke kediaman Virendra. Bukankah itu artinya Samuel tidak akan ke kantor lagi.
Saat kami pulang, ibu belum pulang. Dan ayah yang baru saja keluar dari dalam kamar. Terkejut melihat lutut kanan ku berbalut perban dan jalan sedikit tergopoh di bantu oleh Samuel berjalan masuk ke dalam rumah.
Sambil menekan pedal maju pada kursi roda otomatis nya, ayah menghampiri ku dan Samuel.
"Naira, kamu kenapa? apa yang terjadi. Nak Samuel, Naira kenapa?" tanya ayah dengan bertubi-tubi. Ayah terlihat sangat panik dan khawatir.
Samuel membantu ku duduk di ruang tengah, lalu mendekati ayah dan membantu mendorong kursi roda ayah mendekat ke arah ku.
"Gak papa kok yah, tadi itu gak sengaja jatuh pas mau nyamperin mobil pak Urip. Naira kurang hati-hati aja. Maaf bikin ayah cemas begitu!" ucap ku pada ayah.
Setelah aku mengatakan hal itu pada ayahku. Ayah terlihat menghela nafas lega, setelah sebelumnya dia juga sempat memeriksa luka di telapak tangan ku yang memang hanya lecet ringan saja. Meski berdarah awalnya, tapi setelah di beri gel di rumah sakit tadi, sudah tidak terasa sakit lagi. Apalagi sudah minum obat pereda nyeri, lutut ku juga rasanya sudah tidak nyeri lagi.
"Lain kali harus hati-hati Naira. Jangan menyulitkan nak Samuel!" seru ayah.
Aku mengangguk paham, dan Samuel terlihat ikut duduk di sebelahku.
"Tidak sama sekali ayah, Naira kan istriku. Oh ya, ada yang ingin aku sampaikan pada ayah. Nanti malam dan selama dua hari ke depan, aku akan mengajak Naira ke Bali untuk perjalanan bisnis. Apakah ayah mengijinkan nya!" ucap Samuel sopan pada ayahku.
'Astaga, apa ikan bakar ku sudah meluluhkan hatinya. Cara bicaranya lembut sekali, dia bahkan meminta ijin pada ayah. Ini mimpi bukan sih?' tanya ku dalam hati.
Ayah hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh Samuel. Ayah menepuk perlahan bahu dari Samuel.
"Apa yang kamu katakan nak? kamu adalah suami Naira, kamu tidak perlu meminta izin kepada Ayah untuk pergi membawa Naira. Naira sudah merupakan tanggung jawab kamu sepenuhnya. Tapi ayah juga sangat senang karena kamu masih menghormati ayah, kalian pergilah. Ayah akan selalu mendoakan keselamatan serta kesuksesan untukmu, dan kalian berdua!" ucap ayah dengan sangat diplomatis.
Entah kenapa setiap mendengar suara ayah yang sangat mirip dengan penyanyi dangdut terkenal opa Hamdan ATT itu, selalu membuat hatiku menjadi sejuk dan pikiranku menjadi damai. Mungkin kalau pada masa Ayah sudah ada audisi audisi di televisi itu. Aku yakin ayah akan menang, dan pasti sekarang aku sudah menjadi anak seorang penyanyi.
Tapi setelah dipikir lagi kalau Ayah dulunya terkenal dan menjadi seorang penyanyi, apa mungkin Ayah bertemu dengan ibu yang hanya anak seorang penjaga kantin sekolah. Kalau sampai Ayah tidak bertemu ibu, lalu bagaimana aku dan ibras akan menjadi anak mereka. Terkadang otakku ini aneh.
__ADS_1
Samuel hanya tersenyum mendengar perkataan ayah. Samuel lalu pamit untuk masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa nanti malam ke perjalanan bisnis kami ke Bali. Padahal tadinya dia menugaskan aku untuk melakukan semua itu, tapi karena tanganku yang masih terluka dan masih ada olesan gel di atasnya, dia bilang dia yang akan membereskan barang-barang kami.
Dan karena kesempatan ini sangat langka, maka aku membiarkan Samuel untuk melakukan. Bahkan saat dia pergi menuju kamar, aku jadi senyum-senyum sendiri melihatnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? apa itu sama sekali tidak sakit nak?" tanya ayah yang penasaran sepertinya kenapa disaat tangan dan lutut ku terluka aku malah senyum senyum sendiri.
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak ayah, mas Sam memberikan obat yang paling bagus dan paling mahal di klinik tadi, apa ayah tahu dia yang menebus resep obatnya!" ucap ku menjelaskan pada ayah.
Tapi setelah aku mengatakan semua itu Ayah malah menatapku heran.
"Loh, bukannya memang tugas seorang suami ya seperti itu!" kata ayah.
Aku langsung terkesiap. Benar juga, itu memang adalah tugas suami pada umumnya. Tapi kalau Samuel kan berbeda. Dia itu pernah menuliskan di surat kontrak perjanjian kami, kalau aku ini sebagai istri kontraknya hanya boleh melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Dan tidak berhak sama sekali untuk menuntut hak apalagi memintanya, dan Samuel juga tidak perlu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami selain memberikan uang bulanan kepadaku. Tapi aku merasa semakin kesini Samuel semakin baik saja, entahlah itu hanya perasaanku saja atau bukan. Tapi aku memang merasa seperti itu.
"Lalu kenapa senyum-senyum?" tanya ayah lagi.
Sepertinya jawaban yang aku utarakan barusan belum cukup untuk ayah.
Ayah pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda kalau dia sudah paham apa yang aku maksud.
"Tapi lain kali tidak boleh begitu ya nak, seorang istri itu punya kewajiban menurut dan melayani dengan baik semua kebutuhan suamimu. Jadi jangan terbalik, dia yang melayani mu!" ucap ayah.
Tapi apa yang dikatakan oleh ayah itu justru membuatku mengernyitkan dahi. Masalahnya aku kan sudah hidup bertahun-tahun dengan ayah dan ibuku, dan sejauh yang aku tahu dan yang aku lihat juga yang aku dengar, ayah malah lebih banyak mengalah dan melayani ibu.
Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk paham. Padahal aku ingin sekali tertawa mendengar apa yang aku katakan.
***
Malam harinya...
__ADS_1
Luka di tanganku sudah membaik. Ayah, ibu dan juga Ibras mengantarkan aku dan mas Samuel menuju ke mobil karena kami sudah akan berangkat ke bandara menuju ke Bali.
"Hati-hati ya nak!" ucap ibu dan ayah.
"Jangan lupa oleh-oleh nya ya kak, kakak ipar!" seru Ibras yang langsung mendapatkan pukulan manis di lengannya dari ibu.
Kami masuk ke dalam mobil lalu Pak Urip pun melajukan kendaraannya menuju ke bandara.
"Nanti saat berada di sana, sebaiknya kamu jangan ke mana-mana ya, di hotel saja!" seru Samuel tiba-tiba.
"Memang aku bisa kemana mas?" tanya ku sambil tersenyum.
"Oh iya, aku lupa. Aku akan transfer uang bulanan untuk mu. Agar kamu bisa membeli oleh-oleh untuk adikmu nanti di sana!" ucap Samuel lalu meraih pasalnya dari dalam saku jaketnya.
Dia mengetik sesuatu di layar ponselnya dan tak berapa lama kemudian ponselku berbunyi. Aku juga langsung mengambilnya dari dalam tas yang ada di sampingku. Ada sebuah pesan notifikasi dari bank.
Mataku terbuka sangat lebar ketika melihat angka nol dibelakang angka satu.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan... !" aku tak dapat melanjutkan ucapanku.
Aku langsung melihat ke arah Samuel yang sepertinya bersikap sangat santai setelah mengirimkan uang sebanyak itu ke rekeningku.
"Mas, ini mas gak salah ketik angka nol nya?" tanya ku yang masih tak percaya.
Tapi Samuel langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, anggap saja bonus untuk makan siang mu tadi!" jawab Samuel.
Aku kembali menatap layar ponselku dan kembali menghitung angka nol dibelakang angka satu yang jumlahnya ada 9. Aku belum pernah melihat jumlah tabungan ku sebanyak itu, mentok nol di belakang angka satu hanya 6. Tapi ini... 9.
'Hah, luar biasa!' gumam ku dalam hati sangat takjub.
__ADS_1
***
Bersambung...